PERINGATAN: Tulisan ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Siapa pun yang terpikir untuk melakukan bunuh diri, jangan sungkan berkonsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikolog dan psikiater, atau ke klinik kesehatan mental. Ingatlah, bahwa mencari bantuan bukan berarti anda lemah dan bukan pula aib.
MALANG – Akibat masalah asmara, seorang pemuda memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, Sabtu (30/12).
Pemuda itu adalah R, 19, warga Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang.
Kapolsek Wonosari, AKP Anwari Sidiq menjelaskan, korban diketahui pertama kali oleh sang ibu sekitar pukul 03.00 di belakang rumahnya.
Ayah korban sedang berjaga di pos ronda kampung.
Ketika ditemukan ibunya, leher korban tergantung di blandar belakang rumah dengan tali tampar.
”Jam diketahuinya jam 03.00. Saksi teriak-teriak minta tolong dan didengar warga. Untuk jam berapa korban melakukan aksinya belum diketahui,” ujarnya.
Oleh tetangga sekitar, tubuh korban diturunkan dari tali tampar.
Namun, nyawanya sudah tidak tertolong.
Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan beberapa pesan dalam handphone-nya.
Pesan itu berisi percakapan antara R dan pacarnya.
Isi pesan tersebut adalah pertengkaran.
“Tadi intinya itu malam chatting-an sama pacarnya, intinya udah mau putus. Terus akhirnya R memilih gantung diri,” terang Sidiq.
Selain itu dari ponsel R juga ditemukan percakapan lama.
Ternyata, R sudah beberapa kali berupaya untuk menyakiti diri sendiri karena masalah asmara dengan pacarnya.
”Kalau nggak sesuai dengan keinginannya, dia (korban R) mengancam bunuh diri,” ungkapnya.
Diduga, setiap ada masalah dengan pacarnya, R selalu mengancam bunuh diri.
Bahkan, percakapan terakhir menunjukkan, R mengancam menusukkan parang ke perutnya sendiri.
Ia juga kerap mengirim foto-foto luka ke pacarnya.
Sehingga, kesimpulan sementara, dugaan terkuat penyebab R bunuh diri adalah karena diputus oleh pacarnya.
Keluarga juga sudah mengikhlaskan apa yang terjadi pada R.
Mereka menerima ini sebagai musibah dan tidak menyalahkan siapapun.
Pernyataan tersebut dituangkan dalam surat tertulis, dengan disaksikan oleh kepala dan perangkat desa. (pri/fin)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana