Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Heatwave 2024 di Indonesia, Pakar Geofisika UB : Minimnya Pertumbuhan Awan

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 27 Mei 2024 | 19:22 WIB
Data BMKG yang menunjukkan adanya peningkatan suhu secara signifikan pada Januari-April 2024 dibandingkan rata-rata suhu tahun 1991-2020
Data BMKG yang menunjukkan adanya peningkatan suhu secara signifikan pada Januari-April 2024 dibandingkan rata-rata suhu tahun 1991-2020

MALANG - Fenomena heatwave pada 2024 di berbagai wilayah Indonesia menandakan adanya anomali iklim. 

Prof. Adi Susilo, guru besar Geofisika Universitas Brawijaya, menjelaskan bahwa fenomena heatwave yang melanda Indonesia belakangan ini disebabkan oleh kurangnya pertumbuhan awan.

Awan yang sangat sedikit membuat sinar matahari langsung mengenai permukaan tanpa hambatan.

Peristiwa iklim itu memicu peningkatan suhu yang signifikan dan memunculkan fenomena heatwave.

Fenomena ini diperkirakan akan berlanjut hingga Oktober mendatang.

"Meskipun dalam musim panas dan adanya anomali iklim El Nino, masih ada kemungkinan hujan terjadi, namun tidak dalam intensitas yang dapat menyebabkan banjir," ujar Prof. Adi Susilo, Senin (27/5) dalam keterangan tertulis UB.

Prof. Adi menambahkan bahwa dari sudut pandang kehidupan sehari-hari, suhu yang sangat panas ini tidak baik untuk kesehatan dan aktivitas luar ruangan.

Oleh karena itu, disarankan untuk memakai pakaian berlengan dan menghindari pakaian berwarna gelap atau hitam yang dapat menyerap panas.

Penggunaan payung dan topi juga dianjurkan untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari.

Cuaca ekstrem ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melanda negara-negara ASEAN lainnya.

Beberapa wilayah perkotaan sangat merasakan dampaknya.

Misalnya, akhir April lalu, suhu di Manila, Filipina mencapai 38,8 derajat Celsius, mencatat rekor tertinggi.

Pada 22 April, Bangladesh mencatat suhu 43 derajat Celsius, memaksa penutupan sekolah dasar.

Laos juga mencatat suhu tertinggi sepanjang masa sebesar 43,2 derajat Celsius di bulan yang sama.

Di Thailand, suhu mencapai 52 derajat Celsius, menyebabkan 61 kematian akibat heatstroke.

Di Indonesia, dampaknya belum terlalu signifikan.

Prof Adi Susilo, pakar Geofisika Universitas Brawijaya
Prof Adi Susilo, pakar Geofisika Universitas Brawijaya

BMKG menyatakan bahwa cuaca panas di Indonesia merupakan hasil dari peralihan musim hujan ke musim kemarau dan gerak semu matahari yang terjadi setiap tahun.

Gelombang panas ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk gerak semu matahari yang menyebabkan penyinaran terik di wilayah Asia Tenggara pada akhir April dan awal Mei.

Serta anomali iklim El Nino 2022/2024 yang dapat meningkatkan suhu hingga 2 derajat di atas normal.

Faktor lain yang turut berkontribusi adalah pemanasan global yang menyebabkan peningkatan suhu dari tahun ke tahun.

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#indonesia #UB #heatwave #2024