KEPANJEN – Jalur kereta api KM 68 di Kecamatan Kepanjen kembali memakan korban.
Kali ini korbannya adalah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang biasanya berkeliaran di lokasi tersebut.
Peristiwa kecelakaan terjadi pada Minggu malam (15/2) namun identitasnya baru diketahui kemarin (16/2).
Korban bernama Nariyo, 62, warga Desa Panggungrejo, Kecamatan Kepanjen.
Informasi yang dihimpun di lokasi, sekitar pukul 23.30 Nariyo berseliweran di kawasan tersebut.
Tak berselang lama, Kereta Api (KA) Komputer Line Dhoho 408 jurusan Kertosono Surabaya melintas dan menyerempet tubuh korban.
Seketika itu korban meninggal di lokasi kejadian.
Sebelum melintasi tempat kejadian perkara (TKP), masinis KA Komputer Line Dhoho 408 melihat ada seseorang duduk di atas rel.
Dia tidak beranjak meskipun jarak dengan kereta tapi semakin dekat, sampai 100 meter.
Masinis sempat beberapa kali membunyikan klakson, namun Nariyo tidak beranjak, sehingga tubuhnya terpental sekitar 2 meter dari lokasi terserempet.
“Kami menemukan jasadnya area persawahan dan sudah dalam keadaan meninggal dunia,” ujar Kapolsek Kepanjen AKP Subijanto.
Korban segera dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, Kepanjen.
Luka yang diderita korban adalah luka benturan di kepala sebelah kanan, daun telinga kanan putus, dan luka-luka pada lengan kiri dan kanan, serta pergelangan kaki kiri dan kanan.
Kemarin jenazah korban sudah diambil oleh keluarganya untuk dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat.
Subijanto mengatakan, anak korban, Andrianto, 43, warga Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen membenarkan bahwa jasad yang terserempet kereta itu merupakan ayahnya.
Berdasarkan pengakuan Andriyanto kepada aparat kepolisian, korban sudah lama kabur dari rumah.
”Kisaran sepuluh tahun lebih kabur dari rumah, sejak istri korban meninggal dunia. Andrianto selama ini tidak pernah tahu keberadaan Ayahnya dan baru mengetahui setelah meninggal terserempet kereta,” kata dia.
Keterangan bahwa korban merupakan ODGJ juga diakui Andrianto.
Meskipun tidak pernah bertemu, dirinya kerap mendengar kabar dari saudara dan tetangga bahwa ayahnya sering tidur berpindah-pindah tempat.
Mulai di teras toko dan depan rumah warga.
“Terakhir warga sering melihat korban di sekitar rel kereta hingga kecelakaan maut ini terjadi,” pungkas Subijanto. (aff/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana