Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mesdiono, Tak Bisa Berteriak meski Tahu Warga Mencarinya

Fathoni Prakarsa Nanda • Jumat, 21 Maret 2025 | 18:44 WIB
Ilustrasi Orang Hilang
Ilustrasi Orang Hilang

KAMIS siang (20/3), rumah keluarga Mesdiono di RT 21/ RW 5, Dusun Bara’an, Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang tampak didatangi beberapa kerabat dan tetangga.

Mereka ingin mengetahui kondisi pria 35 tahun itu setelah hilang selama sepekan.

Termasuk cerita bagaimana dia bertahan tanpa makanan dan minuman di dalam Hutan Gentaru.

Sayang, meski kondisinya sudah tidak terlalu lemas, Mesdiono belum bisa bercerita banyak.

Bicaranya singkat-singkat.

Matanya masih kerap menunjukkan tatapan kosong.

Sembari duduk di kursi ruang tengah, dia dibantu keluarganya untuk menceritakan peristiwa yang telah dialami.

Sesekali Mesdi juga ikut menimpali.

Mesdi dinyatakan hilang saat mencari rumput pada Kamis pekan lalu (13/3), Awalnya dia berangkat sekitar pukul 09.30.

Kegiatan itu sudah menjadi aktivitas rutin Mesdi untuk memberi makan lima kambing peliharaannya.

Dengan membawa peralatan berupa karung dan arit, dia menuju area persawahan dengan berjalan kaki.

”Tempat dia mencari rumput itu mungkin sekitar satu kilometer dari sini ke arah utara,” kata ayah korban, Kabul, 71.

Di tengah aktivitas mencari rumput itulah, Mesdi mengaku tiba-tiba tidak sadar.

Tahu-tahu dia merasa ada orang berambut panjang yang menuntunnya berjalan ke Alas Gentaru.

Jarak hutan itu sekitar 1 kilometer dengan permukiman warga, berimpitan dengan area persawahan.

Lelaki berkumis itu mengaku tidak ingat berapa hari dia berada di dalam hutan.

Kalau siang, dia hanya berjalan ke sana kemari.

Sedangkan kalau malam dia tidur di alam terbuka.

”Alas untuk tidur itu tumpukan kayu,” kata Mesdi melengkapi cerita yang dituturkan ayahnya.

Mesdi bahkan tahu kalau sejak hari pertama hilang sudah banyak orang yang mencarinya ke dalam hutan.

Tapi dia tidak bisa berteriak meminta tolong.

Begitu juga warga yang mencari.

Mereka tidak mengetahui keberadaan Mesdi.

”Katanya dia tidak makan dan minum selama di hutan,” imbuh Kabul.

Saat anak kelimanya itu tidak pulang hingga magrib, Kabul dan warga memang langsung melakukan pencarian.

Diperkirakan lebih dari 100 warga melakukan pencarian dengan membawa berbagai peralatan.

Seperti kentungan, panci, hingga tampah untuk membuat bunyi-bunyian.

Penyisiran tak hanya dilakukan pada area persawahan, tetapi juga sampai masuk kawasan hutan.

Namun Mesdi tak pernah ditemukan.

”Kurang lebih area pencarian mencapai 5 kilometer,” katanya.

Keberadaan Mesdi justru diketahui dengan tidak sengaja.

Rabu lalu (19/3) yang merupakan hari ketujuh setelah menghilang, Mesdi tiba-tiba menampakkan diri di persawahan.

Jaraknya sekitar 350 meter dari titik dia biasa mencari rumput.

Sore itu, sekitar pukul 15.30, Rusemin yang merupakan Ketua RT 21/RW 5 hendak pergi ke sawahnya.

Pria berusia 60 tahun tersebut berencana mengambil panen terong dan buncis.

Rusemin sempat membatalkan niat pergi ke sawah karena hujan, tapi kemudian tetap berangkat menggunakan motor.

Ketika berjalan ke arah gubuk di tengah sawah, dia mendengar suara orang meminjam korek api.

”Nyambut korek e Pak Rus,” ujarnya menirukan suara Mesdiono.

Suara itu datang dari sawah bagian bawah yang bentuknya teras siring.

Rusemin terbelalak ketika tahu bahwa yang memanggilnya adalah Mesdi.

Apalagi kondisinya baik-baik saja.

Rusemin lantas mengajak Mesdi beristirahat di gubuk dan menanyakan kabar.

”Setelah itu saya bujuk agar merokok di rumah saja. Sekalian biar mudah membawanya pulang,” katanya.

Karena Mesdi tampak sehat, Rusemin sempat memintanya membawakan hasil panen terong ke tempat parkir motor di tepi sawah.

Setelah itu, keduanya berbonceng an pulang.

Namun, sesampainya di rumah dan turun dari motor, korban langsung lemas dan tak berdaya.

Rusemin merasa janggal dengan apa yang baru saja dia alami.

Sebab, sebelum nya Mesdi kuat memanggul terong dan terlihat baik-baik saja.

Keanehan yang lain, baju Mesdi tak basah dan rokoknya tetap kering.

Padahal sebelumnya terjadi hujan deras.

Saat ditanya lagi, Mesdi mengaku sampai di persawahan kembali pada siang hari.

”Sebelum bertemu dengan Pak Rus, saya pingsan dua kali di sana,” ujarnya.

Dari cerita keluarganya, Mesdiono ternyata pernah hilang sekitar delapan tahun lalu.

Namun saat itu berhasil di temukan dalam kurun waktu satu hari satu malam di dusun sebelah.

Pihak keluarga pun menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang turut dalam upaya pencarian.

Koordinator Unit Siaga SAR Malang Raya Yoni Fariza mengungkapkan, korban selalu bergerak ketika berada di dalam hutan.

Hal itulah yang menyebabkan pencarian sulit dilakukan.

”Kami melakukan pencarian dengan radius sekitar 2-3 km,” terangnya.

Terkait alasan Mesdi bisa survive, Yoni menduga arena vegetasi hutan tersebut berupa perkebunan.

Ada pohon alpukat, durian, juga tanaman umbi-umbian dan mata air.

”Di satu titik pernah ditemukan satuta naman mbothe yang digali,” tandasnya. (*/fat)

Editor : A. Nugroho
#desa pait #orang hilang #pencari rumput #Kabupaten Malang