Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Di Balik Monumen Sungai Metro Kepanjen yang Menyimpan Kisah Tewasnya 49 Pekerja akibat Kecelakaan

Mahmudan • Senin, 9 Juni 2025 | 16:23 WIB
TRAGEDI PILU: Monumen Sungai Metro masih berdiri kokoh di utara jembatan, tak jauh dari wisata Pemandian Metro, Kepanjen.
TRAGEDI PILU: Monumen Sungai Metro masih berdiri kokoh di utara jembatan, tak jauh dari wisata Pemandian Metro, Kepanjen.

 

Jenazah Tergencet, Patah, hingga Terseret Arus Sungai.

40 tahun silam, 49 pekerja meninggal dunia di bawah jembatan Sungai Metro, Kepanjen. Nama para korban diukir dalam monumen tak jauh dari lokasi kejadian. Bagaimana kisah pilu yang merenggut nyawa puluhan pekerja pada sore itu?

MONUMEN setinggi 20 meter lebih menjulang membelah rimbunnya pepohonan di sungai Metro, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen. Lokasinya hanya sepelemparan batu dari jembatan Metro.

Ujung bangunan monumen membentuk dua sayap mengepak yang dipisah plakat berwarna kuning keemasan. Plakat berbahan semen bercampur tersebut berisi tulisan "Korban Kecelakaan Metro 21-11-1985". Di bawahnya ada 49 nama yang tersusun berderet.

Mereka adalah korban kecelakaan tunggal. Semuanya laki-laki dan berstatus sebagai pekerja proyek pembangunan Bendungan di Desa Sengguruh, Kepanjen.

Tak banyak saksi mata yang masih hidup dalam peristiwa kelam pada 21 November 1982 itu. Seorang karyawan di wisata Pemandian Metro menyebut masih ada dua saksi mata dan keduanya sudah lanjut usia (lansia).

Salah satunya Rawi, 79 tahun. Kakek yang usianya setengah abad lebih itu berdomisili di Dusun Sukun, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen.

Rumahnya berjarak sekitar 40 meter dari monumen tragedi sungai Metro. Dia adalah satu dari puluhan warga yang menyaksikan peristiwa mengenaskan tersebut.

“Sebenarnya saksi mata ada banyak. Tapi tinggal saya dan Pak Warikun yang masih hidup. Dia tinggal di seberang sungai Metro,” kata Rawi ditemui di rumahnya RT 7 RW 5 Dusun Sukun.

Sembari memandang ke arah jembatan, lansia yang sehari-harinya berjualan ubi itu menceritakan tragedi kelam pada 40 tahun silam.

Sekitar pukul 16.00, kala itu ia sedang bermain dengan keponakannya yang masih kecil di tepi Jalan Raya Kepanjen. Cuacanya cerah.

Lalu lintas juga tidak ramai. Sore itu, dia melihat truk melaju kencang dari arah timur, Kota Kepanjen menuju ke barat, arah Blitar. Truk dengan bak tertutup kanopi itu berisi puluhan penumpang.

Semuanya merupakan pekerja proyek pembangunan Bendungan Sengguruh. Samar-samar dia mengingat, truk yang penuh penumpang itu memiliki moncong atau kap mesin panjang.

Dia memperkirakan antara merek Mercedez Benz atau Isuzu yang bermoncong. Kondisinya begitu berjubel orang. Total ada 51 orang di dalam truk, baik di kabin maupun bak belakang.

Tiba-tiba truk kehilangan kendali di jalan menurun mendekati jembatan sungai Metro.

“Dulu jembatannya hanya satu yang di sebelah pemandian. Kemungkinan rem blong, kemudian menabrak pagar pembatas dan kendaraan terjun ke dasar sungai di kedalaman sekitar 20 meter,” tutur Rawi.

Suara benturan antara truk dengan pembatas jembatan terdengar sampai 100 meter dari lokasi kejadian. Warga pun keluar ke jalan dan melihat ke arah jembatan.

Beberapa warga menyaksikan truk sempat terguling-guling sebelum akhirnya terperosok ke dasar sungai.

Sedangkan puluhan orang berjatuhan dari bak belakang truk, seperti barang yang ditumpahkan dari wadah. Bangkai truk dipenuhi jenazah bergelimpangan.

“Kondisinya sudah tidak karuan. Ada yang penyet, ada yang patah, macam-macam. Bahkan ada yang hanyut ke sungai,” imbuh pria berambut panjang yang semuanya sudah memutih itu.

Ajaibnya, ada dua orang yang selamat. “Kemungkinan pada saat truk sudah keluar jalur, dua orang itu melompat dan mendarat di pepohonan pisang. Jadi hanya luka baret-baret,” tambah dia.

Arah jarum jam menunjukkan pukul 17.00, gerimis membasahi area jembatan metro. Warga menyemut di lokasi kejadian. Sebagian bergotong royong membantu mengevakuasi jenazah korban. Caranya membentuk barisan dari dasar sungai hingga ke atas.

Setelah itu mengangkut jenazah dari bawah ke atas secara estafet. Rawi ialah salah satu yang ikut mengevakuasi korban.

“Jenazah kemudian dibawa ke Puskesmas menggunakan kendaraan seadanya. Ada yang pakai ambulans, ada juga yang terpaksa memakai pikap,” ucap dia.

Proses evakuasi membutuhkan waktu 10 jam, mulai pukul 17.00 hingga 03.00 dini hari. Evakuasi hari itu ditutup dengan pengangkatan kabin truk dari tengah sungai.

Di dalam kabin terdapat satu jenazah yang masih terjepit di dalamnya. Diduga sopir atau kernet truk.

Hari menjelang pagi, keluarga korban berdatangan untuk mencocokkan identitas jenazah. Mayoritas dari Blitar.

Setelah dipastikan identitas cocok, mereka membawa pulang jenazah ke rumah duka. Selain itu, ada dua keluarga korban datang ke Puskesmas untuk mencari orang terkasih yang menjadi korban.

“Ada atas nama Muharto dan Sungkono, itu tidak ada di jenazah yang terevakuasi hari itu. Jenazah keduanya baru ditemukan tiga hari kemudian (24 November 1985), tersangkut di bebatuan dekat syphon Metro,” kata dia.

Total evakuasi sampai jenazah tersangkut bebatuan sekitar empat hari, 21-25 November 1985. (dan)

Editor : A. Nugroho
#KEPANJEN #monumen #sungai #Metro #kecelakaan