Harus Berjalan Dua Kilometer karena Akses Terputus
SUARA sekop menyentuh batu bercampur lumpur menjadi bunyi yang paling sering terdengar di Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dalam sepekan terakhir. Warga berusaha menyingkirkan sisa banjir bandang. Sementara sebagian lain menatap kosong rumah mereka yang kini miring dan kehilangan bentuk aslinya.
Malalak adalah satu dari tiga kecamatan terdampak banjir bandang. Dua wilayah lainnya adalah Maninjau dan Palembayan. Meski sudah lewat lebih dari sepekan, masih ada beberapa dusun yang terisolasi. Jalan terputus, jembatan rubuh, dan akses komunikasi yang putus membuat penyaluran logistik serta penanganan kesehatan berjalan tersendat.
Dalam situasi krisis itu, tim dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turun tangan membantu warga. Ada tiga misi utama yang mereka bawa. Penanganan kesehatan, dukungan psikososial, dan penyediaan air bersih melalui alat filtrasi mandiri.
Tim pertama dipimpin dr Aurick Yuda Nugraha SpEM. Mereka berangkat lebih awal untuk melakukan asesmen dan membangun koordinasi dengan tenaga kesehatan setempat. Aurick dan dua rekannya tiba di Kabupaten Agam pada Sabtu (6/12).
Setibanya di lokasi, mereka langsung bergerak menuju Kecamatan Lubuk Lesung, titik pertemuan terakhir sebelum memasuki tiga wilayah yang paling terdampak. Selepas Lubuk Lesung, sinyal telepon mulai menghilang. Di daerah yang lebih dalam, relawan harus mengandalkan komunikasi radio atau menumpang sinyal Starlink yang dibawa tim lain.
Keesokan harinya, Minggu (7/12), Aurick dan kelompok kecilnya mulai meninjau sejumlah dusun di Kecamatan Malalak. Salah satunya adalah Nagari Malalak, yang aksesnya terputus total. Jembatan utama yang biasa digunakan warga runtuh tersapu banjir.
Sebagai pengganti, warga membangun jembatan kayu darurat yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda motor. Untuk sampai ke dusun itu, relawan harus berjalan kaki hampir dua kilometer melewati jalan tanah yang sebagian telah tergerus. Di tepi jalur itu tebing-tebing terlihat basah.
Aurick dan tim beberapa kali berhenti, memastikan tanah tidak bergerak. ”Saya lihat dari tebing itu tanahnya mengeluarkan air. Sewaktu-waktu bisa longsor,” ujar Aurick. Karena itu, kegiatan lapangan dibatasi hanya hingga pukul 13.00. Hujan nyaris selalu turun pada siang hari dan risiko longsor meningkat drastis.
Meski begitu, tim tetap melanjutkan misi mereka. Warga setempat yang memahami medan bertindak sebagai penunjuk jalan dan penjamin keselamatan. Aurick menyebut mereka sangat bergantung pada arahan warga. Begitu warga meminta berhenti atau menghindari jalur tertentu, relawan langsung mengikuti instruksinya.
”Kalau nanti disuruh lari, ya kami lari saja. Sejauh ini aman. Pernah kaki menginjak seng, untung pakai sepatu boots,” tuturnya.
Kondisi di Malalak disebutnya masih lebih baik dibanding Maninjau. Untuk masuk ke Kecamatan Maninjau, akses darat tertutup sepenuhnya. Bahkan truk logistik sekalipun tidak bisa masuk. Maka satu-satunya jalan adalah menumpang perahu dan melintasi Danau Maninjau.
Di tengah keterbatasan itu, ia mengaku prihatin membaca komentar sebagian orang yang menyebut kondisi Sumatera Barat tidak separah yang diberitakan. Baginya, komentar semacam itu datang dari orang-orang yang belum melihat keadaan sebenarnya.
”Saya mendengar di Tamiang, Aceh, sampai sekarang listrik mati. Warga minum air banjir. Jadi sangat tidak benar kalau dibilang tidak mencekam,” tegas dokter spesialis emergensi tersebut.
Di Malalak, listrik baru benar-benar menyala stabil sejak Sabtu lalu. Sebelumnya, warga menggunakan genset seadanya. Sinyal seluler juga belum pulih sepenuhnya. Di beberapa titik sama sekali tidak ada gelombang yang tertangkap. Penggunaan Starlink sangat membantu relawan, tetapi akses alat itu tentu tidak dimiliki warga.
Masalah lain yang mendesak adalah ketersediaan air bersih. Air sumur berubah warna menjadi kehijauan, mengandung lumut halus, dan berbau tanah. Air itu hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Untuk minum dan memasak, warga mengandalkan bantuan galon dan air kemasan dari relawan.
”Kami sangat menunggu alat penjernih air dari UB. Semoga segera sampai,” kata Aurick. Informasi terakhir yang ia terima, alat dan sebagian obat-obatan sudah berada di perjalanan darat dan sedang melintas area Merak. Jika tidak ada kendala, diperkirakan tiba pada hari ini.
Kondisi kesehatan warga juga memerlukan perhatian. Banyak pengungsi yang berusia lanjut kehabisan obat rutin seperti obat hipertensi dan jantung. Mereka biasanya mengonsumsi obat setiap hari dan tidak boleh terhenti.
Di sisi lain, kebutuhan psikososial juga tak bisa diabaikan. Rasa trauma masih menguasai sebagian besar warga. Anak-anak, meski sesekali tertawa ketika para relawan mengajak bermain, masih menunjukkan kecemasan setiap mendengar suara hujan deras atau gemericik air dari selokan.
”Kalau kebutuhan makan dan minum sementara aman. Ada dapur umum yang berjalan. Tapi kondisi mental warga masih goyah,” kata Aurick.
Relawan UB dan UMM dijadwalkan berada di lokasi hingga 17 Desember 2025. Mereka bergantian menjaga posko, memastikan layanan kesehatan berjalan, membantu pemulihan psikososial, dan menyiapkan distribusi air bersih segera setelah alat filtrasi tiba. (*/adn)
Editor : A. Nugroho