Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Profil Nasaruddin Umar, dari Imam Besar Masjid Istiqlal ke Menteri Agama di Kabinet Prabowo

Aditya Novrian • Kamis, 24 Oktober 2024 | 01:00 WIB
Nasaruddin Umar Menteri Agama (sumber:pinterest)
Nasaruddin Umar Menteri Agama (sumber:pinterest)

RADAR MALANG-Nasaruddin Umar, seorang tokoh agama Islam yang sangat berpengaruh di Indonesia, telah melewati perjalanan karir yang panjang dan penuh prestasi. Mulai dari menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal hingga menjabat sebagai Menteri Agama di Kabinet Prabowo Subianto, nasibnya telah menyaksikan transformasi signifikan dalam konteks publik dan politik nasional.

Berikut adalah profil lengkap Nasaruddin Umar, ditampilkan dalam beberapa aspek penting dari karirnya.

Nasaruddin Umar lahir pada tanggal 23 Juni 1959 di Ujung-Bone, Sulawesi Selatan. Asal daerah Tanah Bugis ini telah membentuk karakter kuat dan dedikasi yang ia miliki dalam bidang agama dan sosial.

Nasaruddin mulai menempuh pendidikan formalnya di SDN 6 Ujung-Bone tahun 1970, kemudian melanjutkan ke Madrasah Ibtida’iyah Pesantren As'adiyah Sengkang pada tahun 1971.

Pendidikan agamanya berkembang pesat dengan ia meraih PGA selama empat tahun dan enam tahun di Pesantren As'adiyah Sengkang.

Gelar Sarjana Muda diperolehnya dari Fakultas Syariat IAIN Alauddin Ujung Pandang pada tahun 1980, sementara gelar Sarjana Teladan diperoleh pada tahun 1984 dalam bidang yang sama.

Selanjutnya, nasib akademisnya semakin meningkat ketika ia menyelesaikan program S2 tanpa tesis di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1990-1992.

Gelar doktornya diperoleh setelah menyelesaikan disertasi tentang “Perspektif Gender dalam Al-Quran” pada tahun 1998. Ini menandai titik balik penting dalam perjalanan intelektualnya.

Kontribusi Nasaruddin Umar tidak hanya terbatas pada pendidikan; ia aktif dalam berbagai organisasi lintas-agama dan komunitas Islam.

Pada tahun 1983, ia menjadi salah satu pendiri Masyarakat Dialog Antar Umat Beragama (MADIA) Jakarta, organisasi yang berusaha meningkatkan dialog dan toleransi antar-agama di Indonesia.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan (LSIK) di Jakarta pada tahun 1992. Peran penting lainnya adalah ketika ia menjadi Wakil Ketua Yayasan Wakaf Paramadina pada tahun 1999.

Inisiatif-inisiasinya dalam lembaga-lembaga sosial dan keagamaan ini menunjukkan dedikasinya untuk mempromosikan kesetaraan dan harmoni dalam masyarakat.

Karir politis Nasaruddin Umar dimulai dengan posisi strategis sebagai Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama Republik Indonesia pada periode 2006–2012.

Posisi ini memberinya platform untuk mengimplementasikan program-program yang berfokus pada pembangunan spiritual dan sosial masyarakat Muslim di Indonesia.

Namun, puncak karirnya dalam jabatan publik datang ketika ia menjabat sebagai Wakil Menteri Agama Republik Indonesia dari tahun 2011 hingga 2014.

Di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia turut andil dalam formulasi kebijakan yang berorientasi pada moderasi dan inklusi dalam masyarakat multi-etnis dan agama.

Setelah masa jabatannya sebagai Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar kembali ke posisi Imam Besar Masjid Istiqlal pada tahun 2016.

Jabatan ini merupakan simbol prestise dan tanggung jawab spiritual yang sangat signifikan karena status istimewa Masjid Istiqlal sebagai pusat ibadah tertinggi di Jakarta.

Pada tanggal 19 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto secara resmi menunjukkan nama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA sebagai Menteri Agama Republik Indonesia menggantikan Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut.

Penunjukan ini disampaikan melalui pengumuman Kabinet Merah Putih usai pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.

Dengan demikian, Nasaruddin Umar kembali ke panggung politik nasional dalam kapasitas yang lebih luas lagi—sebagai Menteri Agama di Kabinet Prabowo Subianto.

Hal ini menandai capaian tertinggi dalam karir profesionalnya yang telah dibangun atas fondasi kuat pendidikan, integritas moral, dan dedikasi kepada agama dan bangsa.

Nasaruddin Umar juga dikenal karena produktivitasnya dalam menulis karya tulis ilmiah tentang Islam. Ia telah menulis sebanyak 12 buku, salah satunya berjudul “Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran,” yang mengulas hasil penelitiannya tentang bias gender dalam Al-Quran.

Inovatifnya dalam menelaah teks suci Islam membuatnya dihargai sebagai cendekiawan yang bijak dan proaktif dalam bidang studinya.

Di samping jabatannya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar juga terlibat dalam berbagai organisasi keagamaan dan sosial.

Ia merupakan anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Umum Badan Penasehat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4).

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama (PBNU) dari tahun 2015 sampai 2020.

Prestasinysa dalam lembaga-lembaga keagamaan ini menunjukkan reputasinya sebagai tokoh spiritual yang kredibel dan berwibawa di kancah politik dan sosial Indonesia. (Adrian Irfan Pratama)

Editor : Aditya Novrian
#Menteri #Prabowo #Kabinet Merah Putih #agama #nasaruddin umar