Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kampus di Malang Wait and See Rencana Penutupan Prodi dari Sekjen Kemdiktisaintek

Nahdiatul Affandiah • Kamis, 30 April 2026 | 10:09 WIB
TAK SEMUA SEPAKAT: Sejumlah mahasiswa UIN Maliki Malang hendak mengikuti kegiatan perkuliahan. UIN melihat penutupan Prodi yang tak lagi relevan dengan delapan industri strategis bukan solusi. (Foto: Darmono)
TAK SEMUA SEPAKAT: Sejumlah mahasiswa UIN Maliki Malang hendak mengikuti kegiatan perkuliahan. UIN melihat penutupan Prodi yang tak lagi relevan dengan delapan industri strategis bukan solusi. (Foto: Darmono)

MALANG KOTA-RADAR MALANG - Pemerintah Pusat mempertimbangkan penutupan program studi (Prodi) yang tak lagi relevan dengan delapan industri strategis. Prodi yang ada diharapkan mendukung perkembangan industri kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, serta maritim. Itu disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Prof Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan di Bali pada 23 April lalu.

Lantas, bagaimana respons kampus-kampus di Malang terkait rencana itu? Rektor UIN Maliki Malang Prof Ilfi Nur Diana menilai, penutupan Prodi itu bukan solusi. Terutama Prodi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), seperti jurusan ilmu keagamaan.

Baca Juga: Tim Dosen STIMATA Malang Sukses Tingkatkan Daya Saing UMKM "PiaAras" Melalui Hibah PMP Kemdiktisaintek 2025

Prodi itu, dilihat pihak kampus sangat penting. Itu karena UIN memandang bukan lapangan pekerjaan saja yang menjadi tujuan pendidikan. Lebih jauh, juga untuk membangun karakter bangsa melalui pendidikan.

”Apalagi saat ini dunia kerja tidak hanya melihat ijazah saja,” ucapnya. Dunia kerja lebih memilih skill yang dimiliki pelamar. Untuk itu, seharusnya ada transformasi kurikulum dan pengembangan skill mahasiswa agar sesuai dengan kebutuhan pencari kerja saat ini.

Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof Hariyono menuturkan, perlu ada kajian utuh bagi perguruan tinggi untuk merespons wacana itu. Sebab, menurutnya dalam merealisasikan proses mencerdaskan kehidupan bangsa tidak semata-mata diukur kebutuhan pasar. Terdapat moral dan nilai-nilai lain yang perlu ditanamkan.

Baca Juga: Wait and See Tangani Pohon di Depan Taman Krida Kota Malang

”Sementara menunggu keputusan pusat, pengembangan kapasitas belajar mahasiswa perlu ditingkatkan lagi,” ucapnya. Itu bertujuan agar pengetahuan dan keterampilan teknis yang bersifat temporer tidak menghambat pengembangan kualitas mahasiswa dalam pengembangan hard skill dan soft skill. Pembelajaran berbasis kehidupan perlu dicermati secara cerdas dan bijak untuk proses transfer ilmu dan pemanfaatannya.

Sementara itu Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Widodo menuturkan, rencana penutupan Prodi itu sebagai evaluasi kebutuhan perkembangan zaman. Sebelumnya, di UB sudah melakukannya dengan menutup Prodi dan melakukan transformasi Prodi yang lebih relevan. Seperti transformasi empat fakultas di UB, yaitu Fakultas Teknologi Pangan. Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, hingga Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

”Bagian terpenting saat ini tiap Prodi harus melakukan evaluasi,” ujarnya. Secara berkala hasilnya terus dibandingkan dengan kebutuhan zaman. Dengan begitu, antara Prodi dan dunia kerja bisa sinkron dan bisa meminimalisir gap pengangguran sarjana. (aff/gp)

Editor : A. Nugroho
#penutupan prodi #sekjen kemdiktisaintek #PTKIN #Wait and See