Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bima Dea Sakti, Atlet Malang Peraih 2 Medali Fin Swimming SEA Games Vietnam

Mardi Sampurno • Rabu, 1 Juni 2022 | 23:08 WIB
ISTIMEWA: Bima Dea Sakti Antono merentangkan bendera merah putih setelah berhasil meraih dua medali cabang olahraga fin swimming di SEA Games Vietnam. (Bima Dea Sakti Antono For Radar Malang)
ISTIMEWA: Bima Dea Sakti Antono merentangkan bendera merah putih setelah berhasil meraih dua medali cabang olahraga fin swimming di SEA Games Vietnam. (Bima Dea Sakti Antono For Radar Malang)
SEA Games Vietnam menjadi ajang memutus puasa gelar internasional bagi Bima Dea Sakti Antono. Lebih spesial lagi, dia mendapatkan medali dari dua nomor fin swimming yang bukan merupakan spesialisasinya. Apalagi cabor fin swimming yang memadukan kemampuan renang dan selam baru pertama kali dipertandingkan kembali setelah SEA Games 2011.

BIMA begitu bangga menunjukkan foto dirinya merentangkan bendera merah putih sambil berkalung dua medali SEA Games Vietnam. Medali pertama adalah perak 4 x 200 Estafet Surface Putra. Sedangkan medali kedua adalah perunggu 4 x 100 Estafet Surface Putra. Sampai pulang ke Indonesia pun, Bima masih belum percaya bisa meraih prestasi adu cepat renang menggunakan sebagian alat selam tersebut. Itu karena medali yang dia dapatkan sejatinya tidak sesuai dengan nomor spesialisasinya.

Ya, sebelum berangkat ke Vietnam, atlet asal Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, itu dipersiapkan mengikuti nomor-nomor fin swimming individu. Di antaranya adalah nomor 400 meter, dan 800 meter. Namun Vietnam sebagai tuan rumah menerapkan strategi pengumpulan medali dengan hanya mempertandingkan nomor yang menjadi andalan mereka. Nomor yang berpotensi mengantarkan Bima mendapat medali emas ternyata tidak dipertandingkan. ”Tuan rumah hanya mempertandingkan nomor andalan-andalannya saja,” kata atlet 25 tahun tersebut. Contohnya adalah nomor surface (permukaan) yang meliputi 50 meter putra dan putri, 100 meter putra dan putri.

Lalu 800 meter putri dan 1.500 meter putra. Bima sempat direncanakan turun di nomor 1.500 meter. Namun akhirnya diurungkan karena dinilai peluangnya tidak besar. Dia harus rela bermain di nomor estafet saja. Hal itu jelas membutuhkan melakukan pergantian strategi. Tentu bukan pekerjaan gampang, apalagi di nomor estafet 200 meter dia menjadi orang pertama. Menurutnya, orang pertama harus konsentrasi penuh. Melaju kencang di lintasan renang sekaligus membukakan jalan kepada atlet lain agar tidak ketinggalan. Jika tidak mempunyai start yang bagus. Maka sangat berpotensi menjauhkan tim dari kemenangan.

Karena itu, saat memulai lomba, dia sempat didera sedikit kepanikan. Dalam hati ada rasa takut kalau tidak bisa menjalankan strategi dengan baik. Namun satu menit sebelum start, perlahan dia bisa mengendalikan diri untuk akhirnya berkonsentrasi penuh. ”Saya teringat betapa keras perjuangan untuk mencapai titik tersebut. Harus melewati seleksi nasional dan mengalahkan atlet-atlet dari seluruh Indonesia. Karena itulah, akhirnya saya bisa kembali konsentrasi,” kata alumnus SMPN 1 Pakis. Bima akhirnya bisa membuka jalan bagi tiga rekannya.

Mereka pun sukses menyabet medali perak yang sebenarnya bisa saja ”berubah” menjadi emas. Ya, kemenangan Vietnam kala itu sempat menuai kontroversi. Atlet mereka ditengarai melanggar aturan finis orang ketiga. Saat berganti orang, atlet tidak boleh berada lintasan. Namun atlet ketiga Vietnam tetap di lintasan. Upaya protes dilontarkan dari beberapa negara, namun tidak bisa mengubah keputusan akhir. Vietnam tetap dimenangkan dan berhak atas medali emas. Ketika hal itu terjadi, lomba sempat ditunda selama satu hari.

Sementara pada nomor estafet 4 x 100 meter, Bima ditempatkan pada posisi orang kedua. Tugasnya mempertahankan start yang dilakukan orang pertama. Atau memperbaiki apabila start atlet pertama kurang baik. ”Konsepnya sama seperti lari estafet. Namun, ini dilakukan di air,” jelasnya. Untuk mempercepat proses adaptasi dari individu ke grup, Bima mengaku berusaha fokus kepada gaya berenang saja.

Di nomor estafet dia harus lebih cepat dan melakukan start yang bagus. Sebab jarak yang ditempuh pendek. Alhasil, jika gagal melakukan hal itu dipastikan akan tertinggal. ”Saya biasa tampil di nomor 400 dan 800 meter, stamina bukan persoalan. Cuman memang perlu mengganti ritme,” kata dia. Kunci kedua adalah membangun rasa percaya diri. Karena saat SEA Games, dia langsung tampil di final melawan 6 negara.

Di antaranya adalah tuan rumah Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand, Kamboja, dan Singapura. Capaian tersebut membuat Bima mengakhiri puasa gelar internasional. Sebab, terakhir kali dia menyabet medali di kejuaraan internasional pada 2017 lalu. Ketika itu dia mendapatkan medali perunggu dalam ajang Kejuaraan Fin Swimming Junior Asia ke-16 di Yuntai City, China. Dia turun di kelas 800 meter putra.

Capaian lainnya adalah nomor empat di World Cup Selam yang diadakan di Thailand pada Februari 2020. Dua medali di SEA Games Vietnam juga melanjutkan prestasi Bima di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua tahun lalu. Ketika itu, dia memborong dua medali sekaligus. Yang pertama di nomor individu 400 meter, lalu nomor individu 800 meter. Saat menang di 400 meter, dia menjadi peraih medali emas pertama tim Jawa Timur di ajang tersebut.

Mempunyai catatan istimewa dalam dua tahun terakhir tidak membuat alumnus Universitas Merdeka Malang itu berpuas diri. Dia malah mematok target medali emas di SEA Games 2023 mendatang yang dilaksanakan Kamboja. ”Semoga nantinya medali di nomor individu,” ucapnya. Bima mengawali ketertarikan pada olahraga fin swimming dari renang. Tujuan awalnya hanya mengikuti saran orang tua untuk menjaga kesehatan. Dia bahkan sempat kursus renang pada kelas 4 SD. Baru kemudian mengenal dan tertarik pada fin swimming saat duduk di SMP. (lih/fat) Editor : Mardi Sampurno
#Atlet Malang #Fin Swimming #SEA Games Vietnam #Medali #radar malang