YUDISTIRA SATYA WIRA WICAKSANA
Sambutan ramah ditunjukkan Mukhlis saat Jawa Pos Radar Malang berkunjung ke rumahnya, di Banyu Anjlok Homestay, Senin (1/8). Tahu yang datang dari Radar Malang, dia menjadi teringat memori 10 tahun lalu. Yakni saat kru Jelajah Seribu Pantai Jawa Pos Radar Malang mempopulerkan pantai di Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo itu.
Karena saat itu nama Bowele sama sekali belum ada yang mengenal. Baru sejak dipopulerkan Radar Malang, masyarakat mulai ada yang berdatangan. Dan Mukhlis, saat itu dipercaya Kepala Desa Purwodadi untuk mendampingi tim Jelajah Seribu Pantai. Dia pun konsisten sampai saat ini menjadi pegiat wisata sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bowele, Desa Purwodadi, Tirtoyudo.
Sosoknya begitu ramah. Bahkan, kini hospitality ala pemadu wisata kian terpancar dari sikap pria 43 tahun ini."Saya masih ingat, 10 tahun lalu, Mas ABM (Wapemred Radar Malang) datang bersama tim. Dari tulisan jelajah seribu pantai Radar Malang, Banyuanjlok, Wedi Awu, Bolu-Bolu dan Lenggoksono naik daun," kata Mukhlis mengawali pembicaraan.
Dengan bangga, Mukhlis menunjuk salah satu klipingan koran Radar Malang. Potongan liputan itu terpajang di dinding ruang tamunya. Begitu juga, tulisan-tulisan para wartawan Jawa Pos Grup soal Desa Wisata Bowele. Dia pajang semua berita koran ini. Mukhlis menyatakan, tanpa Radar Malang, desanya tak akan sepopuler sekarang.
Pria yang juga guru itu pun mengakui jasa besar koran ini bagi Desa Purwodadi. Dia ingat betul, Radar Malang tiba satu dekade lalu, tepatnya 2012. Mukhlis saat itu Sekretaris Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Pesisir Desa Purwodadi. Statusnya juga masih guru sukwan di SDN Purwodadi.
"Sebelum Radar Malang datang, Pokmaswas fokus cegah illegal fishing. Tapi, saya sudah menerawang potensi wisata pantai ini. Walaupun, saya dulu tak membayangkan. Kawasan ini akhirnya jadi spot surfing kesukaan ekspatriat. Tahun 2012, saya ingat ditugasi Pak Kades 'mbaturi' Mas ABM dan kawan-kawan," tandas pria yang mulai fasih bahasa Inggris dan sedikit Spanyol-Jerman itu.
Mukhlis mengenang memori bersama tim Radar Malang. Yakni, mulai dari larung sesaji di pantai, hingga mengantar wartawan untuk kali pertama ke Banyu Anjlok. Menurutnya, saat itu dia harus pakai kapal demi menuju lokasi ini. Sehingga, Mukhlis keluarkan duit pribadinya untuk mengantar tim ke Banyu Anjlok. Dia rogoh kocek Rp 150 ribu demi sewa perahu.
"Tidak saya sangka, sejak itu Desa Purwodadi makin naik. Gugus pantai di sini semuanya makin terangkat. Banyu Anjlok dan lainnya makin dikenal. Wedi Awu bahkan jadi spot surfing internasional. Ekspatriat Amerika, Eropa, Asia dan Afrika cari ombak besar di sini," jelas pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Malang Raya itu.
Sebelum pandemi, homestay di sana sekitar 21 rumah. Jumlah perahu yang standby untuk disewakan juga mencapai 32 buah. Kehidupan wisata di sana makin padat dan hidup. Kala itu, reputasi Desa Wisata Purwodadi sedang tinggi-tingginya. Tetapi, pandemi seperti stroke yang menyetop denyut pariwisata Bowele.
Dari situ, jumlah homestay makin berkurang. Begitu juga perahu yang bisa disewakan. Hari ini, hanya ada 9 homestay di sana. Sedangkan, perahu siap sewa tinggal 22 buah. Seiring pandemi melandai, Desa Wisata Bowele turut sembuh dari stroke ekonomi. Wisatawan mulai datang.
Meskipun, kali ini tamu banyak dari ekspatriat. Dari situlah, Mukhlis meyakini, Bowele tidak cocok pakai konsep mass tourism. Karena, jarak dari jalan besar terlalu jauh. Jalanan menuju lokasi juga rusak. Wisatawan yang datang, dipastikan memang niat. Belum lagi, warga juga belum siap menerima wisatawan sebanyak dulu.
"Tapi tidak apa-apa. Karena, Bowele sejatinya lebih cocok sebagai eco wisata. Small tourism dan adventure," jelas pengurus wisata bidang khusus Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) itu. Karena Lenggoksono dan sekitarnya menjadi sepi, tamu ekspatriat malah senang. Karena itu area wisata tersebut dibikin kesan eksklusif yang membuat bule kerasan.
Wisatawan tersaring. Pelancong dari Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Jepang sampai Afrika berdatangan. Mereka tumpahan dari Bali. Kebanyakan dari mereka berburu ombak untuk surfing. Pantai Lenggoksono yang ditangani Desa Wisata Bowele, dikhususkan bagi surfer amatir.
Sementara, Wedi Awu diperuntukkan bagi profesional. Mukhlis mengatakan, dia pernah menerima tamu dari surfer Amerika yang menginap sebulan. Bulan ini, dia juga akan menerima 80-an bule dari Amerika dan Eropa. Mereka siap menghabiskan akhir pekan di Lenggoksono. Uniknya, mereka tak cuma cari surfing.
"Mereka request wisata trekking. Ya kita siapkan jalurnya," ujar anggota East Java Ecotourism Forum itu.
Mukhlis pun mempersiapkan hospitality ala desa wisata yang tak bisa didapatkan di hotel. Harga masuk homestay Rp 125-Rp 150 ribu plus sarapan. Mereka bisa masuk siang, serta check out siang.
Bahkan, jika tak ada tamu, maka wisatawan bisa berlama-lama check out. Pemilik rumah akan 'njagongi' ekspat layaknya ada sanak famili yang berkunjung. Jamuannya pun khas desa. Ada ikan laut sampai menu masakan khas Jawa. Misalnya, lodeh daun singkong dan ontong, serta sambel bathok ikan bakar. Bule-bule itu juga punya preferensi bumbu.
Asal tidak pedas dan tidak manis, mereka doyan. Kemudian, harga sewa papan surfing Rp 50 ribu. Motor juga Rp 50 ribu sehari. Sementara, sewa perahu sekitar Rp 60 ribu. Alat snorkling sendiri disewakan Rp 25 ribu per set. Menurut Mukhlis, Desa Wisata Bowele perlu terus berkembang.
"Amenitas (fasilitas di luar akomodasi) masih kita dorong di pantai. Misalnya, keperluan MCK (mandi, cuci, kakus). Ini untuk menyesuaikan standar wisata pantai yang melayani bule. Saya juga rencana bikin glamping," jelasnya.
Desa Wisata Bowele kini semakin spesifik untuk ekspat. Walaupun, desa tak menghalangi kedatangan wisatawan lokal. Sebab, kehadiran pariwisata telah mengubah kehidupan masyarakat.
Perubahan itu terlihat jelas dari mereka yang aktif bergerak di wisata. Kebanyakan pegiat wisata seperti Mukhlis adalah yang kurang beruntung secara privilege. Rata-rata, warga desa di sana kaya karena cengkeh. Tetapi, berkat wisata, pelaku wisata non-petani, terangkat. Ada yang bisa beli rumah dan motor. Ada pula yang bisa nambah mobil dan perahu.
"Pelaku wisata di sini 200-an orang. Sementara, total warga sejumlah 7.000 orang. Sebagian besar adalah petani cengkeh. Untuk menghidupkan iklim wisata semakin baik, masih berat. Tetapi saya tidak akan berhenti. Semoga Covid-19 sepenuhnya berhenti. Karena kita sedang mulai menggeliat lagi," tutupnya.(abm) Editor : Mardi Sampurno