Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tiap Hari Bikin 3 Video, Promosikan Como 1907 ke Indonesia

Mardi Sampurno • Senin, 15 Agustus 2022 | 14:50 WIB
MIMPI YANG TERWUJUD: Rahadyan Amandita bekerja sebagai videografer tim Como 1907 sejak 2021. Tugasnya mem-branding klub Liga 2 Italia itu tersohor di Indonesia dan dunia.
MIMPI YANG TERWUJUD: Rahadyan Amandita bekerja sebagai videografer tim Como 1907 sejak 2021. Tugasnya mem-branding klub Liga 2 Italia itu tersohor di Indonesia dan dunia.
Di balik gegap gempitanya kompetisi sepak bola Liga Italia, ada arek Malang di sana. Dia adalah Rahadyan Amandita. Bukan pemain apalagi pelatih bola, tapi videografer salah satu klub Liga 2 Italia: Como 1907. Bagaimana kisahnya?

GALIH R PRASETYO

DREAM COME TRUE. Begitulah agaknya kalimat yang cocok menggambarkan bagaimana karier seorang Ra hadyan Aman dita. Eropa adalah negara yang selalu ingin dia tuju sejak dulu. Beragamnya budaya di Benua Biru dan tingginya keinginan belajar menjadi salah satu penyebabnya. Akhir nya, keinginan itu kesampaian. Dia menjadi bagian divisi kreatif klub Como 1907.

Secara jujur Rahadyan bukan penyuka olah raga sepak bola. Dia lebih pencinta basket. Dari segi karya visual, dia juga le bih banyak berkarya tentang musik, hal-hal sosial, commercial dan company profile. “Kalau boleh jujur sebetulnya saya tidak menyangka dan mungkin tidak ada yang berpikir saya sampai ada di titik ini (videografer klub sepak bola Como 1907),” jelas pria kelahiran 1985 itu kepada wartawan koran ini.

Karena itu, terkadang Rahadyan acap kali tidak percaya diri menjadi bagian Como 1907. Menanyakan dalam dirinya bagai mana akhirnya Tuhan me wujudkan alam pikirannya tentang Eropa. Di sebut seperti hukum fisika law attraction. Apapun yang kita pikirkan, kita akan menarik hal tersebut ke dalam diri.

Akibatnya, awal-awal menjadi ba gian dari klub Como 1907 terbilang tidak gampang.

Ada sejumlah tantangan yang harus dihadapinya. Seperti contoh nya adalah harus membuat video dengan angle berbeda dari umumnya, tapi harus mudah dipahami. Karena memang kepentingan untuk promosi. Salah satunya ke masyarakat Indonesia.

Tidak hanya itu tantangan lain nya adalah harus kejar tayang. Di mana dirinya pernah pagi shooting video, siang diedit, lalu sore harus tayang. Alhasil, selain harus bekejaran dengan waktu, juga memaksanya benarbenar cermat, dan berpikir taktis. Dia harus memutar otak membuat karya menarik. Karena ke salahan sedikit saja efeknya bisa sangat besar untuk klub.

Salah satu efek negetifnya adalah bisa mengganggu citra Como 1907. “Harus benar-benar zero mistake,” kata pria domisili di Jalan Sulfat Agung itu.

Sebagai upaya mewujudkan hal tersebut dia mengaku kalau ha rus mempunyai perencanaan yang baik. Lalu juga melakukan riset sebagai referensi pembuatan video. Umumnya, setiap harinya dia harus bisa melahirkan 2 sam pai 3 karya untuk klub yang identik dengan kostum biru itu.

Meski ada banyak tantangan yang harus dilalui, pria kerap di sapa Otong itu mengaku kalau lingk ungan kerja di Como 1907 sangat asyik. Orang-orang dinilai nya sangat terbuka dengan gagasan atau ide-ide baru. “Mereka (orang Italia, red) menghargai dan lebih terbuka untuk masalah seni video dan foto,” tuturnya.

Alhasil memang banyak hal yang bisa dieksplore dari tim itu sendiri. Misalnya adalah me rekam aktivitas suporter fanatik tim. Sisi lain dari klub. Seperti me lihat di balik sepak bola. Sampai, melihat salah satu tem- pat menarik di Como. Be rang kat dari itu, lahirlah flash back aksi pemain Como di musim-musim sebelumya setiap Jumat.

Selama di Como, menurut alum nus Universitas Brawijaya tersebut, hari pertandingan men jadi salah satu yang paling sibuk. Itu karena biasanya dia harus menjalankan tugas ganda yakni sebagai videografer dan fotografer. Alhasil, memang membutuhkan efforts lebih tinggi. “Apalagi video juga harus cepat ya,” tuturnya.

Menjalankan tugas supercepat itu menurutnya kuncinya adalah konsentrasi. Kedua harus menyiap kan rencana-rencana. Karena itu dinilai yang berangkat membawa strategi tidak hanya tim pelatih saja. Namun, juga dirinya yang bertugas sebagai seorang videografer.

Selain itu, menurutnya selama di Como salah ada beberapa hal yang perlu disesuaikan. Di anta ranya adalah bahasa, makanan, sampai transportasi. Menurutnya terkadang dia merindukan nasi pecel. Tapi selama di Como dia enjoy lantaran orang sana terbuka dengan warga luar negeri. Alhasil, dia tidak pernah men dapatkan hal rasial.

Bisa menjadi bagian salah satu klub kasta kedua Italia diakui pria kerap disapa Otong itu bermula pada 2021 lalu. Lowongan di story Instagram Mola TV men jadi pemicunya. Ketika itu peru sahaan tersebut mengabarkan membutuhkan seorang videografer untuk ditugaskan di Como 1907. Dia mencoba untuk memasukkan lamaran.

Tidak butuh waktu lama portofolio yang dikirim pria asli Ma lang itu tembus. Tapi, ketika itu tidak langsung membuatnya menjadi bagian klub bola. Dia harus mengikuti tes terlebih dahulu. Pada tahap seleksi ini diakuinya tidak gampang. Karena dirinya dituntut untuk bisa merangkum video dokumenter yang sebelumnya 14 menit men jadi 4 menit. Harus dibuat semenarik mungkin sesuai selera mereka. “Pada fase itu kabarnya ada ratusan pelamar yang juga ikut tes,” kata alumunus SMA Islam Malang itu.

Nah, dalam menyelesaikan tan tangan itu, dia harus membuang beberapa adegan yang sekiranya kurang penting, dan dibuat singkat, padat, dan jelas. Di mana dibutuhkan waktu se harian memikirkan ide dan se lesai besok harinya. Sebelum jadi dia harus menunggu satu bulan untuk mendapatkan pengumuman.

Sementara itu, selama menekuni profesi tersebut pria kerap di sapa Otong itu mengatakan kalau dulunya banyak terlibat dalam beragam project. Mulai dari pembuat video klip band sam pai film-film pendek.

Film pendek yang dibuat berjudul Nunggu Teka sempat mendapatkan penghargaan internasional. Film pendek yang bercerita ten tang mudik saat hari Raya Idul Fitri itu sempat mendapatkan penghargaan dari Winner of Jury Prize, sebagai film pendek terbaik festival sinema Aus tralia-Indonesia. Penghargaan itu dida patkan pada tahun 2017 lalu.

Selain itu dirinya juga sempat terlibat dalam mendo kumentasikan sebuah wilayah ter pencil yang ada di Indonesia. Ketika itu dia membuat profil wisata Ma hakam Ulu. Selama pengerjaan dinilai penuh efforts lan taran tempat itu berada di pendalaman Kalimantan. Alhasil, transportasi sulit dan sinyal juga susah, listrik kadang ada dan tidak.

Meskipun begitu dia mengaku senang. Karena sejak awal keinginan terjun di dunia tersebut ada lah membuat video yang bermanfaat untuk orang banyak. “Targetku cuma buat sesuatu yang berguna buat orang banyak dan menarik,”tuturnya.

Sementara itu, menurutnya bisa terjun ke dunia tersebut penye babnya adalah sang-kakak. Aktivitas kakak Otong yang sering membuat video dan animasi me nariknya untuk menggeluti dunia visual. Hal tersebut menarik minatnya yang masih duduk bangku SMP.

“Pada waktu itu dulu pegang handycam dan mulai cobacoba,”jelas pria dulu sempat mengambil jurusan Pariwisata Universitas Brawijaya tersebut.

Dia merasa asyik di dunia video. Dia semakin getol untuk merekam momen-momen dan menyalurkan ide lewat visual. (abm) Editor : Mardi Sampurno
#Arek Malang #Sosok #Videografer Klub Liga 2 Italia Como 1907