Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penggiat Literasi Malang Tak Menanti Pamrih, Sabtu Membaca ala Cak Pendek

Mardi Sampurno • Minggu, 21 Agustus 2022 | 22:59 WIB
MANFAATKAN HARI KELUARGA: Hari Pendek rutin membawa buku-bukunya ke Taman Slamet setiap Sabtu pagi agar bisa dibaca setiap orang secara gratis. (MITA BERLIANA/RADAR MALANG)
MANFAATKAN HARI KELUARGA: Hari Pendek rutin membawa buku-bukunya ke Taman Slamet setiap Sabtu pagi agar bisa dibaca setiap orang secara gratis. (MITA BERLIANA/RADAR MALANG)
Namanya cukup unik, Hari Pendek. Dia bahkan lebih suka disapa dengan panggilan Cak Pendek. Namun impiannya tentang dunia literasi jelas tidak pendek. Malah lebih tinggi dari orang-orang yang mungkin memiliki pendidikan sangat tinggi. Ya, tanpa pamrih, Cak pendek rutin pergi ke taman membawa ratusan buku untuk dibaca secara gratis oleh siapa pun. 

Cara yang dilakukan Hari Pendek untuk menggiatkan literasi di Kota Malang tampaknya cukup sederhana. Namun tidak semua orang bisa atau mau melakukannya. Setiap Sabtu pagi, dia membawa rak kayu yang cukup besar di atas Vespa kesayangannya. Rak kayu itu berisi begitu banyak buku, sehingga harus berhati-hati ketika mengemudikan Vespanya. 

Dari rumahnya di Jalan Bendungan Sutami, Cak Pendek biasanya berangkat menuju Taman Slamet, Kecamatan Klojen, sejak pagi. Di taman itulah dia biasa menggelar alas untuk duduk bagi-orangorang yang hendak membaca buku. Biasanya orang-orang berdatangan mulai pukul 09.00. ”Tahun 2017 saya masih sempat berkeliling ke taman-taman di Kota Malang. Setelah itu saya menetap di Taman Slamet,” ujarnya. 

Yang datang untuk membaca buku-buku milik Cak Pendek beragam. Kadang orang dewasa yang membaca novel, kadang anak kecil yang membuka-buka buku cerita bergambar. Ada juga orang tua yang menemani anaknya mewarnai buku bergambar. Bahkan dua minggu sekali Cak Pendek mengajak anak-anak yang menghampiri lapaknya bermain permainan tradisional. 

Apa yang dilakukan pria 43 tahun itu bermula dari kegemarannya membaca dan memperoleh manfaat dari banyak buku. Dari yang semula tidak tahu menjadi tahu. Dia lantas punya impian agar semua orang bisa merasakan manfaat dari membaca buku seperti yang dia peroleh. Maka, Cak Pendek memutuskan untuk membuat ”gerakan” Sabtu Membaca. 

Mengapa harus hari Sabtu? Alasan Cak Pendek sangat juga sederhana. Menurutnya, Sabtu identik dengan hari keluarga atau family time. Banyak warga yang menghabiskan Sabtu dengan berjalan-jalan ke taman. Kondisi itu dia manfaatkan untuk mengajak orang membaca buku. ”Sekaligus mengingatkan bahwa untuk menghabiskan waktu bersama keluarga tidak harus ke tempat yang jauh dan mahal. Membaca buku bersama juga sangat bermanfaat,” ujar pria lulusan sekolah dasar itu. 

Cak Pendek sangat senang jika tempat yang dia sediakan didatangi banyak orang yang hendak membaca buku. Meski demikian, ada saja halangan bagi dia untuk menggiatkan literasi. Kalau musim penghujan, kendalanya jelas hujan. Tapi ada juga masalah lain, yakni petugas yang menanyakan izin. 

Tapi masalah izin itu sudah terselesaikan. Cak Pendek mengaku sudah memiliki izin meski dia tidak tahu apa guna izin tersebut. Izin didapatkan dari Satpol PP dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan harus diperbarui setiap bulan. Biasanya petugas hanya memeriksa saja, tidak ada tindakan yang berarti. 

Pria yang juga menjalankan usaha warung kopi di kediamannya itu sama sekali tidak khawatir dengan pemeriksaan petugas. Sebab, dia melakukan semua itu tanpa tujuan komersial. Hanya sebatas menyediakan lapak baca bagi orang umum yang sedang ada di Taman Slamet. Itu pun tidak setiap hari, hanya seminggu sekali. 

Selain gemar mengajak orang membaca, Cal Pendek juga kerap berkumpul dengan klub pembaca lain dan berdiskusi soal buku. “Saya ingin orang merasakan manfaat buku seperti yang saya rasakan,” pungkasnya. (mit/fat) Editor : Mardi Sampurno
#membaca #Buku #Sabtu Membaca #Literasi