Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penggiat Literasi Malang Tak Pamrih, Sumbang Buku untuk Perpustakaan Gratis

Mardi Sampurno • Minggu, 21 Agustus 2022 | 23:15 WIB
TELATEN: Eko Cahyono mengurus 98 ribu lebih koleksi buku Perpustakaan Anak Bangsa di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. (FAJAR ANDRE/RADAR MALANG)
TELATEN: Eko Cahyono mengurus 98 ribu lebih koleksi buku Perpustakaan Anak Bangsa di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. (FAJAR ANDRE/RADAR MALANG)
EKO CAHYONO ibarat ”matahari literasi” di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Dia memiliki 98 ribu buku yang dipajang di perpustakaan pribadi miliknya. Tempat yang diberi nama ”Perpustakaan Anak Bangsa” itu terbuka selama 24 jam dan bisa diakses secara gratis. 

Namun perjuangan  membuat perpustakaan seperti itu tidaklah instan. Pria kelahiran 1980 itu merintisnya sejak 1997. Kala itu dia masih belum punya tempat tinggal sendiri alias mengontrak. Hingga 2011, Eko sering memboyong buku-bukunya pindah kontrakan hingga 11 kali. ”Mulai 2011 itu baru menetap di rumah sendiri,” ujarnya. 

Meski mengurus puluhan ribu koleksi buku, Eko mengaku tak mempekerjakan orang sama sekali. Semuanya diurus sendiri. Mulai dari perawatan sampai pelayanan terhadap orang-orang yang ingin membaca buku. Semua itu dilakukan dengan misi menghidupkan minat baca masyarakat. 

Pria yang juga mempunyai hobi lari itu tidak sepakat dengan anggapan bahwa minat baca orang Indonesia itu rendah. ”Bukan rendah, lha wong bukunya aja nggak ada,” ungkapnya. Untuk itu, dia memutuskan aktif membantu teman-temannya yang ingin membuat perpustakaan serupa dengan miliknya. 

Eko kerap menyumbangkan puluhan, bahkan ratusan buku untuk teman-temannya yang bertekad membuka perpustakaan gratis di tempat asal masing-masing. ”Ada teman di satu komunitas atau pengunjung langganan Perpustakaan Anak Bangsa yang akhirnya ingin membuat perpustakaan sendiri. Lalu saya dukung dengan menyumbangkan beberapa buku,” terangnya. 

Eko masih ingat betul bagaimana awal-awal membangun perpustakaan. Dia hanya memanfaatkan tali rafia untuk menata barisan buku yang begitu banyak. Namun konsistensinya menggiatkan literasi membuat perpustakaan yang dia dirikan terus berkembang. Penataan buku semakin rapi, tepat membaca juga sudah nyaman. 

Kini, Eko banyak diundang ke berbagai acara seminar untuk berbicara peningkatan minat baca masyarakat. Baginya, tak akan berguna jika sesuatu tidak dibagi. Itulah yang menjadi semangatnya dalam membangun perpustakaan yang ia dirikan 25 tahun silam. Dari kegemaran membaca, Eko ingin menularkan kecintaannya itu melalui penyediaan fasilitasnya. ”Semua orang bisa datang, baca, pinjam bawa pulang, semuanya gratis,” pungkasnya. (dre/fat) Editor : Mardi Sampurno
#Perpustakaan #membaca #Buku #Literasi #gratis