Tak sendirian, Yusril ditemani adiknya bernama Devan yang baru berusia 1 tahun 5 bulan. Devan mengikuti sang kakak menuju foto tersebut. Foto besar itu bergambar wanita yang tengah tersenyum. Mereka menatap foto itu cukup lama. Seolah ada komunikasi antara mereka dengan foto tersebut yang merupakan sosok sang ibu, Radina Astrida Lufitasari. Dua balita itu hanya bisa menatap karena sang ibu harus pergi untuk selama-lamanya. Ya, Radina menjadi satu dari 135 korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan.
Tragedi 1 Oktober lalu membuat Yusril kehilangan ibu yang dicintainya. Bahkan, foto yang terpajang itu kini menjadi pengganti kehadiran Radina untuk mereka. Setelah cukup lama memandangi foto sang ibu, Devan mencium foto sang ibu. Dia mencium pipi Radina berkali-kali. Menandakan ada rindu teramat dalam darinya. Nenek Yusril, Satun membiarkan cucunya mengekspresikan kerinduan itu. ”Sebelumnya saya sempat berbohong ke Yusril, karena trauma berkepanjangan.
Baru saya kasih tahu setelah 100 hari,” kata Satun. Tak mau kecewa, Satun dan suaminya Hari Prasetyo memberi pengertian ke mereka bahwa Radina masih bekerja untuk mencari uang. Hanya ada tangisan selama 100 hari mereka bisa mengekspresikan rasa kangen terhadap sang ibu. Alasan itu sengaja dipilih Satun agar dua balita itu mengerti maksud kepergian Radina. Sebenarnya mereka masih memiliki sang ayah.
Namun harus menunggu beberapa waktu lagi karena ayah mereka masih berurusan dengan hukum. Yakni mendekam di penjara karena kasus narkoba. Ayahnya dijebak seseorang beberapa tahun lalu demi mengedarkan sabu-sabu. ”Baru setelah 100 hari si Yusril itu seperti tahu ibunya meninggal, jadi sudah ikhlas sepertinya,” ucap Satun. Mirisnya, saking terlalu lama di dalam rumah dan tidak terkena cahaya matahari, kulit dua cucunya itu sempat mengelupas. Para tetangga pun juga terheran-heran karena Yusril maupun Devan tidak pernah lagi tampak bermain di pekarangan rumah.
Baru setelah 100 hari berdiam diri di rumah mereka mulai mau bermain di luar rumah. Kini Satun hanya bisa pasrah dan harus bangkit membesarkan dua cucunya itu. Wanita 48 tahun itu dan sang suami tidak menuntut banyak ke sejumlah pihak. Mereka hanya meminta jaminan kepada pemerintah kota maupun pusat terkait biaya kehidupan dua cucunya. Baik biaya untuk sekolah maupun kebutuhan ke depan. Terkait proses hukum keluarga hanya bisa pasrah.
Sebab, keluarga sudah pesimistis akan menang di mata hukum. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Satun dan anak bungsu mereka atau adik dari Radina harus bekerja serabutan. Hari misalnya, harus merantau sebagai sopir di Kalimantan. Namun terpaksa berhenti sementara untuk merawat dua cucunya itu bergantian dengan Satun. Sementara Satun dan adik bungsu Radina bekerja sebagai penjaga kos.
”Intinya, kami hanya menuntut Devan dan Yusril dapat kepastian pembiayaan di mata hukum. Jangan nanti saat ganti pemimpin nasib kami terombang-ambing lagi,” harap Satun. Beberapa waktu lalu, dua balita itu sempat mendapat perawatan medis dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Satun bersyukur apa yang dia minta terwujud. Keluarganya tak ingin ke depan dua cucunya harus lontang-lantung. Serta berharap tragedi kelam itu tak terulang lagi. (*/adn) Editor : Mardi Sampurno