Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bangun Panti Asuhan di Tengah Keterbatasan Ekonomi

Mardi Sampurno • Jumat, 27 Januari 2023 | 17:30 WIB
JALAN HIDUP: Roizah dan Nursalim (tengah) bersama anak-anak yang belajar mengaji di rumahnya. Selain mengelola tempat pendidikan Alquran, pasangan suami istri itu juga mendirikan panti asuhan.
JALAN HIDUP: Roizah dan Nursalim (tengah) bersama anak-anak yang belajar mengaji di rumahnya. Selain mengelola tempat pendidikan Alquran, pasangan suami istri itu juga mendirikan panti asuhan.
IKHLAS menjadi salah satu prinsip bagi pasangan Roizah, 43, dan Nursalim, 50, dalam menjalani kehidupan. Bukan sebatas ucapan saja, tapi mereka wujudkan dalam tindakan. Misalnya, merelakan tanah rumah sebagai tempat penampungan anak yatim, atau yang sering dikenal panti asuhan. Rumah pasutri itu berada di Desa Plaosan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

Kini di belakang rumah itu berdiri bangunan yang menjadi tempat berlindung bagi 23 anak yatim, piatu, dan dari keluarga tak mampu. Bangunan itu diberi nama Panti Asuhan Nurul Muttaqiin. Mereka hidup ibarat keluarga. Anak-anak itu pun memanggil Roizah dan Nur Saliun dengan sebutan Umi dan Abi.

Keinginan membangun panti asuhan sebenarnya berawal dari ketidaksengajaan. Kala itu, Roizah merasa kesepian lantaran tiga anak kandungnya menempuh pendidikan di pondok pesantren. Rumah berukuran sekitar 90 meter persegi dengan tiga kamar itu pun serasa sunyi. ”Satu kamar untuk saya tempati, dan dua kamar kosong,” kata Roizah.

Saat sang suami berangkat bekerja, Roizah tinggal sendirian di rumah. Suatu pagi, dia terpikir untuk membantu merawat anak yatim piatu. Selain sebagai bentuk ibadah, Roizah juga ingin ada yang menemaninya ketika suaminya sedang bekerja. Dia pun membicarakan keinginan itu kepada Nursalim.

Nursalim ternyata menolak. Alasannya, kehidupan keluarganya masih terbilang pas-pasan. ”Nanti malah berdosa karena menelantarkan anak,” kata Roizah menirukan ucapan sang suami.

Roizah dan Nursalim memang bukan keluarga berada. Saat itu, Nursalim bekerja sebagai kuli bangunan. Gajinya jelas tidak seberapa. Selain untuk makan sehari-hari, dia masih harus membayar biaya ketiga anaknya yang mondok di pesantren. Sementara Roizah hanya menjadi ibu rumah tangga dan belum punya penghasilan tetap.

Namun, jalan untuk membantu merawat anak yatim tetap saja ada. Pada 2006, Roizah dipercaya menjadi guru mengaji anak-anak kampung di rumahnya. Itu pun tidak pernah direncanakan. Tiba-tiba saja, ada beberapa warga mengantarkan putra putrinya ke rumah Roizah dan minta diajari membaca Alquran. ”Sejak saat itu rumah saya jadi multifungsi. Sore jadi aman Pendidikan Quran (TPQ). Malam untuk beristirahat,” kata Roizah.

Dari hari ke hari, jumlah anak yang datang untuk belajar mengaji semakin banyak. Ketika sudah mencapai 20 murid, Roziah kewalahan. Dia menceritakan masalah itu kepada suaminya. Nursalim pun merasa kasihan dan tidak ingin melihat istrinya kewalahan serta kelelahan.

Akhirnya, Nursalim mengambil keputusan yang sangat mengejutkan. Dia berhenti bekerja jadi tukang dan fokus membantu Roizah mengajar anak-anak untuk mengaji. Apalagi masyarakat sekitar sudah memercayakan anak-anaknya untuk belajar mengaji kepada mereka.

Pada 2010, aktivitas Nursalim dan Roizah sebagai guru mengaji makin dikenal masyarakat. Keduanya bahkan mendapat tawaran untuk mengajar ngaji di beberapa tempat. Mulai di Kecamatan Kepanjen, Ngajum, dan hingga Sumberpujung. Keduanya juga mengajar ngaji beberapa pegawai RSUD Kanjuruhan, pegawai kantor pajak, hingga masyarakat umum.

Jadwal keduanya penuh dalam sepekan. Termasuk Sabtu dan Minggu pagi. Namun kalau sore keduanya kembali ke rumah, khusus untuk mengajar anak-anak mengaji. Tanpa disadari, perekonomian pasutri itu meningkat. Honor dari mengajar ngaji bisa dikatakan lebih dari cukup.

Roizah pun teringat keinginannya untuk membantu merawat anak yatim. Pada 2015, keinginan itu diceritakan kembali kepada Nursalim.

Dengan berbagai pertimbangan, ditambah ada dua kamar kosong di rumahnya, Nursalim berubah pikiran mengiyakan permohonan sang istri.

Keinginan itu langsung terwujud. Kebetulan ada dua murid ngaji di TPQ mereka yang yatim piatu. Namanya Uswatun Hasanah dan Solihah Nurhidayati. Roizah langsung menawari keduanya untuk tinggal di rumah mereka.

”Sekarang Uswatun sudah berusia 16 tahun, Solihah 17 tahun. Waktu pertama tinggal sama saya, mereka masih SD. Sekarang sudah kelas 3 SMP dan kelas 1 SMA,” kata dia.

Suatu ketika, tiba-tiba ada anak perempuan dari Lampung yang diantarkan orang ke rumah Roizah. Orang itu mengaku menemukan anak telantar di jalan. Orang tuanya tidak ditemukan. Lalu, ada yang menyarankan untuk membawa anak tersebut ke rumah Roizah.

Kejadian semacam itu terus berulang. Hingga 2017 sudah ada 9 anak yang dia tampung. Rata-rata semuanya perempuan. ”Waktu itu satu kamar diisi 4 anak, satu kamar lagi berisi 5 anak. Ya terasa penuh. Ingin nambah kamar, tapi uang tidak cukup,” kata dia.

Waktu itu, uang hasil mengajar ngaji para jamaah hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tak disangka, pada 2018 ada salah satu jamaah yang datang. Dia menanyakan kekurangan fasilitas untuk anak-anak yang tinggal di rumah Roizah dan Nursalim.

Awalnya Roizah hanya meminta bantuan bantal. Sama sekali tidak terpikir untuk minta dana pembangunan panti asuhan. Namun jamaah itu malah memberikan uang Rp 11 juta. Tentu berlebihan kalau semuanya dibelikan bantal.

Keinginan untuk mendirikan rumah panti asuhan pun muncul lagi. Hasil mengajar ngaji disisihkan. Roizah juga mulai berani menceritakan rencananya kepada para jamaah setiap selesai mengajar baca Alquran. Hal yang sama juga dilakukan Nursalim kepada para jamaahnya.

Bak gayung bersambut, para jamaah dan orang tua santri di TPQ bersedia membantu. Mereka dengan sukarela memberikan sumbangan sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang Rp 50 ribu, 100 ribu, hingga 500 ribu. ”Alhamdulillah, uang sumbangan jamaah dan hasil mengajar ngaji bisa digunakan untuk membangun panti asuhan. Letaknya di belakang rumah kami,” papar Roizah.

Anak-anak yatim piatu itu pun bisa menempati kamar dengan lebih nyaman. Namun Roizah masih terpikir tentang empat anak laki-laki yang masih tinggal dalam satu kamar. Sebab, sebelumnya panti asuhan itu dibangun untuk anak-anak perempuan.

”Awalnya memang perempuan semua. Karena ada yang menitipkan anak laki-laki, yo wis tidak apa-apa. Kasihan kalau ditolak,” terang Roizah. Kini di rumah panti itu ada 23 anak. Yakni 19 perempuan dan empat laki-laki. ”Kalau di TPQ ada sekitar 30 anak dari warga sekitar,” tandasnya. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno
#panti asuhan #Sosok inspiratif #Kota Malang #radar malang