Seluruh karyawannya adalah orang-orang yang pernah bermasalah dengan narkotika. Kini, produk unggulan mereka berupa kacamata dan jam tangan kayu sudah menembus pasar Eropa.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
THEO memulai bisnisnya pada 2015. Saat itu dia mempekerjakan 10 orang karyawan mantan pecandu narkotika. Bahkan beberapa di antaranya ada yang masih menggunakan barang haram tersebut.
Idealisme Theo saat itu adalah mengentas para pecandu narkotika, baik dari sisi ekonomi maupun perilaku.
Namun, menjalankan idealisme semacam itu sangat tidak mudah. Jauh lebih berat jika dibandingkan dengan bekerja dalam lingkungan yang serba normal.
”Dengan kondisi beberapa pekerja yang masih menggunakan narkotika, usaha itu boleh dibilang tidak karu-karuan. Banyak yang tertunda,” ungkap Theo di kantor Yayasan Sadar Hati dan workshop Sahawood, Jalan Puntodewo II, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, 9 Februari 2023.
Baca Juga : HIV/AIDS pada Perempuan Naik Tiga Kali Lipat.
Theo akhirnya memilih sedikit lebih pragmatis. Seleksi bagi orang-orang yang ingin bergabung lebih diperketat.
Bukan hanya para mantan pecandu narkotika saya yang bisa bergabung. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) pun dipersilakan, asal benar-benar punya minat dan kesungguhan.
Pria yang kini berusia 38 tahun itu juga membuka ruang bagi orang-orang yang tergolong berisiko tinggi terjerumus dalam penggunaan narkoba.
Ada juga pecandu yang masih menjalani rawat jalan dan rehabilitasi. Pada intinya, pria 38 tahun itu ingin menyelamatkan mereka yang dikucilkan masyarakat dengan stigma negatif.
Melalui seleksi yang lebih ketat, akhirnya terpilih mantan pecandu dan penyandang ODHA yang bisa fokus berkarya.
Dalam satu hari mereka bisa memproduksi 30 buah kacamata, jam tangan, maupun jam meja dari bahan kayu jati dan sonokeling. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Sebagian besar bahan-bahan yang dibawa ke workshop merupakan kayu potongan sisa industri mebel. Sebagian lagi kayu dari petani yang dibina Perhutani.
”Bukan kayu mentah gelondongan. Tapi sudah jadi potongan sehingga lebih mudah diproses dan menghemat waktu,” ucap dia.
Theo menjelaskan, hingga kini barang-barang yang dia produksi sudah tembus pasar mancanegara. Seperti Inggris, Amerika Serikat, Swiss, dan Australia. Harganya terbilang tidak murah.
Yakni Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta untuk pasar luar negeri. Sedangkan untuk pasar dalam negeri antara Rp 600 ribu hingga Rp 750 ribu.
”Kalau untuk pasar luar negeri, yang membuat mahal itu ada tambahan packing khusus dan biaya pengiriman,” ujar Theo.
Meski demikian, Theo tetap lebih condong pada pasar luar negeri karena lebih menjanjikan dan menguntungkan.
Baca Juga : 670 Kasus Baru HIV/AIDS Ditemukan.
”Kalau di lokal Malang orang lebih meminta harga murah,” ungkap dia.
Untuk pasar lokal, Theo mengandalkan pengenalan produk melalui platform jual beli online. Selain Kota Malang, produk Sahawood juga kerap dikirim ke Jakarta Bandung, Jogja, dan Bali.
Karena banyak menembus pasar mancanegara, produk-produk yang dihasilkan Sahawood jelas bukan barang murahan.
Misalnya untuk kaca mata. Nilai bahan untuk satu produk berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu.
Terdiri atas material kayu pilihan, engsel berbahan nikel, lensa kacamata polarize UV 400 berbahan polycarbonate atau pun mika. Dan bisa tambah pernik-pernik lain seperti batu akik.
Sementara jasa untuk pembuatan yang dibayarkan kepada karyawan berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per item. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Usaha yang terbilang mapan itu sempat dihantam pandemi Covid-19. Aktivitas produksi mandek selama dua tahun. Para pekerja terpaksa dirumahkan.
”Ada yang bekerja di tempat lain, ada juga yang mengulangi perbuatan dan tertangkap lagi,” ujar dia.
Setelah pandemi mereda, asa bersaing di pasar mancanegara pun coba dirintis lagi. Produksi berjalan dengan lima karyawan.
Kebanyakan adalah orang-orang baru. Theo kembali menghubungi distributor di Inggris yang semua ada dua dan kini tersisa satu karena pailit.
Sedangkan untuk pasar Australia, distributor masih akan datang ke Malang untuk mengecek barang.
Dalam waktu dekat, Sahawood juga akan menerima bantuan dua alat produksi dari PT Berdikari Meubel Nusantara (BMN) melalui MoU yang ditandatangani 9 Februari 2023.
Baca Juga : Lima Kematian Pasien HIV/AIDS Sepanjang 2022.
Dalam perjanjian tersebut, Direktur Utama PT BMN Dwi Wahyu Aprianto berjanji memberikan bantuan kayu sebagai bahan produksi serta pemasaran produk. Sebut saja ke Prancis dan Spanyol.
Hal lain yang telah dilakukan Theo adalah menjalin kerja sama dengan dua lembaga pemasyarakatan di Kota Malang. Lapas Sukun untuk pemasaran produk Bimbingan Kerja (Bimker) fashion,
Lapas Lowokwaru untuk pembinaan berkelanjutan bagi mantan napi pecandu narkoba.
”Sistemnya, kalau kami butuh karyawan lagi tinggal menghubungi Lapas Lowokwaru. Mereka tinggal menyiapkan orang-orangnya. Diutamakan yang sudah bersih,” tandas Theo. (*/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana