Andalkan Google Translate saat Pijat Penggawa Asing
Teknik memijat sudah dipelajari Akhmad Khamim saat berkuliah. Dia mulai membuka praktik di tahun 1992. Berkat keterampilannya, pria berusia 52 tahun tersebut sempat dipercaya tiga tim sepak bola untuk menjadi masseur.
Galih R Prasetyo
Kasur berukuran 90 x 100 sentimeter jadi alat andalan Akhmad Khamim. Di atas kasur itu lah Jawa Pos Radar Malang merasakan pijatan dari jari-jarinya, pekan lalu.
Tidak ada ruangan khusus yang dia pergunakan untuk memijat orang. Khamim hanya memanfaatkan ruang tamu rumahnya, yang berada di Desa Bocek, Kecamatan Karangploso.
Seperti tukang pijat pada umumnya, dia mengawali proses memijat dengan mengoleskan minyak.
Gerakan mengurut yang dia lakukan sangat konsisten. Dimulai dari bagian bawah ke atas. Itu berlaku untuk semua bagian tubuh orang yang dipijat.
Selama proses memijat, Khamim selalu berusaha membuat pasiennya tenang. Dia biasa bercerita dan memberikan tips untuk pasiennya.
Baca Juga : Hadapi Singo Edan, Pelatih dan Pemain Persija Rindukan Aremania.
Selepas 10 menit, dia meminta wartawan koran ini menendang bola di tembok. Menurut dia, gerakan itu ditujukan untuk mengecek bagian engkel, yang sedari awal dikeluhkan wartawan koran ini.
Selepas memijat, dia kembali melanjutkan ceritanya. Khamim mengaku mulai memijat pada awal 1990-an. Saat ini, bapak tiga anak itu sudah punya banyak pelanggan.
Beberapa di antaranya adalah para pemain Liga 1. Nama-nama seperti Teguh Amiruddin, Kushedya Hari Yudo, dan I Putu Gede sempat datang kepadanya saat mengalami problem di bagian kaki.
Jawa Pos Radar Malang turut mengonfirmasi Teguh Amiruddin. Kiper Singo Edan itu pun membenarkannya.
Dia mengaku sempat datang ke Khamim jelang berangkat ke Timnas, 2014 lalu. ”Ketika itu, ada masalah pada bahu dan engkel saya. Bawa ke sana sebagai bagian dari penyembuhan,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Malang.
Senada dengan Teguh, pemain Madura United Otavio Dutra juga sempat menjalani terapi di tempat Khamim. Itu dia lakukan saat masih berseragam Persebaya.
”Benar, dia (Khamim) pernah membantu saya. Dia orang yang baik,” terangnya saat dihubungi koran ini. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Pelatih Arema FC I Putu Gede juga sempat datang ke Khamim. Mantan pelatih PSS Sleman itu sempat mengalami problem di bagian engkelnya.
”Tapi saat itu sudah tidak jadi pemain bola,” jelas dia. Seingat Putu, saat itu Khamim dia panggil ke rumahnya usai mendapatkan rekomendasi mantan pemain bola lainnya.
Mengenai urusan memijat pemain bola, kakek yang memiliki satu cucu itu menyebut bila sejumlah pemain naturalisasi dan asing sempat menggunakan jasanya.
Selain Otavio Dutra, ada Marc Klok, Ali Khadafi, Amido Balde, sampai Makan Konate.
Dia mengaku bila yang sering dikeluhkan pemain adalah problem di bagian otot paha. ”Keluhan Klok, Dutra, dan Balde pada hamstring-nya,” kata Khamim.
Selama menjalankan tugasnya, Alumnus IKIP Budi Utomo itu mengaku tidak ada permasalahan berarti. Sebab, umumnya otot para pemain asing bersifat kering.
Baca Juga : Perbaiki Statistik Kiper, Pelatih Arema FC Maksimalkan Proses Analisis.
Tidak banyak lemak yang menutupi. Itu membuat dia lebih mudah untuk melakukan terapi. ”Satu-satunya kendala itu di bahasa,” imbuh pria berusia 52 tahun tersebut.
Karena itu, dia perlu menggunakan google translate saat melakukan terapi kepada pemain asing yang belum menguasai Bahasa Indonesia.
Ilmu dan teknik memijat sendiri sudah dipelajari Khamim sejak mengenyam pendidikan di kampus.
”Dulu juga sempat belajar sport science. Di dalamnya juga mempelajari anatomi tubuh manusia,” tutur alumnus jurusan keolahragaan tersebut.
Khamim mulai fokus memijat di tahun 1992. Saat itu dia memutuskan untuk membuka tempat pijat khusus.
Tujuannya untuk memudahkan orang yang membutuhkan bantuannya. Seiring berjalannya waktu, sepak terjangnya semakin dikenal luas. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Pada tahun 1998, dia sempat ditarik PSBK Blitar. Di sana dia didapuk menjadi masseur tim.
Lalu pada 2012, dia bergabung dengan klub asal Papua, Perseru Serui. Dua tahun berselang, dia menjadi bagian Persepam Madura.
Di tim-tim tersebut, dia juga menjadi masseur. Track record yang bagus itu membuat dia dilirik tim asal ibu kota, Persija Jakarta.
Hingga di musim 2020/2021, dia sempat ditawari untuk menjadi masseur. ”Saat itu Dutra yang merekomendasikan ke manajemen (Persija),” ucapnya.
Tawaran itu pun dia tolak. Khamim lebih memilih membuka praktik di rumah, sehingga bisa menolong lebih banyak orang.
Setiap hari, rata-rata ada 10 orang yang meminta dia untuk memijat. Selain atlet, warga sekitar dan para pekerja juga menjadi pelanggannya.
Baca Juga : Tackle Ilham Udin, Pemain PSM Makassar Ini Dapat Sanksi Tambahan.
Pada beberapa dokumentasi yang ada di media sosialnya, tampak beberapa tokoh juga sempat menggunakan jasa Khamim. Seperti dilakukan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
Selama membuka praktik di rumahnya, dia mengaku tidak pernah membanderol biaya. Pemberian kepadanya bersifat sukarela.
”Saya hanya perantara saja Mas. Masak iya ada tarifnya,” tuturnya. Menurutnya, semua kesembuhan atas izin dari Allah SWT. (*/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana