Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mirza Dhia Ramadhan, Atlet Muda Berprestasi Cabor Panahan Berkuda

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Sabtu, 18 Februari 2023 | 03:00 WIB
KERAP JUARA: Mirza Dhia Ramadhan menggigit salah satu medali kejuaraan panahan berkuda yang dia raih tahun lalu. (MIRZA DHIA RAMADHAN/RADAR MALANG)
KERAP JUARA: Mirza Dhia Ramadhan menggigit salah satu medali kejuaraan panahan berkuda yang dia raih tahun lalu. (MIRZA DHIA RAMADHAN/RADAR MALANG)
Mirza sering menjadi atlet termuda dalam turnamen horseback archery atau panahan berkuda. Bahkan, dalam kebanyakan event, dia harus bertanding dengan pelatihnya sendiri.

 
Patah Tulang Kaki Jadi Alasan Tekuni Horseback Archery

FAJAR ANDRE SETIAWAN

JIKA tulang kakinya tak patah, mungkin Mirza tak akan pernah menekuni horseback archery.

Sebab, remaja 18 tahun itu tak pernah punya ketertarikan pada cabang olah raga tersebut. Sebelumnya dia menekuni olah raga yang lebih umum, yakni basket ball.

Mungkin sudah menjadi jalan hidupnya. Saat berlatih basket, Mirza mengalami cedera hingga tulang kaki kanannya patah.

Dia harus absen dari semua kegiatan basket selama enam bulan untuk pemulihan. Namun saat sembuh, Mirza tetap tidak bisa bermain basket dengan optimal.

Setiap kali mencoba melatih kaki dengan berlari, rasa sakit dan ngilu selalu muncul. Bahkan serasa tak bisa ditahan.

Keputusan berat pun diambil. Mirza benar-benar meninggalkan basket dan mencoba melirik cabang olahraga lain.
Baca Juga : Bahagia saat Menarik Anak Panah.

Pilihannya adalah olahraga yang tidak menggunakan kekuatan otot kaki secara berlebihan. Pada 2019, dia mulai berlatih horseback archery.

”Saat itu saya kelas 9 SMP. Pilih panahan berkuda karena olahraga itu sangat menantang,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Malang.

Awalnya Mirza tak punya ekspektasi lebih. Namun, karena merasa sangat cocok dengan olahraga yang memiliki tingkat kesulitan tinggi itu, Mirza langsung mengikuti turnamen.

Tahun itu juga dia mampu meraih gelar juara. Sempat terhenti selama dua tahun pandemi Covid-19, Mirza kembali aktif mengikuti turnamen pada 2022.

Hasilnya sangat membanggakan. Siswa kelas XII SMA di Thursina Internasional Islamic Boarding School (IIBS) itu mampu meraih delapan gelar juara.

Event terbaru yang dia ikuti adalah kejuaraan internasional di Indonesia pada Desember tahun lalu. Turnamen itu menjadi sangat spesial bagi Mirza. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Bukan karena label internasionalnya. Juga bukan karena pesertanya yang datang dari enam negara.

Namun lebih karena turnamen itu dia ikuti tanpa persiapan dan tetap berhasil meraih gelar juara.

Yakni medali emas Patih Laga II Internasional HBA (Horseback Archery) Open Tournament di Bedali, Lawang, pada 10-11 Desember 2022.

Dalam event itu, Mirza sempat kesulitan mendapat restu dari sekolah. Dia diminta fokus mempersiapkan diri untuk mengikuti rangkaian seleksi masuk perguruan tinggi.

Namun, keinginan Mirza untuk mengikuti turnamen tersebut tinggi. Hingga akhirnya sekolah memberikan izin sehari sebelum turnamen digelar.

”Benar-benar tanpa persiapan. Padahal kalau ada turnamen, setidaknya dua minggu sebelumnya harus latihan intensif,” ungkapnya.
Baca Juga : Per Hari Latihan Tiga Jam, Mampu Memanah 40 Meter.

Alasan kedua yang membuat ajang tersebut spesial adalah keberadaan pelatih yang saat itu menjadi lawan Mirza. Hal itu sebenarnya bukan kali pertama dialami Mirza.

Dia kerap berhadapan dengan pelatih dalam sebuah turnamen. Itu terjadi karena dia memiliki banyak pelatih.

Kegiatan ekstrakurikuler panahan yang dilaksanakan di sekolah memang dirasa kurang oleh Mirza.

Karena itu, saat bersiap mengikuti turnamen, dia kerap mengikuti latihan di beberapa daerah. Misalnya di Madiun. Hal serupa dia lakukan saat liburan.

”Turnamen horseback archery kerap diadakan ”open” alias untuk umum. Karen itu saya bisa ikut dan menjadi atlet paling muda,” terangnya.

Untuk memanah di atas kuda yang sedang berlari tentu tidak mudah. Mirza perlu kekuatan fisik di bagian paha dan dada. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Kekuatan paha untuk mengikuti ritme kuda yang sedang berpacu. Sedangkan kekuatan dada untuk menstabilkan tubuh agar tidak goyang saat memanah.

Kekuatan fisik itu masih harus diimbangi dengan konsentrasi. ”Kalau kontrol perasaan lebih diperlukan ketika melihat lawan yang tampak profesional. Itu juga penting untuk memahami karakter kuda,” imbuhnya.

Mirza memang dilatih memiliki ikatan emosional dengan kuda yang digunakan berlaga dalam sebuah turnamen. Ikatan itu sangat menentukan keberhasilan saat memanah.

Karena itulah, dia tak pernah lupa memberikan tepukan di bagian leher kuda dan memberikan makanan setelah kuda tersebut menjalankan perintah dengan baik.

”Karakter kuda harus dikenali dengan. Kalau kuda sudah nurut, selanjutnya tinggal kita perintah dengan lembut. Kalau kita keras sedikit saja, dia akan berontak,” tegasnya.

Sebelumnya, Mirza juga berhasil meraih juara dua dalam ajang Pordasi Horse Back Archery Championship 2022 pada 27 Februari 2022 lalu.

Dari sana, Mirza mengaku mempunyai kesempatan untuk mewakili Jawa Timur dalam PON yang akan diselenggarakan 2024 mendatang.

”Informasi yang saya terima seperti itu. Tapi untuk kepastiannya masih menunggu kabar lanjutan,” tandasnya. (*/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#panah #cabor ##beritamalang #radarmalang ##jawaposradarmalang #kuda ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini #berkuda