Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Darwanto, Guru SD yang Juga Penulis Berprestasi

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Minggu, 12 Maret 2023 | 03:06 WIB
GURU : Darwanto dan buku karyanya yang ditulis dengan nama pena Masdhar Zaenal. (Darwanto for Radar Malang)
GURU : Darwanto dan buku karyanya yang ditulis dengan nama pena Masdhar Zaenal. (Darwanto for Radar Malang)
Terbitkan 25 Buku, Juarai 25 Kejuaraan Nasional

Tak banyak guru SD di Kota Malang yang berprofesi sebagai penulis. Darwanto adalah satu di antara sebagian kecil guru SD yang jago menulis. Dalam kurun 14 tahun, dia berhasil menerbitkan 25 buku dan menjuarai 25 kejuaraan nasional.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

ARAH jarum jam menunjukkan pukul 12.30. Seorang pria duduk bersantai di ruang guru SD IT Insan Permata sembari menunggu jam pelajaran selanjutnya.

Pria itu adalah Darwanto, guru kelas IV sekaligus penulis berprestasi. Di sela-sela kesibukannya mengajar, Darwanto menceritakan awal mula menjadi seorang penulis.

“Saya awalnya suka baca. Kebiasaan itu yang kemudian mendorong saya untuk mencoba menulis,” tutur pria 39 tahun seraya menunjuk deretan buku hasil karyanya itu, kemarin (9/3).

Terlahir dari seorang ibu yang tidak pernah mengenyam pendidikan, Darwanto menyadari betapa pentingnya wawasan.

Kondisi itulah yang memotivasi dia gemar membaca, kemudian menjadi penggiat literasi.

Setelah meng-khatam-kan banyak buku, Darwanto muda memberanikan diri menulis. Bagi pemilik nama pena Masdhar Zaenal itu, tentu tidak mudah.
Baca Juga : Lewat Lomba Menulis, Rangsang Budaya Baca.

Selain belum menguasai teknik menulis, alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang itu juga harus melawan rasa malas.

Semangatnya untuk menulis bangkit setelah teringat ucapan novelis kondang, Pramoedya Ananta Toer. ”Kata pram, menulis adalah bekerja untuk keabadian,” ucap Darwanto.

”Kalimat itu yang memotivasi saya. Hanya dengan menulis, pikiran baik kita akan terus dikenang dan dipelajari sekalipun setelah kita nanti tidak ada lagi di dunia ini,” tambah ayah dari tiga anak itu.

Darwanto memulai menulis sekitar 14 tahun silam. Karya pertamanya adalah novel Islami. Novel berjudul ”Zalzalah” itu langsung dipinang oleh salah satu penerbit mayor di Jogjakarta.

Kepercayaan dari penerbit membuat Darwanto semakin percaya diri alias pede untuk menyelami dunia tulis-menulis. Ide membuat karya tulis bisa muncul dari mana saja.

Dia sering mendapatkan ide saat tengah mengajar di kelas. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Misalnya dari celetukan siswa-siswi ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Atau ekspresi siswa yang sulit dipahami orang dewasa, sehingga tingkah laku mereka dinilai mengejutkan.

Boleh jadi karena inspirasinya berasal dari anak-anak, Darwanto kerap menceritakan intisari bukunya ke anak-anak. Tidak sedikit dari siswa-siswi yang akhirnya membeli karyanya.

“Orang tua juga kadang membeli. Atas dasar kedekatan tersebut akhirnya kita bisa memancing minat membaca anak-anak,” tuturnya.

Hingga kini, dia sudah menghasilkan 15 buku. Salah satu bukunya diterbitkan oleh penerbit Elex Media yang merupakan anak perusahaan Gramedia.

Tahun ini dia tengah menanti satu karyanya yang akan diterbitkan oleh Gramedia. Selain menulis buku, Darwanto buka banyak menulis cerpen.

Ada ratusan cerpen yang sudah tayang di media massa, baik cetak maupun online. Sepanjang perjalanannya sebagai penulis, ada momen-momen yang paling berkesan dalam hidup Darwanto.
Baca Juga : Tim Dosen UIN Maliki Malang Gelar Pelatihan Menulis Ilmiah untuk Guru SD/MI.

Salah satunya, dia dipercaya oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) RI dalam kegiatan Sastrawan Berkarya ke wilayah 3T (Terpencil, Tertinggal, dan Terdalam).

Momen itu berlangsung tiga tahun silam, tepat sebelum pandemi Covid-19. Darwanto terbang ke Sulawesi untuk mempelajari kebudayaan yang ada di sana.

“Saya tinggal di sana selama satu bulan dengan semua biaya ditanggung pemerintah,” ungkapnya.

Dia bertugas membukukan kebudayaan-kebudayaan di Sulawesi. Selain untuk publikasi, pria kelahiran Madiun itu juga aktif mengikuti berbagai lomba.

Sejak menulis pertama kali sejak tahun 2010, dia sudah menjuarai 25 kejuaraan nasional. Bagi Darwanto, kesuksesannya menjadi penulis tidak lepas dari jasa ibunya.

Meski ibunya tidak berpendidikan tinggi, Darwanto merasakan didikan ibunya yang mengantarkannya menjadi penulis berprestasi. (Bersambung ke halaman selanjutnya)



Kini, Darwanto mempunyai misi untuk terus menggaungkan literasi. Dia ingin mencerdaskan anak-anak, meski mereka terlahir dari keluarga buta pendidikan.

Dia juga ingin banyak terlahir penulis hebat, meski dari keluarga berpendidikan rendah.

Selain memaparkan bahwa kunci menjadi penulis adalah rajin membaca, Darwanto juga menunjukkan waktu-waktu yang paling bagus untuk menulis.

”Waktu paling moncer untuk mengetik adalah selepas isya dan sebelum subuh. Di waktu-waktu itulah karya-karya saya lahir,” ungkapnya.(*/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
##beritamalang #radarmalang ##jawaposradarmalang ##mediaonlinemalang ##beritamalanghariini ##radarmalanghariini