Latihan Tiap Sore, Konsumsi Dua Liter Air sebelum Puasa
Harus berlatih keras di Bulan Ramadan menjadi pengalaman kedua bagi Izzy Dwifaiva Hefrisyanthi. Pada 2021 lalu, dia harus mempersiapkan diri untuk PON XX Papua. Kali ini, dia bersiap untuk Kejurnas Renang, bulan Juni nanti.
Galih R Prasetyo
Setelah memanjatkan doa, Izzy Dwifaiva Hefrisyanthi langsung menceburkan diri ke Kolam Renang Universitas Ma Chung, Sabtu sore (1/4).
Di kolam berukuran 15 x 25 meter itu lah dia menjalani menu latihan rutin. ”Lebih dari 3.000 lap yang harus ditempuh,” kata atlet kelahiran 25 Januari 2005 itu.
Fokusnya saat ini adalah maintenance fisik. Karena itu, menu latihan renang dengan jarak jauh harus dijalani.
Aktivitas itu menjadi bagian dari persiapannya tampil di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Renang, Juni mendatang.
Informasinya, mereka yang berhasil mendapatkan peringkat 1 dan 2 di ajang itu akan langsung mendapatkan tiket PON 2024.
Karena itu lah, anak ketiga dari empat bersaudara tersebut tetap semangat latihan, meski harus berpuasa. Dia terus berenang bolak-balik tanpa mengambil jeda.
Baca Juga : Cerita Atlet Malang Raya yang Tetap Beraktivitas di Bulan Ramadan (1).
Berdasar perhitungan wartawan koran ini, dia mulai berenang pukul 15.00 WIB sampai 17.05 WIB. Menjalani latihan sembari berpuasa, yang paling dirasakan Izzy bukanlah lapar.
Siswi SMAN 4 Malang tersebut lebih merasakan dahaga. Tenggorokannya seakan kering.
”Tantangannya itu lebih ke minum kalau saya, karena pasti haus setelah latihan begini,” tambahnya.
Sejumlah pelatih renang mengakui bila saat sesi latihan dan bertanding, tubuh atlet juga mengeluarkan cairan. Layaknya olahraga lain.
Namun, karena di air, cairan yang keluar tidak terlihat. Karena itulah, atlet renang juga merasakan haus meski berlatih di dalam kolam renang.
Untuk mengantisipasi dehidrasi, Izzy berusaha minum lebih dari dua liter sebelum puasa. Itu dimulai dengan mengonsumsi air sebelum salat Tarawih sampai masuk waktu sahur. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Selain itu, dia juga berusaha tidak melakukan aktivitas berat sebelum latihan. Seperti melakukan tambahan latihan di gym.
Itu dilakukan agar tubuhnya tidak mengeluarkan banyak cairan sebelum latihan di sore hari. Izzy juga menjaga asupan makanan.
Kebutuhan karbohidrat, protein, sampai sayur cukup diperhatikan. Dia juga sering menambah vitamin untuk menjaga kebugarannya.
Meski berlatih sore di bulan Ramadan, tantangan yang dihadapinya juga lebih berat. Sebab di waktu tersebut tubuhnya mulai lemas, setelah beberapa jam menahan lapar dan dahaga.
Karena itu, dia perlu berkonsentrasi untuk membuat gerakannya tetap efisien di dalam air.
”Biasanya kalau sudah begitu rasanya pasti lemas dan pusing,” ucap atlet yang berdomisili Sawojajar itu.
Baca Juga : Porsi Latihan Atlet Selam Tetap 6 Kali Seminggu di Bulan Ramadan.
Dorongan-dorongan tersebut tidak sampai membuat puasanya batal. Motivasinya yang kuat menjadi modal utamanya.
”Selalu bilang dalam hati kalau sebentar lagi buka dan latihan sudah selesai,” tutur peraih medali perunggu di ajang Islamic Solidarity Games di Turki, 2022 lalu.
Menjalani persiapan turun di Kejuaraan Nasional sembari puasa, bukan pertama kali dirasakan Izzy. Dua tahun lalu, dia juga sempat merasakannya.
Saat itu, atlet dari klub renang Taman Harapan Kota Malang itu menempa diri untuk PON Papua XX Papua 2021 lalu.
Selama melakukan aktivitas tersebut, atlet penyuka buku psikolog itu berlatih di waktu yang berbeda dengan sekarang. ”Saat itu latihannya setelah subuh sampai jam 9 pagi,” kenangnya.
Saat itu, dia tidak hanya berlatih di kolam renang saja. Namun juga di tempat gym.
Kunci suksesnya lagi-lagi karena niat. Upaya dan tekad Izzy pun berbuah manis.
Pada PON XX Papua 2021 lalu, dia sukses memborong sejumlah medali. Seperti medali perunggu di nomor 400 meter gaya bebas putri dan 4 x 400 meter gaya bebas estafet putri.
Saat ini, latihannya rutin digelar enam kali dalam sepekan. (*/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana