Sebenarnya, Muhammad Ihram Sadaniah mendaftar haji bersamaan dengan ayahnya. Namun sang ayah ternyata berangkat lebih dulu pada tahun lalu. Meski masih berusia 20 tahun, Ihram yakin bisa menjalani seluruh rangkaian ibadah haji tanpa pendampingan keluarga.
HANIFUDDIN MUSA
ADA kenangan sedih di balik keberangkatan Ihram untuk berhaji tahun ini. Pada 2011 silam, kedua orang tua Irham, Nurholis dan Idatul Badiah, bertekad untuk bisa berangkat menunaikan ibadah haji bersama. Rencana untuk mendaftar bertiga pun sudah disusun. Namun takdir berkata lain. Ibunda Irham meninggal dunia.
Setelah 40 hari berselang, Nurholis tetap berangkat ke kantor Kemenag untuk mendaftar haji. Nama yang didaftarkan tidak lagi tiga orang. Melainkan hanya Nurholis dan Ihram yang saat itu masih berusia 9 tahun.
Kenangan tentang sang ibu itu masih terus melekat di rumah Ihram yang berlokasi di Desa Ganjaran, RT 01/RW 25, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Di rumah yang dilengkapi pendapa kecil itu, terpajang beberapa foto perempuan yang sama.
”Oh, itu foto ibu kandung saya. Dulu ayah berkeinginan untuk memberangkatkan kami bertiga. Haji bareng-bareng. Tapi ibu meninggal duluan. Sekarang di rumah ini tinggal saya sama ayah,” ujar Ihram.
Dia menceritakan, sang ayah sangat bersungguh-sungguh untuk memberangkatkan haji seluruh keluarganya. Berbekal lahan pertanian tebu yang luasnya tidak sampai 1 hektare, Nurholis selalu bisa menyisihkan tabungan untuk berhaji ketika panen. Termasuk mendaftarkan Ihram pada usia 9 tahun agar bisa naik haji pada usia muda.
Sayang, impian untuk berangkat haji bertiga tak kesampaian. Idatul Badiah meninggal pada usia 37 tahun, tepatnya pada 2011 silam. ”Saat itu saya duduk di bangku kelas dua Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatul Ulum Gondanglegi,” terang Ihram.
saat didaftarkan haji. Biasa saja karena belum banyak tahu tentang ibadah haji yang menjadi cita-cita seluruh umat Islam. Yang justru muncul adalah perasaan sedih lantaran ditinggal pergi ibu tercinta untuk selamanya.
Seiring bertambahnya usia, Ihram mulai bertanya kepada Nurholis kapan mereka berangkat haji. Namun sang ayah selalu meminta Ihram bersabar. Berkali-kali dia hanya mendengar jawaban bahwa antrean untuk berhaji itu lama dan panjang.
Sempat tebersit pikiran bahwa ayahnya itu bohong. Pura-pura mendaftarkan haji untuk menghilangkan kesedihan Ihram ketika ibunya meninggal. Apalagi tetangganya banyak yang sudah pergi berhaji. Sementara Ihram tidak pernah mendapat kepastian dari ayahnya.
Pada 2018, Ihram lulus dari MTS Raudlatul Ulum Gondanglegi, kemudian mondok di Pesantren Lirboyo. Artinya, sudah sekitar delapan tahun dia antre berhaji. Sekali lagi dia bertanya kepada Nurholis kapan bisa berangkat haji. Namun tetap saja sang ayah tidak bisa memberi kepastian.
Rasa curiga itu akhirnya hilang tahun lalu. Saat itu Nurholis mendapat panggilan untuk naik haji. Kalau mengacu pada antrean, Ihram sebenarnya juga terjadwal berangkat tahun lalu. ”Berhubung ada pembatasan kuota 40 persen, dan usia saya terlalu muda, akhirnya keberangkatan tertunda. Yang berangkat hanya ayah saja,” kata santri Ponpes Lirboyo itu.
Tahun ini, Ihram akan berangkat berhaji tanpa didampingi keluarga. Namun bekal pendidikan agama yang kuat membuatnya percaya diri. Selain berhaji, dia sudah membayangkan untuk bisa berziarah ke makam Rasulullah di Madinah, serta mengunjungi Gua Hira, tempat Nabi Muhammad pertama kali mendapatkan wahyu dari Allah SWT.
”Insya Allah saya siap. Saya sudah rajin berlatih lari pagi dan mempelajari rukun haji. Bahkan saya juga banyak menerima pesanan nama agar didoakan,” katanya.
Jika dijumlahkan, orang yang sudah memesan untuk didoakan itu mencapai seratus nama. Mulai dari kerabat, sepupu, hingga teman-teman pondok yang kenal dekat dengan dia. Bahkan, Ihram mengaku ada yang sampai mencetak foto untuk kemudian meminta dikuburkan di Jabal Rahmah dengan tanda kutip ia bisa terpanggil berkunjung ke tanah suci.
”Insya Allah Semua pesanan saya usahakan semua. Termasuk hajat-hajat saya, keluarga, kerabat, dan juga para guru serta teman-teman saya,” tutupnya. (*/fat) Editor : Fathoni Prakarsa Nanda