Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sisi Lain Kades Kaliasri Gaguk yang Tak Pernah Ambil Gaji selama Menjabat

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 21 Juni 2023 | 02:00 WIB
HIDUP UNTUK MENGABDI: Kades Kaliasri bersantai di rumahnya, Dusun Umbuldawe, Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Sabtu lalu (17/6).
HIDUP UNTUK MENGABDI: Kades Kaliasri bersantai di rumahnya, Dusun Umbuldawe, Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Sabtu lalu (17/6).

Terungkap sisi lain Gaguk, Kepala Desa (Kades) Kaliasri yang dipaksa warganya untuk mencalonkan lagi dalam Pilkades 2023. Selain menyumbangkan seluruh gaji dan tunjangannya ke warga, dia juga rutin memberi makan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

BIYAN MUDZAKY HANINDITO

SEORANG pria berkaus oblong dipadu celana pendek duduk bersantai di rumahnya, Dusun Umbuldawe, Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Sabtu lalu (17/6). Di sela-sela berkomunikasi dengan seseorang melalui sambungan telepon seluler (ponsel), dia mempersilakan Jawa Pos Radar Malang masuk ke rumahnya.

Pria itu bernama Gaguk, Kades Kaliasri yang beberapa waktu lalu viral lantaran didemo warganya. Mereka berunjuk rasa bukan karena tidak puas terhadap kinerja Gaguk, melainkan sangat puas. Itulah yang membuat warga beramai-ramai mendatangi rumah Gaguk agar mencalonkan lagi dalam pilkades 2023, Juni lalu. Aksi unjuk rasa yang tak lazim itu viral di media sosial (medsos).

Kini, pria 53 tahun yang menjabat Kades Kaliasri untuk periode keduanya itu kembali viral. Aksinya yang memberi makan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tertangkap kamera orang tidak kenal, kemudian diunggah di medsos.

Sekilas, tak terlihat bahwa Gaguk adalah seorang Kades. Bisa jadi, orang yang mengabadikan aksi Gaguk saat memberi makan ODGJ juga tidak mengetahui bahwa Gaguk adalah Kades. Maklum, dia termasuk pimpinan perangkat desa (pemdes) yang tidak suka memakai seragam. Selama enam tahun menjabat Kades pada periode pertama, Gaguk memakai baju biasa. Kaus oblong dibalut celana pendek.

Kebiasaan tidak memakai seragam dinas itu dilanjutkan hingga periode keduanya. ”Kecuali kegiatan resmi seperti upacara,” kata Gaguk yang mengenakan kaus oblong dipadu topi khas petani tebu itu.

Aksi memberi makan ODGJ tersebut bukan pencitraan. Tentu dia tidak perlu pencitraan karena sudah berhasil mengambil ”hati” warganya. Indikasinya, Gaguk yang tidak berniat menjabat Kades lagi itu dipaksa rakyatnya agar mencalonkan lagi dan menang mutlak, sehingga terpilih lagi untuk periode kedua.

Aksi memberi makan ODGJ yang tertangkap kamera hingga berujung viral itu bukan kebetulan. Sebab, setiap hari Gaguk memberi makan ODGJ. Biasanya, dia membawa makan dari rumah, kemudian diberikan kepada ODGJ yang ditemui di jalan. ”Kadang saya beli di warung dekat rel Karangkates. Kadang di mobil sudah ada beberapa juga,” kata Gaguk.

Untuk menguji pernyataan Gaguk, wartawan koran ini menemui pemilik warung di kawasan palang pintu Kereta Api (KA) Karangkates. ”Dia (Gaguk) biasanya membeli sebungkus nasi dan lauknya saya yang tentukan,” tutur pemilik warung tersebut.

Bagi Gaguk, memberi makan ODG merupakan tugas semua orang yang merasa mempunyai jiwa yang waras. ”Kalau orang waras tidak memberi makan (ODGJ) itu berarti tidak waras dong?,” kelakar dia.

Selain rutin memberi makan ODGJ dan rajin sedekah, Gaguk tidak pernah mengambil gajinya selama menjabat Kades. Sesuai UU 6 tahun 2014 tentang desa dan dijabarkan dalam peraturan pemerintah (PP) 11 tahun 2019, setiap kades berhak mendapatkan gaji. Besarannya bervariasi, tergantung dana desa (DD) dan kondisi desanya.

Sejak menjabat Kades Kaliasri pada 2017 lalu, Gaguk berhak mendapatkan gaji Rp 4 juta sampai Rp 4,7 juta per bulan. Itu belum termasuk pemasukan dari tanah kas desa atau bengkok dan tunjangannya.

Tapi gaji dan tunjangannya tidak pernah diambil. ”Saya rasa ada yang lebih membutuhkan uang itu, apalagi saya sudah pernah merasakan bagaimana tidak punya uang itu dan kerja keras,” katanya.

Tanpa gaji, Gaguk sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Penghasilannya sebagai petani tebu sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya. Dia bersedia menjadi kades bukan untuk mencari kehidupan, melainkan ingin mengabdikan hidupnya. ”Karena saya merasa dibayar warga adalah ketika saya di-demo warga untuk kembali menjabat sebagai Kades,” ungkap Kades penghobi olahraga sepeda tersebut.

Di bawah kepemimpinannya, dia tidak ingin ada warganya yang kelaparan. Gaguk tahu betul bagaimana susahnya orang miskin. Maklum, dia pernah merasakan pahitnya hidup. Sebelum menjadi Kades, Gaguk pernah bekerja sebagai tukang tambal ban di Kalimantan Barat. Juga pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Tapi kemudian dia kembali ke Kalipare dan mulai menanam tebu dan membuka usaha di bidang tersebut. Usahanya berjalan hingga sekarang.

Lantas ke mana gaji Gaguk yang tidak pernah diambil itu? Dia sedekahkan ke warganya yang membutuhkan. Juga untuk membangun balai desa dan pendapa. Membangun dan merevitalisasi masjid serta musala.

Tahun ini, dia ingin menyumbangkan gaji dan tunjangannya untuk janda yang miskin. “Sudah mulai didata. Yang benar-benar tergolong fakir miskin diberi, tapi yang anaknya mampu tidak diberikan,” kata Gaguk. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#jawa pos radar malang #Viral #kades #gaguk #Kalipare #radar malang