Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Juve Henson, Lulus Cumlaude meski Sempat Hidup dengan Rp 200 Ribu per Bulan

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 29 Juni 2023 | 20:00 WIB
Juve Henson diwisuda pada 25 Juni 2023 lalu Jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) selama 3 tahun empat bulan.
Juve Henson diwisuda pada 25 Juni 2023 lalu Jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) selama 3 tahun empat bulan.

Juve Henson membuktikan bahwa impitan ekonomi bukan penghalang untuk menuntaskan pendidikan tinggi. Ijazahnya sempat tertahan di SMK akibat tunggakan SPP. Namun dia tetap bisa kuliah S-1 di Universitas Brawijaya, menuntaskan masa studi selama 3 tahun 4 bulan, bahkan lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) nyaris sempurna, 3,94.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

TUNAI sudah cita-cita Juve Henson untuk menjadi sarjana. Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) itu diwisuda Minggu (25/6) lalu dengan predikat cumlaude. Namun, perjuangannya melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan tinggi benar-benar bukan hal mudah.

Lahir dari keluarga kurang mampu di Tulungagung membuat Juve sempat gamang apakah bisa meraih mimpi merasakan pendidikan tinggi. Ayahnya hanya buruh serabutan. Sang ibu bekerja sebagai penjaga toko komputer. Tanpa keajaiban dan usaha ekstra, mustahil bagi Juve untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Beruntung dia berhasil mendapatkan beasiswa bidik misi. Secercah harapan seolah muncul. Dengan beasiswa itu, Juve tak perlu lagi memikirkan biaya kuliah. Namun, tetap saja biaya hidup di tanah rantau menjadi soal. Bantuan biaya hidup dari bidik misi jelas tak bisa meng-cover semua kebutuhannya.

”Setiap bulannya sebenarnya ada jatah Rp 700 ribu untuk uang saku,” ucap pemuda yang kini berusia 23 tahun tersebut. Namun, anak pertama dari tiga bersaudara itu harus menyisihkan Rp 500 ribu untuk membayar kos. Sisanya yang tak seberapa dia gunakan untuk kebutuhan makannya setiap hari. Tentu saja Rp 200 ribu tak cukup untuk makan tiga kali sehari selama satu bulan. Untuk itu Juve memutuskan untuk memasak nasi sendiri.

”Lauknya beli untuk dimakan satu hari,” imbuh pria kelahiran 11 Agustus 2000 itu. Cukup atau tidak cukup harus bisa diatur. Tak ada support biaya lain, termasuk dari penghasilan orang tuanya yang untuk kebutuhan sehari-hari saja kerap tidak cukup. Juve bahkan tak pernah meminta tambahan uang saku dari ayah maupun ibunya.

Beberapa waktu berjalan, Juve memang tak bisa berkutik dengan uang Rp 200 ribu itu. Dia kerap merasa penampilannya lebih mirip gelandangan daripada mahasiswa. Ibaratnya sama sekali tidak pernah memperhatikan penampilan. Kuliah dengan baju seadanya dan itu-itu saja, meski kadang merasa malu. Beruntung Juve dikelilingi teman-teman yang bisa menerima keadaannya itu. ”Dosen-dosen saya pun juga sangat baik,” ucapnya.

Selama menjalani kuliah, bisa dibilang Juve masuk dalam kategori mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Namun itu bukan karena dirinya malas. Melainkan fokus pada proses akademisnya. Di luar jadwal kuliah, Juve menghabiskan waktu untuk mendalami mata kuliah yang ia pelajari, Sastra Jepang. Kegigihannya dalam belajar pun berbuah manis.

Juve dipercaya sebagai asisten dosen dalam mata kuliah praktikum moji-goi (huruf kanji). Kepercayaan itu tentu dapat membantu dirinya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab, kebutuhannya di perantauan tak hanya tempat tinggal dan makan saja.

Beberapa waktu sebelum wisuda, ada perjuangan lain yang harus dilakukan Juve. Selain menyelesaikan skripsi, sidang, dan revisi, dia punya PR untuk menyelesaikan tunggakan SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) di SMK-nya dulu. Ya, sejak lulus pada tahun 2019 dari SMKN 3 Boyolangu, Tulungagung, Juve tak langsung mengantongi ijazah lantaran tunggakan SPP.

Rasanya bisa dihitung jari Juve membayar SPP selama dia menjalani proses belajar dan mengajar di SMK itu. ”Bahkan mungkin hanya satu atau dua kali saja bayar SPP,” ungkapnya. Karena itu ijazahnya sempat tertahan di SMK sampai Juve hampir lulus kuliah.

Beruntung pihak SMKN 3 Boyolangu menunjukkan kebesaran hati untuk membantu Juve. Saat mengurus keperluan administrasi yudisium, dia pulang ke Tulungagung untuk mengambil ijazah itu, dan diizinkan. ”Waktu mengambil ijazah kemarin diselesaikan secara kekeluargaan,” kenangnya haru.

Lebih beruntung lagi, segala perjuangannya selama sekolah hingga kuliah langsung berbuah manis. Berbekal SKL (Surat Keterangan Lulus), Juve melamar ke perusahaan yang bergerak di bidang human development untuk tenaga kerja yang akan magang ke Jepang. Dia langsung diterima di PT Minori yang berlokasi di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Tugasnya menjadi tenaga pengajar Bahasa Jepang di perusahaan tersebut. Total dia sudah bekerja selama lima bulan sebelum wisuda. Raut bahagia di wajahnya pun tak bisa ia sembunyikan. Tentu itu menjadi pencapaian besar dalam hidupnya. (*/fat)

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#juve #Cumlaude