Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mohammad Rafie Altamis, Mahasiswa UB Wakili Asia dalam World Combat Games 2023 di Arab Saudi

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 10 Juli 2023 | 22:00 WIB
Mohammad Rafie Altamis menunjukkan medali yang dia raih dari ajang The 4th Asian Savate Championship 2023 di Uzbekistan awal Mei lalu.
Mohammad Rafie Altamis menunjukkan medali yang dia raih dari ajang The 4th Asian Savate Championship 2023 di Uzbekistan awal Mei lalu.
Mohammad Rafie Altamis bakal bertanding dalam World Combat Games 2023 di Arab Saudi Oktober mendatang. Itu seperti obat setelah dia batal mengikuti kejuaraan dunia kempo di Portugal beberapa waktu lalu.

FAJAR ANDRE SETIAWAN

KEBERHASILAN Mohammad Rafie Altamis pada The 4th Asian Savate Championship 2023 di Uzbekistan awal Mei lalu sedikit bisa mengobati kekecewaannya. Sebab, sebulan sebelum pertandingan itu, Rafie seharusnya berangkat mewakili Indonesia pada Kejuaraan Dunia Kempo di Portugal. Namun, akibat kewajiban kuliah dan kurangnya waktu untuk persiapan, Rafie batal berangkat.

Meski tak sepenuhnya salah, Rafie sempat kecewa. Rasanya seperti melewatkan kehormatan untuk membawa nama Indonesia di kancah internasional. Beruntung, semesta tak membiarkan kekecewaan Rafie berlarut-larut. Dia merintis kembali jalan menuju kejuaraan internasional melalui The 4th Asian Savate Championship 2023. Sebuah cabang olahraga bela diri asal Prancis yang mengandalkan pukulan dan tendangan.

Pada ajang yang digelar di Uzbekistan 5-9 Mei 2023 itu, Rafie berhasil menempati posisi top 5. Keberuntungan seolah berpihak pada mahasiswa D3 Teknologi Informasi Universitas Brawijaya (UB) itu. Seharusnya hanya juara 1 sampai juara 4 saja yang terpilih mewakili Asia di kejuaraan dunia. Namun, karena juara 3 dan juara 4 berasal dari negara yang sama, akhirnya Rafie bisa naik peringkat.

Dia pun dipilih menjadi perwakilan Asia dalam World Combat Games 2023 pada 21-30 Oktober mendatang di Riyadh, Arab Saudi. ”Karena yang juara 3 dan juara 4 berasal dari Uzbekistan. Sehingga, yang juara 4 tidak memenuhi syarat,” ucap nya. Tentu kesempatan itu tak akan dilewatkan begitu saja oleh Rafie. Apalagi kini tugas akhir kuliahnya juga sudah selesai.

Waktu untuk mempersiapkan diri pun masih panjang. Terkait pilihannya pada cabang olahraga savate, Rafie mengatakan bahwa dia mulai terjun dalam dunia seni bela diri sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Tak ada dorongan khusus selain rasa penasaran. Tak ada darah keturunan atlet yang mengalir dalam tubuhnya.

Awalnya pemuda kelahiran 2002 itu mengikuti taekwondo. Cukup lama dia menjadi atlet cabang olahraga asal Korea tersebut. Namun dalam lima tahun terakhir Rafie mulai mencoba tantangan baru. Mempelajari teknik jujitsu, kempo, hingga savate atau yang juga dikenal dengan nama Boxe Francaise.

Tak begitu sulit bagi Rafie untuk mempelajari semua teknik-teknik bela diri itu. Dasar-dasarnya hampir sama, yakni mengandalkan tendangan dan pukulan. Kerja kerasnya mempelajari berbagai teknik bela diri pun berbuah manis. Dia kerap diikutkan event kejuaraan di berbagai cabang olahraga. Baik skala nasional maupun internasional.

Terakhir, cabor savate membawa Rafie menuju World Combat Games 2023. Sebuah kompetisi bela diri yang diselenggarakan setiap beberapa tahun dan mempertemukan para atlet dari berbagai cabang bela diri dan seni bela diri di seluruh dunia. Termasuk savate, taekwondo, karate, dan cabang olahraga bela diri lainnya. Terakhir, ajang itu digelar 10 tahun yang lalu di Rusia yang dibuka secara langsung oleh Presiden Vladimir Putin.

Rafie menceritakan, saat itu ada atlet perempuan dari Indonesia yang meraih medali emas. Namun medali itu diraih melalui cabor yang berbeda dengan yang ia ikuti saat ini. Dia berharap Oktober nanti bisa meraih pencapaian yang sama seperti sebelumnya. ”Dalam cabor savate -65 kg kelas senior, saya menjadi atlet senior pertama dan satu-satunya yang pernah bertanding di The Asian Savate Championship,” terangnya.

Dia mengaku berterima kasih terhadap Universitas Brawijaya, yang mendukungnya untuk bisa berangkat ke Uzbekistan. "Karena meningkatkan prestasi di tingkat dunia tidaklah mudah. Butuh banyak dukungan karena kita harus berjuang untuk membawa nama Indonesia juga," tambahnya.

Di luar dunia olahraga, Rafie tetap menjalani pendidikan akademis dengan serius. Karena itu dia juga memiliki sederet prestasi akademis. Beberapa kali pemuda kelahiran Jakarta itu terlibat dalam event pendidikan berskala internasional. Salah satunya menjadi delegasi Indonesia dalam Istanbul Youth Summit 2023.

Sebelumnya, Rafie juga pernah terlibat dalam B20 Summit Indonesia di Nusa Dua Bali. Semua itu dia lakukan karena tidak bisa selamanya menjadi atlet. Anak kedua dari dua bersaudara bahkan punya impian, suatu saat bisa bergabung dan menjadi prajurit TNI. Namun untuk sementara ini Rafie bakal fokus mempersiapkan diri dalam berbagai ajang kejuaraan internasional. “Setidaknya untuk satu tahun ke depan,” tutupnya. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kuliah #bela diri