Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ketekunan Muchlis Arif Sutopo Mengembangkan Seni Pembuatan Keramik

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 13 Juli 2023 | 23:00 WIB

 

Muchlis Arif Sutopo bersama deretan keramik karyanya di Studio Matahati Ceramics, Jalan Wastu Asri, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Muchlis Arif Sutopo bersama deretan keramik karyanya di Studio Matahati Ceramics, Jalan Wastu Asri, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Kecintaan Muchlis terhadap seni pembuatan keramik tak perlu diragukan lagi. Mendirikan galeri sejak usia 24 tahun. Menuntaskan pendidikan S-2 Seni Kriya Keramik di ISI Yogyakarta. Kini aktif menjadi dosen dan aktif berbagi teknik pembuatan keramik.

AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN

BERKUNJUNG ke Studio Matahati Ceramics di Jalan Wastu Asri, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, rasanya seperti melihat koleksi museum. Setiap sudut ruangan penuh dengan karya keramik yang sangat indah. Mulai dari cangkir, mangkuk, vas bunga, sampai tempat bakar dupa.

Bentuknya pun beragam. Ada yang simetris seperti karya seni keramik pada umumnya. Ada pula yang asimetris, bahkan dibentuk seperti anyaman rotan di bagian atasnya. Ada yang polos dengan warna doff. Ada pula yang dibuat mengilap dengan pola hiasan maupun lukisan. 

Kerajinan keramik yang dibuat Muchlis memang menyisipkan unsur seni di dalamnya. Semuanya limited edition. Dibuat secara handmade dengan ciri yang berbeda pada setiap karya.

Namun, ketertarikan Muchlis terhadap seni keramik justru berawal dari seni lukis cat minyak. Bahkan sejak remaja dia sudah punya tekad kuat untuk menjadi seniman. ”Kalau orang-orang tanya mau kuliah di mana dan mau jadi apa, dengan tegas saya selalu bilang ingin jadi seniman,” terang pria kelahiran 1969 itu.

Cita-cita itu pula yang mengarahkan Muchlis untuk menempuh pendidikan S-1 Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bahkan pada 1993, atau saat dia berusia 24 tahun, Muchlis sudah bisa membangun galeri bernama Tuku Keramik. Kemudian pada 1995, nama Tuku Keramik diganti menjadi Batu Kecil Keramik. Perubahan nama itu membawa harapan agar masyarakat Kota Batu bisa mengenal karya keramik Muchlis.

”Saya masih ingat ketika krisis moneter tahun 1998. Keramik produksi saya justru laris dibeli orang dari luar negeri,” kenangnya. Makin untung karena nilai mata uang USD saat itu naik drastis. Dari Rp 2.500 per 1 USD menjadi Rp 15.000 per 1 USD.

Kala itu Muchlis tak menyangka, di balik jatuhnya perekonomian, industri keramik justru dilirik masyarakat global. Terbukti pada tahun 2000, dia berhasil mengekspor kerajinan keramik ke Amerika, Kanada, Italia, dan beberapa negara lain. ”Banyak kafe dari luar negeri yang pesan cangkir keramik hingga mangkuk. Waktu itu saya titipkan ke Bali terlebih, kemudian baru dipasarkan ke luar negeri,” cerita anak kedua dari 5 bersaudara itu.

Penjualan keramik karya Muchlis juga sempat ngedrop pada 2001. Kala itu terjadi tragedi bom Bali yang membuat bisnis pariwisata di Pulau Dewata seperti  mati suri. Kiriman keramik pun mangkrak. Bahkan banyak yang tidak terbayar.

Meski terdampak peristiwa bom Bali, Muchlis tak patah arang. Dia tetap semangat dan berusaha bangkit menjalankan usaha yang dicintainya itu. Saking semangatnya berkarya, Muchlis pernah kejatuhan tungku. ”Waktu itu sama saudara kembar saya. Kejatuhan tungku. Sama-sama menangis. Tapi ya tidak kapok,” kelakar pria yang juga bekerja sebagai dosen seni rupa di Universitas Negeri Surabaya sejak 2001 itu.

Di luar itu juga masih banyak pengalaman kurang menyenangkan saat menekuni dunia keramik. Salah satunya cemooh dari orang-orang di sekitarnya. Mereka menganggap seni keramik bukan sesuatu yang membanggakan. ”Ada yang bilang, ngapain  kuliah jauh-jauh ke luar kota, kalau ujung-ujung hanya bikin keramik,” beber Muchlis.

Namun, Bapak dua anak itu akhirnya bisa membuktikan bahwa keramik menjadi bagian penting dalam hidupnya. Selain berperan dalam urusan ekonomi keluarga, karya-karya Muchlis juga diakui memiliki nilai seni tinggi. Sampai-sampai keramik buatannya diminta Museum Seni Keramik Tanteri di Bali. Hal itu menjadi salah satu  apresiasi tertinggi dalam perjalanan Muchlis menjadi seorang seniman.

Meski sudah melalui keberhasilan dalam menekuni dunia seni keramik, Muchlis selalu diingatkan oleh istrinya, Capri Budijati, untuk selalu rendah hati dan terus belajar. Juga membagikan ilmunya ke berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak TK, pelajar SD, SMP, SMA, sampai instansi pemerintah maupun swasta. Seperti pemerintah kota/kabupaten, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Telkomsel, Inspektorat Pemerintah Provinsi Jawa Timur, hingga Pertamina di Makassar.

Selama sharing pelatihan membuat keramik, Muchlis selalu menanamkan pentingnya kreativitas dan kecintaan pada seni. Seperti nama studio dan produknya, yakni Matahati Ceramics. Dari mata turun ke hati. ”Hal yang sangat berkesan dalam hidup saya itu ternyata muncul saat membagikan ilmu kepada banyak orang,” tandasnya. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#seni #keramik