Sisihkan 394 Peserta dari 80 Negara
Perjuangan tak mengkhianati hasil. Itulah yang dirasakan Muhammad Zaidan Naja. Setelah gagal seleksi tingkat kabupaten dan provinsi, akhirnya siswa MAN 2 Kota Malang tersebut berhasil meraih juara Olimpiade Fisika Internasional.
FAJAR ANDRE SETIAWAN
WAJAH Muhammad Zaidan Naja tampak ceria. Pemuda 18 tahun itu merasa jerih payahnya selama ini akhirnya terbayar. Itu setelah berhasil meraih juara Olimpiade Fisika Internasional. Dalam International Physics Olympiad (IPHO) 2023 di Jepang pada 10-17 Juli lalu, dia meraih hono rable mention.
Siswa MAN 2 Kota Malang itu tak sebelumnya pernah membayangkan bakal bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Maklum saja, perjuangan pemuda kelahiran Probolinggo, 11 Desember 2005 itu penuh liku dan terjal. Jangankan menjadi juara internasional, seleksi di tingkat kabupaten saja dia kalah.
Tapi kegagalannya itu dijadikan sebagai cambuk untuk terus belajar. ”Saya suka dengan fisika sejak duduk di bangku SMP,” ujar Zaidan, kemarin. Kesukaan Zaidan tergolong langka. Umumnya, pelajaran berhitung seperti matematika dan fisika menjadi momok bagi pelajar. Tapi bagi Zaidan, fisika sangat menyenangkan.
Angka dan rumus njelimet sudah menjadi makanan sehari-hari Zaidan remaja. Bahkan, dia tahu kunci memahami fisika. Yakni mengerjakan soal-soal. “Untuk soal Olimpiade, bentuknya tidak sama dengan soal ujian di sekolah,” kata dia.
Zaidan mempelajari fisika dalam dua model. Model reguler seperti dalam pelajaran fisika pada umumnya dan model Olimpiade yang memerlukan daya nalar dan daya kritis. Kecintaannya terhadap fisika juga berlangsung ketika SMP. “Belajar itu harus nyaman. Kita harus bisa memilih apa yang kita sukai,” katanya.
Setelah masuk MAN 2 Malang, dia semakin mantap me ngasah kemampuannya. Tak ada hari yang terlewat tanpa menyelesaikan teka-teki soal Olimpiade fisika. Soal-soal itu seolah menantang adrenalin Zaidan, sehingga dia semakin terpacu. Hal itu dibuktikan dengan keberhasilannya meraih juara Olimpiade fisika internasional.
Dalam ajang IPHO 2023, Zaidan yang menjadi salah satu dari lima wakil Indonesia itu berhasil menyisihkan 394 peserta dari 80 negara. ”Awalnya ikut OSK (Olimpiade Sains Kabupaten) dulu, kemudian lolos dan lanjut OSP (Olimpiade Sains Provinsi). Lalu lolos lagi, sehingga bisa melaju ke OSN (Olimpiade Sains Nasional),” terangnya.
Zaidan mendapat medali perak dalam OSN yang digelar pada 2022 silam. Capaian itulah yang akhirnya memberikan kesempatan dia untuk mengikuti pembinaan seleksi IPhO ke-53 di Tokyo, Jepang. Saat itu Zaidan mengikuti pembinaan dengan 11 teman lainnya dari berbagai daerah di Indonesia yang menempati posisi teratas OSN 2022.
Namun tak semua yang mengikuti pembinaan otomatis bisa mengikuti IPhO 2023. Sebab, di akhir pembinaan akan diseleksi 5 terbaik yang diberangkatkan mengikuti IPhO 2023. Dalam proses persiapan menuju IPhO, Zaidan mengikuti bimbingan yang diberikan tutor dari berbagai kampus ternama di Indonesia.
Di antaranya Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Zaidan tak terkendala apa pun saat lomba. Hanya sesekali merasa tak percaya diri. Sebab, ini kali pertama dia menghadapi lawan dari berbagai negara di dunia. Dalam ajang itu, Zaidan melewati dua tahap tes. Yakni tes eksperimen dan tes teori.
“Semua soal yang instruksi menggunakan bahasa Inggris. Ini menjadi tantangan sendiri. Jadi harus benar-benar fokus,” pungkasnya. (*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana