Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jatuh Bangun Muhammad Danae Almer Meraih Medali Perak ASIAN BMX Championship 2023

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Kamis, 10 Agustus 2023 | 23:00 WIB
Muhammad Danae Almer menunjukkan medali dan piagam penghargaan Asian BMX Championship 2023 di Filipina, Juli lalu.
Muhammad Danae Almer menunjukkan medali dan piagam penghargaan Asian BMX Championship 2023 di Filipina, Juli lalu.
Langganan Juara sejak Usia 5 Tahun

Usianya baru 13 tahun, Muhammad Danae Almer sudah mengharumkan nama Indonesia di Asia. Itu setelah atlet sepeda Kota Malang tersebut meraih medali perak di ajang ASIAN BMX Championship di Filipina, 15-16 Juli lalu.

GALIH R. PRASETYO

KETIKA papan start diturunkan, Muhammad Danae Almer langsung meluncur. Atlet bersepeda warna merah itu piawai melintasi Sirkuit BMX Pulomas di Jakarta Timur yang menantang. Misalnya tikungan tajam, medan menanjak, dan turun.

Kepiawaiannya menaklukkan medan itu menunjukkan bahwa usia hanya angka. Meski paling muda, atlet berusia 13 tahun itu mengungguli pesaingnya yang lebih senior. Dalam 7 tahun menjadi atlet BMX, banyak prestasi yang ditorehkan.

Terbaru, Danae meraih medali perak di Asian BMX Championship di Filipina, pada 15-16 Juli lalu. Dalam kejuaraan internasional tersebut, dia mewakili Indonesia. Tentu saja, keberhasilan meraih juara juga mengharumkan nama Indonesia di mancanegara.

Padahal, ketika berkompetisi, cuaca tidak mendukung. ”Saat kejuaraan, cuacanya tiba-tiba berubah. Dari cerah, tiba-tiba menjadi hujan,” kata remaja kelahiran Malang, 13 Januari 2010 tersebut.

Cuaca yang tak menentu itu membuat dia harus berhati-hati saat bermanuver. Jangan sampai malah terpeleset atau terjatuh, sehingga kehilangan kesempatan meraih juara. ”Anginnya juga lumayan kencang saat kejuaraan,” terang alumnus SD Lesanpuro 3 itu.

Apalagi, lawan yang dihadapi umumnya dari negeri-negeri Asia yang BMX terbilang maju. Di antaranya Thailand, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan tuan rumah Filipina. ”Mereka sepertinya banyak yang sudah berpengalaman,” ucapnya.

Selama berkompetisi di event Internasional tersebut, anak pertama dari pasangan Abdi Gusti dan Ella Kurnia itu tidak melakukan hal khususnya. Dia hanya berusaha fokus menyelesaikan ajang tersebut dengan sebaik mungkin. ”Pokoknya, semua instruksi dari pelatih dia jalankan sebaik mungkin,” katanya.

Sebelum tampil di ASIAN BMX Championship 2023, dia hanya punya waktu satu bulan untuk persiapan. Sebab sebulan sebelumnya, Danai masih menjalani seleksi di tingkat nasional terlebih dahulu.

Sebelumnya, Danae mendulang medali perak di ajang BMX Indonesia Cup Series 3, Jakarta, pada 23 Juli lalu. Capaian tersebut menjadi lompatan dari ajang sebelumnya. Saat itu, atlet yang berasal dari klub balap sepeda ELCLOTHS 44 itu menduduki posisi kelima. ”Saat kejuaraan, sepedanya mengalami trouble saya harus meminjam sepeda ke pelatih untuk balapan,” terang Danae.

Sebelum mengikuti ASIAN BMX Championship 2023 di Filipina, Danae sudah banyak menorehkan tinta emas di sejumlah kejuaraan. Di antaranya juara 1 ajang Jakarta Championship kategori U-12 pada 2022, juara satu ISSI BMX Open 2022, dan juara BMX Boys usia 9-10 tahun di Jakarta pada 2021.

Danae sudah menjadi juara di BMX sejak usianya 5 tahun. Kala itu, dia mencatatkan prestasi di event BMX tingkat daerah pada 2015 silam. Yakni BMX II Track U-6 di Kota Malang. Tahun berikutnya meraih peringkat 2 BMX tingkat provinsi di Blitar.

Kemudian prestasi level nasional terjadi pada 2017 lalu. Dia menduduki peringkat ke-2 dalam Challenge Boys 7-8 tahun di Kejuaraan BMX Youth Centre Circuit, Sleman, Jogjakarta. Setelah itu, sampai 2023 tidak pernah berhenti mencatatkan prestasi. Setiap tahunnya minimal naik podium di tiga event BMX.

Berada posisi tersebut tidak didapatkan Danae dengan mudah. Banyak rintangan yang harus dilaluinya dengan kedisiplinan tinggi. Misalnya, pada usia 9 tahun dia sempat mengalami cedera cukup parah. Bagian lengannya terluka saat menjalani latihan. ”Saya jatuh usai bermanuver di tanjakan,” katanya.

Lantas, apakah dia tidak trauma setelah kejadian tersebut? Anak mantan pemain Persis Solo itu tidak pernah merasakan hal tersebut. Baginya, jatuh bukanlah momentum untuk menyerah. Justru harus dijadikan sebagai motivasi untuk bangkit.

Danae sudah terbiasa menghadapi tantangan. Sebelum dipercaya mewakili Indonesia di kejuaraan Asia, dia bersaing dengan ratusan atlet dari berbagai daerah di Nusantara. ”Hampir 300-an peserta yang mengikuti seleksi di Pelatnas," ungkapnya.

Selama menjalani proses tersebut, Danae harus rela tinggal jauh dari orang tuanya. Itu karena seleksi dilakukan di Jakarta. Dia juga perlu memenuhi beberapa aspek test sebagai syarat lulus. Mulai dari teknik, fisik, sampai inteligensi.

Hampir setiap hari dia berlatih. Dalam seminggu, hanya sehari saja off latihan. Sementara enam hari full berlatih setiap pagi dan sore. Mulai pukul 05.30 sampai 09.00. Kemudian sore harinya berlatih pukul 15.00 hingga magrib. ”Saya harus menjaga pola makan dan waktu istirahat,” tuturnya.

Ada dua sosok yang menginspirasi Dane terjun ke balap sepeda. Yakni atlet BMX legend asal Kota Malang Elga Kharisma dan Toni Syarifuddin, atlet BMX asal Indonesia yang tampil di Olimpiade Brazil pada 2016 lalu. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#BMX #malang