Kisah Adhy Dharmawan, Atlet Tarung Derajat yang Menjadi Advokat

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Dipublikasikan Selasa, 15 Agustus 2023 | 22:00 WIB

 

Adhy Dharmawan saat ditemui wartawan Radar Malang.
Adhy Dharmawan saat ditemui wartawan Radar Malang.

Dulu Bela Diri, Kini Bela Masyarakat

Meski sama-sama ”membela”, perjalanan Adhy Dharmawan SH MH dalam mengarungi kehidupan mengalami perubahan. Semasa muda menjadi atlet bela diri tarung derajat, kini pria 35 tahun itu beralih profesi menjadi advokat. Dari yang sebelumnya bela diri, kini bela masyarakat.

BIYAN MUDZAKY HANINDITO

DITEMANI secangkir kopi hitam, Adhy membolak-balik berkas perkara di sebuah kafe di bilangan Jalan Cengger Ayam, Kota Malang, Rabu petang (9/8). Wajahnya terlihat serius, sambil sesekali menandai beberapa lembaran yang dianggap penting.

Postur tubuh advokat muda itu tegap dan berotot. Maklum, sebelum menjadi advokat, dia merupakan seorang atlet olahraga tarung derajat. Prestasinya di olahraga bela diri itu tidak perlu diragukan lagi. Beberapa kali dia meraih juara dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tarung Derajat, beberapa tahun silam.

Terjun di olahraga tarung derajat pada 2004 lalu, ketika Adhy masih di bangku SMA. ”Waktu itu saya latihan dari paman saya, yang kebetulan pelatih bela diri tarung derajat,” kata pemuda kelahiran Surabaya.

Sebelum menetap di Malang, Adhy kerap pindah domisili. Mengawali kariernya di olahraga tarung derajat, dia masih tinggal di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di kota komodo itulah kali pertama belajar tarung derajat.

Kemudian pada 2006, Adhy menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Di Kota Pendidikan ini, dia giat berlatih olahraga tarung derajat, bahkan jurus yang dipelajari hingga kurata (tingkat) 7.

Alasan ayah dua anak itu mempelajari tarung derajat karena tidak hanya mengasah kepiawaiannya bertanding, tapi juga tersimpan nilai keagamaan. ”Mengajarkan untuk mandiri dan berani, tapi harus taat beragama,” katanya.

”Setiap latihan, saat waktunya salat ya semua aktivitas dihentikan sementara, kemudian berjamaah,” tambahnya.

Adhy Dharmawan SH (kiri depan) bersama para atlet Tarung Drajat di Jalan Besar Ijen Malang, beberapa waktu lalu.
Adhy Dharmawan SH (kiri depan) bersama para atlet Tarung Drajat di Jalan Besar Ijen Malang, beberapa waktu lalu.

Hal itu yang menurutnya membedakan Tarung Derajat dengan bela diri lainnya. Selain itu, bela diri tersebut mengajarkan selalu pakai sepatu setiap keluar rumah. Alasannya untuk bersiaga jika ada kejadian buruk. ”Kalau pakai sandal, langkah kaki akan berkurang kecepatannya,” terang Adhy.

Kecintaan dan keuletan dalam mengikuti bela diri tarung derajat membuahkan prestasi. Tercatat, tiga kali mengikuti Kejurnas Tarung Derajat, pada 2013 sampai 2015, dia beberapa kali membawa pulang medali. “Kejurnas di Pekanbaru sekali, Riau sekali, dan dua kali di Kota Bandung (Jawa Barat). Saya dua kali meraih medali perak,” kata dia.

Selama menekuni tarung derajat, dia pernah mengalami cedera. “Sebelah kiri dari ujung kepala sampai kaki mati rasa. Mungkin karena terlalu sering kena pukulan. Untung saya cepat membawa ke rumah sakit, sehingga tidak sampai terjadi kelumpuhan,” ceritanya.

Kemudian pada 2015 dia menjadi advokat, tapi belum sepenuhnya meninggalkan kesibukannya di bela diri tarung derajat. Tentu saja, tak mudah menjalani dua profesi. Dia harus membagi waktu antara latihan  bela diri dengan kesibukan di dunia advokat.

Apalagi, Adhy juga menjadi anggota Keolahragaan Tarung Derajat (Kodrat) Kota Malang dan Provinsi Jawa Timur (Jatim). Di Kota Malang, dia menjabat sebagai ketua divisi advokasi, sedangkan di provinsi menjadi pengurus. “Sampai sekarang saya masih melatih anak-anak, meski tidak sering. Yang lebih sering adalah memberikan motivasi pada anak-anak dan orang tuanya sebelum mereka naik ujian atau kompetisi,” kata dia.

Sejak menekuni dua profesi, Adhy yang dulunya fokus bela diri, berubah menjadi pembela masyarakat. Beberapa perkara yang ditanganinya melibatkan sengketa masyarakat kecil dengan pengusaha besar.

Ketika membela masyarakat, Adhy mengalami tekanan dari kelompok tertentu. ”Kaca mobil saya dipecah dan tas di dalam mobil dicuri,” kenangnya.

Saat-saat genting seperti itu, dia merasa pengalamannya di olahraga tarung derajat bermanfaat. Berkat kepiawaiannya dalam bela diri, dia bisa tenang meski menghadapi banyak tekanan dari kelompok tertentu. ”Tarung Derajat mendidik setiap prajuritnya berani dan percaya diri. Sesuai dengan slogan tarung derajat, aku ramah bukan berarti takut, aku tunduk bukan berarti takluk,” pungkasnya.(*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
Sumber : Radar Malang
Advokat tarung drajat