Sejak Kecil Sudah Biasa Melawan Pecatur Dewasa
Usai meraih juara catur tingkat Asia, Arjuna Satria Pamungkas menjadi rebutan berbagai daerah. Mereka siap membayar mahal asal Arjuna mau bergabung, tapi atlet asal Kota Malang itu menolak.
DANANG PRIAMBODO
SOROT mata Arjuna menjelajah ke bidak lawan. Tanpa berkata apa-apa, remaja berusia 14 tahun itu melangkahkan pion untuk melumpuhkan strategi lawan. Tak butuh waktu lama, Arjuna sudah bisa mengalahkan lawan mainnya di basecamp Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kota Malang di Jalan Gajahmada, kemarin (6/9).
Kemampuan Arjuna mengalahkan lawan dalam waktu relatif singkat itu tidak mengagetkan. Pada 2019 lalu, siswa SMPN 11 Malang itu dinobatkan sebagai juara catur tingkat Asia. Saat mewakili Indonesia di ajang Eastern Asia Youth Chess Championship 2019 di Bangkok, Thailand, dia membawa pulang medali emas.
Kompetisi tingkat Asia tersebut diikuti ratusan pecatur dari 18 negara. Kala itu, Arjuna masih berusia 13 tahun. Dia bertanding di kelompok junior D. ”Saat itu lawan terberat ya namanya Buto Al-Basher,” kenang Arjuna.
Selain mendulang satu medali emas di kelas blitz, Arjuna juga mempersembahkan satu perunggu di Rapid dan 1 perak di Classic.
Kemampuannya bermain catur sudah muncul sejak belia. Maklum, Arjuna terlahir dari keluarga pecatur. Sejak kecil, Arjuna terbiasa disuguhi pemandangan permainan catur. ”Sejak TK sudah kenal catur. Awalnya hanya menata bidak catur, lalu mulai belajar bersama ayah,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara itu.
Ketika usianya beranjak 5 tahun, dia mulai bermain catur melawan anak tetangga yang lebih dewasa. ”Sejak kecil sering melawan anak SMP, meski sering kalah. Kadang kesal menangis, tapi malah semakin penasaran dengan catur,” tambahnya.
Mengetahui minat Arjuna yang besar, kedua orang tuanya memasukkan Arjuna ke tempat les. Kala itu Arjuna kecil dilatih MN Agus Suboro, salah satu pelatih catur. Tiga bulan kemudian, Arjuna langsung mengikuti turnamen. ”Saya sering melawan yang lebih dewasa. Tak masalah kalah, asal ilmu bisa meningkat,” kata anak penyuka tempe penyet itu.
Pada usia 7 tahun, Arjuna keluar sebagai juara dua Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) dan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) catur di Depok. Pada 2018, dia dipercaya mengikuti Kejurnas di Aceh. Nyaris batal berangkat lantaran tidak punya modal. ”Bapak rela menjual motor satu-satunya milik keluarga untuk modal berangkat,” katanya.
Saat itu, sepeda motor Honda Supra X harus dikorbankan. Motor satu-satunya itu laku Rp 11 juta. Uang itu digunakan untuk berangkat ke Kejurnas.
Arjuna memang bukan dari keluarga berada. Ayahnya bekerja sebagai driver taksi online, sedangkan ibunya buruh cuci. Tapi kegigihan Arjuna dan pengorbanan keluarga mampu mengantarkannya menjadi juara satu. Arjuna juga berhak mewakili Indonesia di kompetisi tingkat Asia di Thailand, 2019 lalu.
Ketika kariernya di dunia catur moncer, setahun kemudian dunia dilanda pandemi Covid-19. Turnamen catur dihentikan untuk sementara waktu. Semua negara melakukan hal yang sama. Meski begitu, Arjuna terus berusaha mengasah agar kepiawaian bermain catur tidak hilang. ”Untuk menjaga kualitas permainan, kadang saya bermain dengan teman atau bermain via online,” kata penggemar Bobby Fischer itu.
Kini, Arjuna mendapat tawaran dari berbagai daerah untuk bergabung. Tapi Arjuna tetap berkomitmen hanya menjadi atlet catur Kota Malang. ”Sudah sering mau dibeli atau dikontrak kabupaten/kota lain, tapi saya tolak karena senang di sini (Kota Malang). Saya juga menghargai apa yang sudah dibangun di Malang,” kata dia.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana