Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Munir Kahar, Seniman asal Malang yang Meniti Karier di Amerika

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 18 September 2023 | 23:00 WIB

 

 
 
Bahasa Inggris Pas-pasan, Sempat Dihalau Imigrasi

Jejak komika Pandji Pragiwaksono yang meniti karier di Amerika Serikat (AS) diikuti oleh Munir Kahar. Seniman asal Kota Malang itu nekat mengadu nasib di negeri Paman Sam.

NABILA AMELIA

LUKISAN sisa pameran masih berserakan di rumah Munir, Jalan Cisadane Nomor 24, Kelurahan Purwantoro, Kota Malang, kemarin (17/9).

Namun ada enam lukisan besar yang terpanjang rapi di dinding ruang tamu.

Keenam lukisan itu beraliran surealis.

Aliran karya seni yang menggabungkan antara objek nyata ke dunia maya.

”Lukisan yang ini berjudul Conversation in The Sky,” ujar pria 65 tahun sambil menunjuk lukisan bergambar beberapa unsur, seperti bulan, ikan, tumbuhan, dan matahari di atas awan.

Lukisan itu didominasi warna biru dan oranye.

Kemudian ada motif seperti sulur-sulur dan motif mega mendung pada batik Cirebon.

”Kebanyakan karyanya lahir tanpa konsep,” katanya sembari menjelaskan.

Untuk karya "Conversation in The Sky", mulanya dia hanya mengawali dengan menggambar garis melengkung.

Setelah itu berlanjut dengan motif-motif lainnya.

"Kalau teman dekat atau kebanyakan orang luar yang melihatnya, mereka bisa menangkap gaya ketimuran dalam lukisan saya," kata pria berambut sepundak, khas seniman itu.

Sementara lukisan yang berserakan di ruangannya itu baru saja dipamerkan di gedung Malang Creative Center (MCC), 25 Agustus lalu.

Padahal, dia baru pulang dari negeri Paman Sam pada 17 September lalu.

Ya, selama ini dia tinggal di Amerika.

Bisa dibilang, bapak satu anak itu nekat meniti karier di Amerika.

Hanya bermodal Rp 2 juta yang didapatkan dari menjual barang-barangnya, Munir berangkat ke Amerika pada 2000 silam.

Alasannya karena ingin menekuni seni di negeri orang.

Sebab, kehidupannya sebagai seniman di Malang dianggap tidak pasti.

Sebelum menjadi seniman, Munir merupakan lulusan dari SMAN 3 Kota Malang.

Selepas sekolah, dia melanjutkan pendidikan ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Jogjakarta pada 1980.

Kini, kampus itu berganti nama menjadi Institut Seni Indonesia (ISI).

Orang tuanya, pasangan Adj'main dan Sofiana memang membebaskan anak-anaknya dalam berkarier.

Itulah yang membuat orang tuanya tidak marah meski Munir berhenti berkuliah di semester tiga.

Dia kembali ke Malang dan sempat kuliah di Universitas Widyagama.

Dengan ilmu yang dimilikinya dari Prodi Manajemen dan kegemarannya coret-coret, Munir membuka usaha sablon bersama teman-temannya.

Usahanya relatif sukses, tapi pada 1997 Munir mengalami pergolakan batin.

Dia tak sanggup dengan ewuh-pakewuh di bisnis sablon.

"Saya ini orangnya tidak tega-an. Kalau ada teman yang pinjam alat sablon terus enggak balik, saya enggak tega menagih. Semacam itu yang membuat saya merenung kembali dan memutuskan mencoba menjadi seniman," ungkap dia.

Setelah berkecimpung di dunia seniman, dia merasa nasib seniman di Indonesia tidak pasti, sehingga pergi ke mancanegara.

Berbagai upaya dilakukannya.

Salah satunya, mendaftarkan tujuh lukisannya ke Museum of Contemporary Art Chicago.

Kala itu, penggunaan internet di Indonesia belum banyak seperti saat ini.

Untuk mengirim lukisan, Munir dibantu keponakannya melalui warnet.

Gayung bersambut, lukisan Munir mendapatkan respons dari museum.

Dibantu seorang koleganya, Munir membuat paspor dan berhasil berangkat.

Selain modal finansial yang tidak banyak, saat berangkat ke luar negeri dia hanya membawa satu tas punggung.

Sebelum pergi, dia sempat mendapat omongan bernada negatif dari keluarganya.

"Kalau istri dan anak sebenarnya mendukung. Tapi sebagian keluarga menilai saya kurang bijak," kenangnya.

Kala itu, Munir sudah berusia 42 tahun.

Apalagi, kemampuan bahasa Inggrisnya pas-pasan.

”Keluarga menilai saya terlambat untuk berkarier sebagai seniman,” kata dia.

Namun dia tetap kukuh.

Baginya tak ada yang terlambat.

Munir akhirnya sampai di Mineapolis, Amerika Serikat bagian barat pada 26 September 2000.

Setibanya di AS, Munir sempat mengalami masalah imigrasi di bandara.

Munir enggan mengungkapkan secara spesifik, tapi beruntung dia dapat bantuan dari Imigration Law Center of Minnesota (ILCM), salah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di sana.

Berkat lembaga itu, Munir terhubung ke pastor baik hati bernama Roger Lynn.

Roger bersama istrinya, Sarah Dagg, menampung Munir di Walker United Methodist Church.

Dari Roger pula, Munir berkenalan dengan seniman dan komunitas seni lokal.

Sejak itu, Munir mulai membangun relasi.

Dia juga bekerja sampingan sebagai pegawai hotel hingga tukang cat.

Bayarannya cukup untuk hidup di Mineapolis.

Sesuai dengan niat awalnya berangkat ke AS, Munir juga menekuni dunia seni.

Dia mengajar di salah satu sekolah sebagai guru seni dan mengajarkan beberapa kebudayaan Indonesia seperti wayang, menggambar, gamelan, dan banyak lainnya.

"Saya pun pernah mengajari komunitas difabel. Mereka senang mendapat materi kebudayaan Indonesia," ungkapnya.

Berkat ketekunannya dalam dunia seni, pada 2006 Munir mendapat penghargaan Art Grant atau dana hibah.

Kemudian 2009 mulai bermusik eksperimental.

Lalu 2012 menjadi kurator dalam acara Beyond, yakni ajang perform multidisiplin.

Agustus 2022 lalu, dia berkesempatan mengajarkan kesenian ke tenaga kesehatan di Mineapolis yang mengalami depresi karena menangani pasien Covid-19.

Lalu pada Agustus 2023 ke Indonesia. Rencananya, tahun depan kembali lagi ke Amerika. (mel/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Amerika #seniman malang #munir kahar