Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Nestapa Anak Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan, Selimut Almarhumah Mama Jadi Teman Tidur

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Sabtu, 30 September 2023 | 22:00 WIB

 

Hari Prasetyo bersama dua cucunya, nyekar ke makam Radina, putri Hari yang korban meninggal Tragedi Kanjuruhan Malang.
Hari Prasetyo bersama dua cucunya, nyekar ke makam Radina, putri Hari yang korban meninggal Tragedi Kanjuruhan Malang.

MALANG - Setiap absen mengantar muatan ke luar kota, Hari Prasetyo rutin mengajak kedua cucunya, Muhammad Yusril Raditatama dan Muhammad Devan Zulfitra ke tempat pemakaman.

Letak makam itu tak jauh dari kediamannya di Jalan Bandulan I-J, Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun.

Jaraknya sekitar 300 meter.

Kamis pagi (28/9), Hari kembali mendatangi tempat pemakaman tersebut.

Di sana lah putri ketiganya, Radina Astrida Lufitasari, dimakamkan.

Kepergian Radina menjadi peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan Hari dan istrinya, Satun.

Sebab, Radina adalah satu dari 135 korban meninggal dalam Tragedi Kanjuruhan.

Pasca tragedi tersebut, kedua cucunya tak lagi bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Sebab, ayah mereka juga masih mendekam di balik jeruji besi Lapas Kelas I Malang.

Dia dijebak seseorang untuk mengedarkan sabu-sabu.

Setibanya di makam, Hari mengajak Yusril dan Devan untuk memanjatkan doa.

”Ayo, doakan mama yang lagi di surga,” pinta lelaki berusia 56 tahun itu kepada cucu-cucunya.

Sesekali tangan mungil Devan memainkan bunga-bunga yang ditaburkan di makam.

Setelah memanjatkan doa, Hari menggandeng cucu-cucunya untuk pulang.

Selama perjalanan ke rumah, Hari mengaku bahwa keluarganya masih menunggu iktikad baik dari pihak berwajib.

”Kalau masalah hukum, saya sudah menebak akan kalah oleh yang lebih berkuasa,” kata dia.

Harapan yang tersisa darinya dan keluarga cukup sederhana.

Yakni masa depan kedua cucunya bisa terjamin.

”Saya cuma ingin ada hitam di atas putih untuk kehidupan cucu-cucu saya nanti. Jangan sampai ganti pemerintahan, mereka terlupakan. Kan sebelum-sebelumnya sering begitu,” imbuh dia.

Hari bukannya tidak berupaya.

Dia masih sering berkomunikasi dengan sesama keluarga korban tragedi Kanjuruhan untuk mencari keadilan.

Namun, upaya mereka belum menemukan titik terang.

Untuk memenuhi kebutuhan dua cucunya, Hari dan Satun saling bahu membahu.

Hari bekerja sebagai sopir.

Satun membantunya dengan bekerja serabutan.

Itu dilakukan sembari menjaga Yusril, yang masih berusia empat tahun.

Serta Devan yang masih berusia dua tahun.

Masih ada satu cucu lagi, yang bernama Vano, usianya enam tahun.

Satun bersyukur Yusril dan Devan sudah jauh lebih baik dibanding satu tahun lalu.

Setiap teringat tragedi Kanjuruhan, dia selalu trenyuh.

Apalagi saat Yusril menjadi anak yang pemurung.

Dia enggan keluar rumah selama beberapa waktu.

Kulit bocah yang baru saja berulang tahun pada bulan Februari itu sampai mengelupas karena tidak terpapar matahari.

Sementara Devan, bocah aktif yang segala sikapnya mirip Radina itu kerap mengungkapkan rasa rindunya melalui selimut berwarna merah.

Selimut itu digunakan untuk Radina saat disemayamkan di RS Wava Husada.

Atas izin pihak rumah sakit, keluarga boleh membawa pulang selimut merah yang hingga kini masih menjadi teman setia Devan untuk tidur.

Keduanya baru sedikit tenang setelah 100 hari kepergian Radina.

”Saya awalnya hanya bilang kepada mereka kalau mama sedang cari kerja, tapi mungkin mereka sudah terasa. Lalu bulan Januari kemarin untuk pertama kalinya saya ajak ke makam,” kenang Satun.

Keduanya akhirnya bisa mengerti kalau ibunya sudah meninggal.

Agar cucu-cucunya tidak sepenuhnya kehilangan kasih sayang orang tua, Satun membuka komunikasi dengan menantunya yang kini masih berada di penjara.

Setiap akhir pekan, Yusril dan Devan selalu melakukan video call dengan ayahnya.

”Ya komunikasi biasa. Mereka selalu minta ayahnya cepat pulang. Ayah, ayo ndang pulang, nanti aku belikan ikan, belikan mainan ya... begitu,” ujar Satun sembari menirukan perkataan cucu-cucunya.

Selama ini, Satun meminta menantunya pamit ke Yusril dan Devan untuk bekerja.

Bukan sedang di penjara agar psikologis keduanya tak memburuk.

”Soalnya pernah Yusril diajak Radina ke penjara. Anaknya langsung teringat terus. Jadi saya minta menantu atau kerabat agar tidak sembarangan ngomong,” imbuh dia.

Ayah mereka juga rutin mengirim uang Rp 200 ribu yang didapatnya dari hasil bekerja di penjara.

Selain penghasilan kakek maupun neneknya, Yusril dan Devan juga kerap menerima bantuan dari salah satu parpol.

Bantuan tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan mereka.

Selain itu, ada bantuan dari sebuah organisasi asal Bogor.

”Alhamdulillah, kami juga berupaya menabung untuk membangun rumah kecil yang sekarang kami tempati ini. Sejak pindah ke sini, anak-anak juga jarang terbayang-bayang ibunya. Tidur juga tidak kebalik jamnya seperti dulu," tutur Satun.

Terngiang Kata-Kata Bijak dari Anak Bungsu

Di tempat lain, ingatan Elmiati terhadap almarhum suaminya, Rudi Hartanto dan putra bungsunya, Muhammad Virdy Prayoga tak pernah pudar.

Tragedi 1 Oktober 2022 lalu membuat Elmiati kehilangan keduanya sekaligus.

Setiap teringat tragedi Kanjuruhan, tebersit rasa marah dalam diri Elmiati.

Namun, dia sadar tidak bisa berbuat banyak.

Pasca kejadian, Elmiati pernah dipanggil untuk menghadap sejumlah lembaga seperti LPSK.

Tapi hingga kini hasilnya seperti nihil.

”Bagaimana ya. Mau marah, tapi marah ke siapa?” kata perempuan berusia 33 tahun itu.

Ada banyak kenangan yang disimpan Elmiati, terutama kenangan mengenai Virdy.

Bocah kecil itu sebenarnya genap berusia 4 tahun pada bulan Januari lalu.

Namun, perjuangan hidupnya harus terhenti karena tragedi kelam itu.

”Waktu ulang tahun anaknya kemarin, saya sampai tidak bisa tidur karena teringat terus. Biasanya dia senang kalau diberi kue ulang tahun,” kenangnya.

Meski masih kecil, sosok Virdy di mata Elmiati layaknya orang dewasa.

Terkadang, Virdy suka berkata-kata bijak.

Misalnya saja, saat mendapat uang dari kerabat, Virdy akan memberikan uangnya untuk dibelanjakan sang ibu.

Virdy juga ingin mahir mengemudikan mobil, agar kelak bisa mengantarkan sang kakek yang memiliki penyakit jantung untuk berobat ke rumah sakit.

Elmiati kini sudah jarang mengikuti kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan tragedi Kanjuruhan.

Dia agak menghindari pembicaraan yang berhubungan dengan tragedi Kanjuruhan dan Arema.

Sebab, hal itu kerap membuatnya teringat dengan sosok-sosok yang dicintainya.

Meski demikian, Elmiati tetap memantau kabar terkait perkembangan kasus dari paguyuban keluarga korban.

”Saya sebenarnya capek. Rasanya seperti kalah dengan orang berduit. Akhirnya, saya hanya bisa salat untuk menenangkan diri,” tutur warga Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing tersebut.

Beruntung, keluarga barunya sekarang mendukung penuh dia untuk pulih.

Elmiati juga masih memiliki anak pertama, yakni Virzinia Cainanda Bila yang membutuhkan kasih sayangnya.

Sehingga kini, dia memilih fokus ke depan.

Sementara itu, ibu Elmiati yang bernama Sunarni hingga kini juga belum bisa melupakan cucu laki-laki dan menantunya.

Untuk tetap mengenang keduanya, Sunarni rutin mengunjungi makam mereka yang tidak jauh dari rumah.

”Sambil siram-siram, saya sering bilang, Le... (Virdy, red) saiki wis ambek bapakmu,” ucapnya. (mel/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Tragedi Kanjuruhan #korban