Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Dedek Setia Santoso Membangun Kampung Anggrek yang Dikunjungi Wisatawan Mancanegara

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 25 Oktober 2023 | 23:00 WIB

 

Dedek Setia Santoso menunjukkan berbagai spesies anggrek yang dia kembangkan di greenhouse miliknya, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Dedek Setia Santoso menunjukkan berbagai spesies anggrek yang dia kembangkan di greenhouse miliknya, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Temukan Hibrida Baru setelah Ratusan Kali Persilangan

Berkali-kali ditolak perusahaan saat melamar kerja, kini Dedek Setia Santoso menjadi pengusaha. Sukses membangun wisata kampung anggrek yang menyedot kunjungan wisatawan mancanegara dan memberdayakan 100 petani di Kota Batu.

SYIFA DZAHABIYYAH

GANG Orchid menuju rumah Dedek di Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu berhias tanaman anggrek di sisi kiri dan kanan jalan.

Setibanya di rumah pria berusia 43 tahun itu, semakin banyak anggrek dengan berbagai hibrida.

Ada yang ketinggiannya mencapai 3 meter, tapi ada yang hanya 7 sentimeter.

”Sejak kecil saya sudah suka menanam,” ujar Dedek sembari mengajak Jawa Pos Radar Malang melihat beberapa anggrek di kebun yang berdekatan dengan rumahnya itu.

Ketika masih SD, Dedek kecil kerap membawa pulang biji apa pun yang ditemukan, baik di sekolah maupun di jalanan.

Biji tersebut kemudian ditanam di halaman rumahnya.

“Saya pernah membawa pulang biji rambutan, biji jeruk, dan lainnya,” kata anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Dedek kecil juga punya aktivitas rutin setiap pagi, yakni mencari rumput untuk pakan sapi-sapi ayahnya.

Sapi tersebut untuk biaya sekolah agar Dedek bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi.

”Ayah dulu sangat pintar di sekolah. Dia ingin mengenyam pendidikan tinggi, tapi terhalang biaya. Meski hanya buruh tani, dia ingin anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi,” kenang Dedek.

Rutinitas itu dia bawa sampai lulus kuliah, bahkan bekerja.

Setelah menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Brawijaya (UB), Dedek melamar kerja ke berbagai perusahaan.

Namun dia selalu ditolak, meski sudah banyak perusahaan dari berbagai daerah yang dikirimi surat lamaran.

”Pernah diterima kerja di salah satu kota. Tapi gajinya tidak cukup untuk biaya hidup di kota itu. Akhirnya saya pulang,” ungkapnya.

Di kampung halamannya, dia terpaksa bekerja serabutan.

Mulai bantu-bantu di tempat catering, mencari rumput untuk makan ternak, hingga menjadi kuli bangunan.

Sambil bekerja, dia terus menekuni hobinya menanam bunga di pekarangan rumah orang tuanya.

“Saya menekuni hobi menanam bunga sejak 2005 lalu. Setelah melihat peluang bisnis anggrek yang tinggi, saya mulai fokus pada 2007,” kata pria asli Desa Dadaprejo itu.

Awalnya dia meminta potongan anggrek dari tetangga atau mencarinya di hutan.

Kemudian Dedek membeli benih anggrek jenis dendrobiu seharga Rp 25.000 dengan uang yang dia hasilkan saat bekerja di catering.

“Ketika teman-teman catering pulang, saya masih bekerja mengumpulkan botol-botol untuk menanam anggrek. Keesokan harinya setelah mencari rumput, saya membersihkan botol-botol itu dan melubanginya,” ujar kata kelahiran 1980 itu.

Dedek menyukai anggrek asli dari hutan, namun harganya sangat mahal.

Ia membutuhkan waktu 3-4 tahun untuk membeli satu anggrek asli hutan.

“Sambil menabung, saya belajar cara kultur jaringan. Metode itu saya pelajari secara otodidak dari buku maupun percobaan yang saya lakukan,” katanya.

Mulanya, metode kultur jaringan yang dilakukan gagal.

Ratusan kali mencoba, ratusan kali pula dia gagal menemukan metode kultur jaringan yang tepat.

Meski begitu, Dedek tidak menyerah.

Kini, Dedek berhasil menyilangkan ratusan tanaman anggrek dan membuat hibrida baru dari persilangan tersebut.

Dia mulai membudidayakan anggrek langka melalui metode kultur jaringan yang dia kembangkan.

“Kami memperbanyak anggrek langka. Dari persilangan tersebut kami menyumbangkan ke beberapa kebun raya seperti Kebun Raya Purwodadi dan Kebun Raya Bogor. Sisanya akan dijual dengan harga miring agar masyarakat tidak mencari anggrek di hutan,” ucap Dedek.

Beberapa anggrek langka hasil budi daya Dedek adalah jenis lasianthera, gouldii, grammatophyllum, dan lainnya.

Saat ini di kebunnya, Dedek memiliki anggrek tertinggi dari dengan jenis anggrek dendrobium discolor yang tumbuh sampai ketinggian 3 meter.

Juga memiliki anggrek terkecil dengan tinggi 7 centimeter yang berjenis caroline.

“Saya membudidayakan ratusan hibrida anggrek. Harganya bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah,” ujar Dedek.

Harga itu ditentukan dari tingkat kesulitan perawatan anggrek dan lamanya tanaman itu berbunga.

Beberapa anggrek memerlukan waktu untuk berbunga 7 sampai 9 tahun.

Dari situ harganya juga semakin mahal.

Dedek juga turut serta membina petani serta pelajar.

Total ada 100 petani binaan yang tersebar di Desa Dadaprejo dan sekitarnya.

Banyak pula pelajar dan mahasiswa yang melakukan penelitian di kebun Dedek.

“Saat ini ada 60 siswa yang menghuni basecamp. Mereka belajar dan tinggal di sana dengan gratis,” ucapnya.

Anggrek hasil persilangan yang ia kembangkan diminta oleh beberapa public figure untuk dinamai sesuai nama mereka.

Di antaranya ada Mufidah JK (istri Jusuf Kalla), Mochamad Basuki Hadimoeljono (Menteri PUPR), Khofifah (Gubernur Jawa Timur), Emil Dardak (Wakil Gubernur Jatim), dan lainnya.

Anggrek-anggrek itu juga didaftarkan ke RHS-London.

Tak hanya aktif di dalam negeri, Dedek juga sering melanglang buana ke mancanegara untuk pameran anggrek.

Bahkan kebunnya menjadi jujukan turis dari Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, Swiss, Spanyol, dan Prancis.

“Untuk ekspor ke mancanegara memang aturannya ketat. Oleh karena itu para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kebun. Nanti masalah perizinan di bandara akan mereka tangani sendiri,” ungkapnya.(*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#kampung anggrek #wisatawan