Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Yani Wijaya Baihaqi, Arek Malang yang Jadi Pengusaha Sukses di Jakarta

Aditya Novrian • Rabu, 27 Desember 2023 | 17:16 WIB

MANTAN SALESMAN BUKU: Yani Wijaya Baihaqi di rumahnya, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Dia merintis kariernya dari nol. (DOK YANI WIJAYA BAIHAQI)
MANTAN SALESMAN BUKU: Yani Wijaya Baihaqi di rumahnya, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Dia merintis kariernya dari nol. (DOK YANI WIJAYA BAIHAQI)

Pernah ”Mbambung” dan Rajin ke Seminar demi Makan

Berbekal Rp 800 ribu, Yani nekat mengadu nasib ke Jakarta. Tak ada sanak saudara satu pun untuk menaklukkan kerasnya ibu kota yang sering disebut lebih kejam daripada ibu tiri itu. 

---------

Sepuluh tahun lalu. Yani Wijaya Baihaqi usai melewati perenungan mendalam akan masa depannya. Maklum, ia sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Malang. Bertempat tinggal, bersekolah, bahkan bekerja untuk mencari penghidupan.

Semua itu dirasanya sudah cukup memberinya bekal. Terutama sikap mental.

“Saya harus ke Jakarta,” kata pria asal Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu.

Di kota ini ia menamatkan sekolah dan kuliahnya. Di kota ini pula ia merintis kariernya pertama kali. Mulai dari salesman buku perusahaan penerbitan rintisan sang kakak hingga menjadi surveyor perusahaan waralaba retail terbesar tanah air.

Sebagai salesman, toko-toko buku di Jawa Timur dan Jawa Tengah hampir semuanya telah dia masuki. Kadang bersama teman, tapi lebih sering sendirian. Mengemudikan mobil Toyota Kijang lansiran 1990-an sambil membawa tumpukan kardus berisi buku beraneka judul karya sejumlah penulis.

“Bangku tengah dan belakangnya dicopot agar muat,” kisah lelaki kelahiran 8 Juni 1982 ini.

Pernah, Malang-Jogjakarta ditempuhnya pergi-pulang hanya dalam sehari. Itu sebelum ada jalan tol seperti sekarang. Mengangkut dan menurunkan muatan buku-buku nyaris sendirian. Padahal beratnya bisa ratusan kilogram.

Pekerjaan sebagai salesman itu tetap dilakoninya ketika diterima sebagai surveyor perusahaan waralaba retail terbesar di tanah air.

“Wilayah kerja saya meliputi Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi,” tutur alumnus MAN 3 (kini MAN 2 Kota Malang, Red) di Jl Bandung pada 2001 ini.

Tugasnya, setiap ada rencana pendirian minimarket di kota-kota itu, Yani dan timnya meriset potensi pasarnya. Mulai dari mencatat jumlah orang yang berlalu-lalang di titik yang telah ditentukan, memetakannya berdasar jenis kelamin, usia, dan kendaraan yang digunakan, hingga kantor-kantor yang ada di sekitarnya.

“Kalau minimarket itu direncanakan buka 24 jam, berarti kami juga harus nongkrong di sana selama 24 jam,” kisah Yani.

Dua pekerjaan itu, sebagai salesman lalu surveyor, dilakoninya antara 2008 hingga 2013. Sekitar lima tahun.

“Tapi, ada yang membuat saya gundah. Saya ingin pencapaian yang lebih dari sekadar ini,” ungkap pemuda yang masa remajanya sering main bola bersama anak-anak kampung di lapangan IKIP (kini UM, Red) dan lapangan bola Kelurahan Bakalankrajan, Kecamatan Sukun itu.

Jakarta sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat bisnis adalah impiannya. Ia ingin mengadu nasib di sana. Tak ada sanak saudara. Tak ada juga relasi. Yani hanya punya satu nomor kontak, yaitu adik tingkatnya semasa kuliah di Fakultas Hukum UMM. Alamat itulah yang ingin ditujunya. Soal akan bagaimana, sama sekali belum ada di pikirannya.

Maka, Yani pun berpamitan dan minta restu dari ibunya, Siti Amaniyah. Sang ayah, C. Soetomo, sudah meninggal sejak ia masuk madrasah aliyah.

“Walau berat, ibu akhirnya mengizinkan,” kenangnya. 

Sang ibu juga memberikan uang saku Rp 800 ribu.

“Uang itulah yang saya pakai sebagai bekal untuk berangkat ke Jakarta,” lanjut Yani.

Sebab, gajinya sebagai surveyor dan salesman yang memang kecil sudah tidak ada yang tersisa.

Dari rumah di Merjosari, ia diantar ke Terminal Arjosari untuk naik bus ke Terminal Bungurasih lalu ke Jakarta.

“Sebelum berangkat, saya SMS adik tingkat saya itu. Tahun itu belum ada WA seperti sekarang,” kenang Yani.

Semalaman di perjalanan, Yani baru tiba di Terminal Pulogadung keesokan paginya. Saat itu, uang di kantong tinggal Rp 500 ribu. Yang Rp 250 ribu sudah dipakai untuk beli tiket, yang Rp 50 ribu untuk beli makan di perjalanan.

Parahnya, SMS yang dia kirim ke adik tingkatnya belum berbalas. Padahal, ia sama sekali tidak tahu alamatnya. Terpaksalah Yani luntang-lantung alias mbambung seharian di terminal tersebut. Ia harus berani menahan lapar agar uang yang tersisa di kantong tidak berkurang lagi. Sebab, apa yang terjadi jam demi jam ke depan belum ada yang pasti.

Apalagi, ketika hari sudah berubah menjadi gelap, sang teman tak kunjung membalas SMS-nya. Di tengah situasi itu, tiba-tiba teleponnya berdering.

“Adik tingkat saya itu menelepon. Hari sudah malam,” tuturnya. Singkat cerita, Yani dijemput di Terminal Pulogadung dan diajak pulang ke rumah sang teman di Bekasi.

Di sanalah ia numpang hidup untuk sementara. Kebetulan, saat itu, ayah sang teman baru saja meninggal dunia.

“Ternyata ayahnya kontraktor. Punya usaha penyewaan alat-alat berat,” lanjut Yani.

Karena merasa kurang mampu jika sendirian, sang teman memintanya untuk membantu menjalankan usaha tersebut. Yani pun menyanggupi. Ia sering mendapat tugas untuk mencari pengorder sekaligus mengantar alat-alat berat ke lokasi yang diminta. Dari sanalah ia pertama kali belajar bisnis sebagai kontraktor. Yani juga mulai terkoneksi dengan rekan-rekan bisnis almarhum ayah sang teman.

Namun, Yani sungkan jika terus-menerus menumpang hidup di sana. Tak lebih dari dua bulan, ia lantas pamit untuk kos di daerah Cawang. Tapi, itu sebenarnya adalah tempat kos milik temannya yang lain yang bertemu secara tidak sengaja di Jakarta. Bentuknya berupa bedeng tripleks berukuran 3x4 meter.

Untuk menyambung hidup, kerap kali Yani diajak sang teman menghadiri seminar yang memang sering digelar di Jakarta. Bukan sebagai peserta undangan, apalagi pembicara. Melainkan sebagai peserta yang motifnya untuk mencari makan siang gratis.

“Ibu saya sering menangis di telepon, tanya bisa makan atau tidak,” kenang bungsu dari tiga bersaudara ini sambil tertawa.

Tapi, karena tekadnya sudah kuat, Yani pantang menyerah. Ia berusaha terus membangun koneksi dengan berbagai kalangan di Jakarta. Selain riwayat pekerjaannya di Malang, pengalamannya membantu usaha sang teman sebagai kontraktor penyewaan alat berat adalah portofolio yang cukup bisa diandalkan. Apalagi dia punya latar belakang sebagai aktivis yang siap mengerjakan apa saja meski dari nol.

Jalan Tuhan mulai terbuka. Ia dipertemukan dengan seorang tokoh sekaligus pengusaha besar di Jakarta. Yani diminta membantu pekerjaannya. Dari nol.

“Ya disuruh-suruh. Mulai dari membikinkan teh sampai kemudian dipercaya untuk mengawasi proyek-proyeknya,” cerita Yani.

Dari sanalah pengalaman Yani semakin bertambah. Terutama dalam mengelola usaha kontraktor. Dua tahun ikut pengusaha yang disebut sebagai mentor bisnisnya itu, dia diminta untuk mandiri. “Saya diberi modal dan dikenalkan jaringan beliau. Tapi, beliau bilang, hanya akan sekali itu membantu. Artinya, kalau modal itu habis, ya sudah, selesai,” ungkapnya.

Yani merasa tertantang untuk membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah. Awalnya, pada 2015, ia mendirikan CV (commanditairevennootschap) untuk menjalankan usahanya. Tetap sebagai kontraktor sesuai bidang yang digelutinya selama dua tahun merintis karier di Jakarta. Pengalamannya menjalankan usaha milik sang mentor menjadi portofolio tersendiri.

Yani dipercaya mengerjakan proyek salah satu instansi. Awalnya hanya satu. Namun, karena pekerjaannya memuaskan, pekerjaannya ditambah. Namanya pun mulai dikenal sebagai kontraktor yang bisa dipercaya. Karena itu, ketika dia ikut tender berikutnya, jalan semakin mudah. Tak hanya pemerintah, instansi swasta juga banyak yang memercayainya.

Karena itu Yani mulai berani mendirikan perseroan terbatas (PT). Ia mengerjakan proyek-proyek infrastruktur, desain interior, serta pengadaan barang dan jasa.

“Dalam berbisnis, yang saya kedepankan adalah komitmen,” tandas Yani.

Itulah yang membuatnya semakin dipercaya. Tak ada proyek-proyeknya yang molor. Bahkan sering kali selesai lebih cepat daripada batas akhir pekerjaannya. Tentu, dengan tetap tidak melalaikan kualitasnya.

Makanya, dari semula hanya satu perusahaan, Yani berani mendirikan perusahaan-perusahaan berikutnya. Masing-masing adalah PT Trijaya Abadi, PT Yada Wasista Wijaya, dan PT Ike Wijaya Abadi. Di semuanya, dia berposisi sebagai direktur.

Perusahaan itu juga melebar ke jasa sewa kendaraan.

“Yang terbaru, saya mulai masuk ke investasi,” sambung Yani yang percaya betul bahwa semua jalan kesuksesan itu dia peroleh berkat doa sang ibu.

Sepuluh tahun lalu, ia mengawali mimpi besarnya di ibu kota. Kini, setelah semua berhasil diraih, ayah satu anak ini kembali ke Malang. Yani bertekad untuk bisa memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat lewat jalur politik.

Ada yang memintanya sebagai caleg DPR RI dari Partai Golkar. Ia ditempatkan di daerah pemilihan (dapil) Malang Raya dengan nomor urut 4.

“Semua kebijakan di negeri ini diambil lewat keputusan politik. Dengan masuk ke sana, semoga saya bisa memberikan warna,” kata Yani yang punya perhatian besar pada pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini.

Salah satu yang ingin dia kedepankan adalah soal komitmen. Baginya, sebagaimana di bisnis, komitmen juga harus dipegang betul oleh para politisi. Dengan komitmen itulah, seorang politisi bisa dipercaya oleh rakyat.

“Di bisnis, kalau tidak punya komitmen, habis kita. Itu yang ingin saya terapkan juga di politik,” tandas adik kandung Luthfi J. Kurniawan ini. Keberadaan sang kakak yang merupakan aktivis antikorupsi ikut menjadi kontrol tersendiri. (hid)

Editor : Aditya Novrian
#Pengusaha Sukses #Yani Wijaya Baihaqi