Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Muhammad Wildan Taufiqul Hafidz, Ini Dua Tim Sepakbola Sultan di Eropa yang Pakai Jasanya

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 10 Januari 2024 | 23:00 WIB

GO INTERNATIONAL: Muhammad Wildan Taufiqul Hafidz di sela-sela membuat ilustrasi pemain sepak bola. Dia menekuni bidang ilustrasi sejak lulus UM.
GO INTERNATIONAL: Muhammad Wildan Taufiqul Hafidz di sela-sela membuat ilustrasi pemain sepak bola. Dia menekuni bidang ilustrasi sejak lulus UM.

Muhammad Wildan Taufiqul Hafidz tergolong illustrator andal. Alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu diajak kerja sama beberapa klub sepak bola Eropa. Tugas Wildan membuatkan ilustrasi wajah pemain bola, kemudian diunggah di medsos resmi klub tersebut.

SAMBIL menunjukkan portofolio melalui ponselnya, Muhammad Wildan Taufiqul Hafidz menceritakan pengalamannya sebagai freelance sport illustrator.

Pria yang kini bekerja sebagai digital marketing di salah satu perusahaan swasta itu tertarik dengan dunia ilustrasi sejak meraih gelar sarjana Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang (UM). 

Mulanya, laki-laki berusia 30 tahun itu hanya menjadikan aktivitas menggambar sebagai hobi. 

Namun karena sering bergaul dengan teman-temannya yang mayoritas dari Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV), perlahan dia mulai mengenal ilustrasi.

Hingga akhirnya pada pertengahan perkuliahan, dia bergabung dengan komunitas dan mulai belajar membuat ilustrasi seperti poster dan komik.

“Setiap ada tawaran membuat ilustrasi, saat itu selalu saya terima meski diberi harganya rendah,” kata Wildan di salah satu Coffee Shop kemarin.

Per gambarnya hanya dibanderol Rp 250 ribu.

Maklum, belum banyak pengalaman, sehingga tidak berani mematok harga tinggi.

Seiring berjalannya waktu, Wildan berusaha mengembangkan kemampuannya di bidang ilustrasi.

Tapi perkembangan karirnya stagnan.

Dia membandingkan pencapaiannya dengan rekan satu komunitasnya.

Hingga akhirnya dia merasa tertinggal dan menyerah untuk mewujudkan impiannya sebagai ilustrator handal.

”Saat menggambar, saya tidak bisa merasakan seninya lagi, terutama ketika membuat komik. Saya merasa kehilangan alur cerita,” ucapnya.

Sejak saat itu, sekitar 2017- 2018, dia berhenti menggambar.

Kemudian pada 2019 kembali bertemu dengan rekan-rekannya lagi.

Mereka menanyakan alasan Wildan berhenti menekuni bidang ilustrasi.

Setelah menceritakan keluh-kesahnya, salah satu rekan menyarankan agar Wildan menggambar hal-hal yang disukainya saja.

“Saya suka sepak bola. Jadi, saya menggambar pemain-pemain sepak bola yang favorit menjadi sebuah karikatur,” kata alumnus SMA Negeri 2 Mojokerto itu.

Karena hampir 1,5 tahun vacum, tangannya kaku.

Tidak seluwes semasa masa kuliah.

Butuh beberapa bulan baginya untuk mengembalikan kemampuannya membuat gambar karikatur.

Akhirnya, kerja kerasnya membuahkan hasil.

Kemudian dia dikontak oleh komunitas Indonesian Football Artist.

Awalnya ragu untuk bergabung.

Tapi setelah melihat karier anggota komunitas tersebut yang moncer, Wildan tertarik bergabung.

Di dalam komunitas, Wildan rajin menjalankan tugas, meski komunitas hanya berbasis di media sosial (medsos).

Hampir setiap hari dia setor gambar-gambar yang dibuatnya.

Hingga pada Agustus 2020 lalu, komunitas itu dihubungi oleh Manchester City region Asia untuk membuat komik yang akan diunggah di region Indonesia.

Itu menjadi pengalaman pertama Wildan bekerja sama dengan klub sepak bola Eropa.

Sayangnya, kerja sama tak berjalan dengan baik, hingga terus dilakukan perombakan tim.

Tapi sejak berkarya untuk Manchester City, Wildan dalam tim digandeng berbagai klub sepak bola Eropa lainnya.

Di antaranya Tottenham Hotspur FC, Paris Saint Germain (PSG) region Jepang dan Indonesia, serta FC Midtjylland dari Jerman.

“Saya mengerjakan poster untuk diunggah ke media sosial tim-tim tersebut,” kata dia. 

Poster buatannya pun bermacam-macam, tetapi lebih fokus pada karakter pemain.

Misalnya Tottenham Hotspur yang meminta dibuatkan poster ucapan Natal dengan belasan pemain di dalamnya.

Sehingga untuk satu poster yang diunggah tersebut, dia menerima bayaran sekitar Rp 4 juta.

Tidak hanya tim Eropa, tim sepak bola lokal pun pernah memanfaatkan jasanya sebagai ilustrator.

Yakni Borneo FC dan Persik Kediri.

Berbeda dengan tim Eropa yang memang fokus pada pemain, tim lokal Indonesia justru lebih beragam.

Ada yang memanfaatkan maskot, suporter, hingga pemain. 

”Untuk yang Borneo FC, saya dikontrak selama satu musim. Waktu itu saya membuat psywar dalam bentuk komik. Namun, tetap dengan batas tertentu, seperti hanya menggunakan maskot,” ucap Wildan. 

Saat itu, konten berupa poster sudah sangat umum.

Sehingga pihaknya memilih psywar yang kala itu belum banyak digunakan.

Komik psywar atau psychological warfare yakni komik yang dibuat untuk menjatuhkan psikologis lawan.

Namun terdapat batasan-batasan tertentu.

Seperti tidak menyerang supporter.

Dia pun semakin melebarkan sayapnya di bidang ilustrasi.

Ayah dua anak itu pernah bekerja sebagai motion graphic and illustrator di salah satu media Kuwait.

Setelah kontrak selesai, dia bekerja sebagai social media manager dan graphic designer di salah satu media Malang.

Sampai saat ini pun dia masih melanjutkan karier di bidang ilustrasi tersebut.

Namun dia lebih menikmati kemampuannya di bidang seni digital tersebut.

Sehingga, dia tidak menjadikannya sebagai pekerjaan utama.

“Saya ingin merasakan kesenangan dan ketenangan lagi saat menggambar. Bukan malah merasakan tekanan,” pungkasnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Muhammad Wildan Taufiqul Hafidz #manchester city #psg