Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Agus Wiyono, Aktivis Ekowisata asal Malang Hadiri Forum Konservasi di Denmark dan Amerika

Mahmudan • Kamis, 18 Januari 2024 | 17:25 WIB
PEJUANG LINGKUNGAN: Agus Wiyono berada di rumah sekaligus sekretariat EJEF, Jalan Sunan Muria II, Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, kemarin.
PEJUANG LINGKUNGAN: Agus Wiyono berada di rumah sekaligus sekretariat EJEF, Jalan Sunan Muria II, Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, kemarin.

Bersama East Java Ecotourism Forum (EJEF), Agus Wiyono terlibat dalam pengembangan ratusan desa ekowisata. Mulai desa-desa di Malang, Situbondo, Banyuwangi, Blitar, Lumajang, hingga Papua. Warga Dinoyo, Kota Malang itu juga diundang ke forum internasional, seperti Denmark dan Amerika.

”MAS AGUS sudah mandiri secara ekonomi? Kok memberdayakan kami?,” kata Agus menirukan pertanyaan warga 26 tahun silam.

Kala itu, Agus mengajak warga Trawas, Kabupaten Mojokerto untuk menanam padi menggunakan metode baru.

Yakni merawat padi secara organik.

Tapi, niat mulia itu dipandang negatif.

Mereka curiga bahwa Agus hanya memperdaya petani demi mengais keuntungan pribadi.

Maklum, pada 1998 lalu belum banyak petani yang mengenal tanaman organik.

Mayoritas masih menanam padi secara konvensional.

Sehingga metode yang ditawarkan Agus dianggap tidak lazim.

Kecurigaan warga tidak mematahkan semangat Agus untuk memperjuangkan konservasi alam.

Sebagai manajer program pendidikan dan ekowisata di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, Agus muda mengedukasi mereka.

Konservasi sejatinya untuk masa depan petani dan lahan pertanian. Dia juga berusaha membuktikan mandiri secara ekonomi.

Setidaknya, programnya di PPLH bisa didanai tanpa melibatkan petani.

”Jadi, bagaimana pun juga kami tetap mencari income (pendapatan, red) untuk mendukung konservasi,” cerita dia di markas East Java Ecotourism Forum di Jalan Sunan Muria II, Lowokwaru, kemarin (17/1).

Keahliannya di bidang konservasi alam didapat karena selain founder EJEF, dia juga sempat didapuk menjadi Direktur Kaliandra Resort & Organic Farm periode 2001- 2010.

Selama mengurus resort, dia kerap terlibat dalam kegiatan konservasi di Gunung Arjuno.

Di sela-sela mengurus resort, Agus juga mendapat beasiswa di Jurusan Pendidikan Konservasi dan Jasa Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Tepatnya pada 2006. ”Saat berkuliah di IPB, saya melakukan penelitian selama satu tahun mengenai pendidikan konservasi untuk desa penyangga hutan di Gunung Arjuno,” kata putra dari pasangan Budiono dan Samiatun itu.

Penelitiannya tersebut terpilih dan dipresentasikan di Amerika.

Selain presentasi, Agus juga mengembangkan program yang disebut hutan asuh.

Dia juga pernah diundang dalam kegiatan perjanjian lingkungan hidup internasional atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Denmark pada 2008.

Karena kesibukannya di bidang konservasi alam, Agus berhenti kuliah.

Meski demikian, pria berusia 54 tahun itu tidak menyesal.

Dia lantas memutuskan untuk mewujudkan penelitiannya dengan cara mengembangkan Gunung Arjuno.

Ini karena sebelumnya banyak aktivitas illegal logging, kebakaran hutan, hingga perburuan di Gunung Arjuno.

Tidak sedikit warga yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas ilegal yang merusak hutan.

Namun dengan modal pengalaman di bidang konservasi alam, Agus mencoba mengenalkan konsep pertanian organik dan ekowisata.

Gayung bersambut.

Upaya Agus terdengar sampai Jaringan Ekowisata Indonesia (JEI).

Pada 2010 lalu, JEI bertandang ke Kaliandra dan membentuk East Java Ecotourism Forum (EJEF).

Sebelum EJEF, sudah ada organisasi serupa.

Misalnya di Sulawesi Utara, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Yogyakarta, dan Maluku.

Namun, yang masih eksis EJEF.

Perlahan tak hanya desa-desa di sekitar Kaliandra saja yang menjadi ekowisata.

Tapi desa di berbagai daerah.

Di antaranya desa di Madiun, Situbondo, Trenggalek, Banyuwangi, Probolinggo, Blitar, Lumajang, dan Malang.

Seluruhnya berkembang hampir bersamaan karena EJEF sudah menyusun Training of Trainers (ToT) dan memiliki jejaring di berbagai daerah.

”Yang perlu digarisbawahi, kami tidak akan masuk ke desa kalau tidak diminta. Kami memiliki kontrak belajar dengan warga,” tegas suami Maria Mumpuni tersebut.

Desa ekowisata hasil garapannya memiliki karakteristik dan tantangan berbeda-beda.

Karena itu seluruh prosesnya berkesan bagi Agus.

Salah satu desa yang membuat Agus bangga adalah Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna.

”Semula kawasan konservasi di sana hanya 11 hektare, lalu menjadi lebih dari 150 hektare,” ungkapnya.

Di samping itu, ada desa di Sendangbiru, Baleasri, Ngadas, dan banyak lainnya.

Selain di Jawa Timur, Agus juga memiliki pengalaman berkesan saat melakukan pengembangan desa di Papua.

Saat itu, perburuan burung cenderawasih masih masif karena warga Papua banyak memanfaatkan burung tersebut untuk menyambung hidup.

Bisa dimakan atau dijual ke pasar.

Demi mencegah kepunahan burung cenderawasih, Agus mendekati warga.

Dia mengalihkan keberadaan burung cenderawasih menjadi sarana wisata yang bisa ditonton wisatawan.

Warga pun diarahkan beralih pekerjaan sebagai pemandu wisata burung.

”Setiap memandu satu orang, mereka bisa menghasilkan Rp 1,5 juta. Bayangkan kalau yang dipandu ada 10 orang, hasilnya sampai Rp 15 juta,” sebut dia.

Ke depan, dia ingin mendorong perencanaan dana desa.

Sebab, selama ini desa lebih mementingkan pembangunan fisik dibandingkan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Padahal, belum semua warga desa memiliki keterampilan yang mumpuni. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#agus wiyono #ekowisata