Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Tri Rahmat Habibie, Guru Honorer SMKN Wonosari Malang yang Peternak Sapi Sukses

Mahmudan • Jumat, 19 Januari 2024 | 17:57 WIB
SUKSES: Tri Rahmat Habibie di kandang sapi SyD FAM, Desa Jatirejo, Kecamatan pakisaji,  Kabupaten Malang, Rabu lalu (17/1).
SUKSES: Tri Rahmat Habibie di kandang sapi SyD FAM, Desa Jatirejo, Kecamatan pakisaji, Kabupaten Malang, Rabu lalu (17/1).

Tri Rahmat Habibie adalah guru honorer di SMKN Wonosari, Kabupaten Malang. Tapi pria 34 tahun itu mempunyai penghasilan Rp 1,6 miliar. Uang tersebut mengalir dari peternakan sapi yang dikelola secara modern. 

Hari telah gelap, namun Tri Rahmat Habibie masih sibuk mengurus belasan ekor sapi di kandang belakang rumahnya di Desa Jatirejo, Kecamatan Pakisaji, pada Rabu lalu (17/1).

Pria berusia 34 tahun itu tampak seperti peternak biasa yang merawat sapi.

Total ada 13 ekor sapi di kandang.

Sebagai peternak dan pedagang sapi, omzetnya mencapai Rp 1,6 miliar.

"Saya percaya, bisa berada di posisi ini juga berkat doa orang tua," tambah ayah dua anak itu.

Sebelum menjadi pedagang sapi yang sukses, alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu pernah mengalami penipuan sebesar Rp 1,4 miliar pada tahun 2011.

Saat itu, Habibie menjalankan usaha jual beli sapi potong di Payakumbuh, Sumatera.

Setelah merantau sejak tahun 2008 dan bekerja sebagai buruh di Rumah Potong Hewan (RPH), dia kemudian mencoba peruntungan dalam bisnis kecil-kecilan.

Dia mengambil sapi dari perusahaan distributor, lalu menjualnya lagi.

Namun, uang hasil penjualan sapi tersebut dibawa kabur oleh rekannya setelah laku terjual.

"Akhirnya saya hanya bisa setor uang down payment (DP) saja," papar anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Akibat penipuan itu, dia sempat tidak selera makan selama beberapa pekan.

Di tengah situasi sulit, dia dihubungi pamannya di Pakisaji, yang memberikan motivasi agar Habibie kembali bersemangat menjalankan usahanya.

Setelah itu, dia mulai berdagang apa saja yang bisa menghasilkan keuntungan, mulai dari sayuran, perkakas rumah tangga, sampai kayu bakar.

Demi menyediakan kayu bakar, dia bahkan memotong sendiri pangkal batang kayu yang tidak terpakai pada siang hari.

Melalui kegigihannya bekerja setiap pagi sampai sore, dua tahun kemudian, Habibie mampu melunasi utangnya.

Pada tahun 2014, dia pulang untuk menyelesaikan kuliah yang sempat tertunda akibat merantau.

Dua tahun setelah bangkit dari kegagalan bisnis sapi, dia mencoba lagi.

Empat ekor sapi miliknya tiba-tiba meninggal di kandang pada tahun 2017.

Namun, pada tahun 2018, dia mencoba menerapkan peternakan modern dengan membentuk unit usaha bernama SYD Fam.

Lebih terstruktur dalam manajemen pakan, kandang, dan distribusi sapi.

Dengan metode baru itu, usahanya berkembang pesat dan kandangnya dapat menampung 100 ekor sapi.

Habibie tidak perlu lagi mencari rumput untuk pakan ternak, karena kebutuhan pakannya dia racik dari konsentrat.

"Setiap hari kami cek satu-satu untuk kesehatan sapi," katanya.

Pada tahun 2019, jumlah sapi di SYD Fam bertambah menjadi 29 ekor.

Track record ini membuat SYD Fam semakin dipercaya, sehingga banyak konsumen yang mengambil sapi dari Habibie.

"Alhamdulillah, pada 2020 kami bisa menjual 29 ekor sapi," katanya.

Namun, pada 2021, Habibie menghadapi cobaan ketika sekitar 60 ekor sapi terjangkit penyakit kuku dan mulut (PMK).

Untuk menyembuhkan sapi-sapinya, dia terpaksa membeli obat dari Swedia, Belanda, dan Jerman dengan biaya sekitar Rp 60 juta.

Setelah sembuh, dia berhasil menjual 70 ekor sapi.

Pada Idul Adha 2023, dia kembali menjual 63 ekor sapi.

Dari penjualan setiap Idul Adha, rata-rata dia memperoleh keuntungan sekitar Rp 1,6 miliar.

Sedangkan penghasilan pada hari biasa mencapai sekitar Rp 500 juta.

Kini, SYD Fam telah memiliki pasar sendiri di berbagai daerah seperti Tulungagung, Kediri, Blitar, Banyuwangi, Bali, hingga Pekanbaru.

Melalui usahanya ini, dia juga berbagi pengalaman dengan sesama peternak sapi. (*/dan) 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#modern #peternakan sapi #Tri Rahmat Habibie