TAK sulit mengenali Duwi Purnama Sidik.
Terutama ketika sedang melintas di sepanjang Jalan Gajayana hingga Jalan Veteran.
Barangkali dialah satu-satunya orang yang mengendarai all-terrain vehicle (ATV) di jalan raya.
Kendaraan yang biasanya dipakai di lahan pertanian, perkebunan, atau pantai itu rutin dipakai Duwi berangkat kuliah. Maklum, kondisi fisiknya tidak sempurna, sehingga kesulitan mengendarai motor pada umumnya.
Mahasiswa Prodi Teknik Informatika Universitas Brawijaya (UB) itu menyandang disabilitas tunadaksa.
Kedua kakinya tidak berfungsi normal Meski mengalami keterbatasan fisik, ia mampu menyelesaikan dengan predikat cumlaude.
Sabtu lalu (20/1) ia diwisuda.
Kini dia mengikuti program fast track.
Program ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang prestasi akademiknya istimewa.
Sehingga sudah diterima masuk S2 sebelum menamatkan jenjang S1.
Perjuangan Duwi dalam pendidikan patut diacungi jempol.
Semangat pria 24 tahun itu tak pernah putus, meski sejak kecil sudah terbiasa hidup dengan keterbatasan.
”Sejak lahir saya sudah seperti ini,” ucap pria kelahiran 2 Januari 2000 itu.
Pria asal Banyuwangi itu tak merasa dirinya berbeda.
Semua masih bisa Ia lakukan sendiri, termasuk berangkat dari kos menuju kampus.
Ia baru meminta bantuan ketika harus menurunkan kursi roda dari ATV.
Bila jarak menuju lokasi yang dituju terlalu jauh, Duwi baru meminta bantuan untuk mendorong kursi rodanya.
Selebihnya bisa ia lakukan sendiri.
Beruntung, layanan disabilitas di UB cukup baik.
Sehingga Duwi tak kesulitan menemukan bantuan untuk mendorong kursi rodanya menuju ruang kelas yang jaraknya relatif jauh dari tempat parkir.
ATV milik Duwi sudah tak lagi original.
Beberapa modifikasi telah dilakukan.
Terutama di bagian belakang tempat duduknya.
Di bagian belakangnya diberikan ruang yang agak longgar.
Tujuannya untuk menyimpan kursi roda manual miliknya.
Usut punya usut, ATV itu sudah ia gunakan sejak kelas 5 SD.
Kendaraan itu merupakan pemberian dari kedua orang tuanya.
Meski kondisinya tak sempurna, Duwi tetap dididik mandiri.
Sehingga sejak SD dirinya sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.
Bahkan saat SMA sudah memilih untuk kos sendiri.
Itu lantaran Duwi diterima di sekolah yang cukup baik di daerah asalnya, Banyuwangi.
“Saat itu saya sekolah reguler. Sekolah Luar Biasa (SLB) masih belum familiar kala itu,” ucapnya.
Terbiasa mandiri membuat Duwi ikhlas menerima takdir Ilahi, meski sempat protes sewaktu kecil.
“Waktu kecil, saya sempat diledek teman-teman karena nggak bisa jalan,” ucapnya.
Namun itu tak bertahan lama. Memasuki SMP, ia mulai menerima keadaan.
Dari situlah dirinya merasa memiliki teman-teman yang support.
Kalau pun ada yang mencibir, ia tidak memasukkan ke dalam hati.
Ketika diterima di UB melalui jalur mandiri penyandang disabilitas, ia menunjukkan kemampuannya.
”Jadi S1 saya tidak keluar biaya sama sekali karena mendapat beasiswa.
Bahkan dapat uang saku tiap bulannya,” ungkapnya bangga.
Putra bungsu dari dua bersaudara itu tidak hanya lancar dalam pendidikan saja.
Tapi juga menjadi aktivis.
Duwi tercatat menjadi anggota Pusat Komunikasi dan Informasi di Eksekutif Mahasiswa (EM) tahun 2020.
Juga pernah didapuk menjadi Ketua Departemen Humas di Badan Internal Olahraga dan Seni (BIOS).
Selebihnya berbagai kegiatan kepanitiaan dan pelatihan pernah ia ikuti.
“Saya pernah tergabung dalam kepanitiaan seperti Informatics Education and Learning for Society Enhancement, pekan olahraga dan seni mahasiswa baru, olahraga dan seni, serta latihan keterampilan manajemen mahasiswa tingkat dasar,” ungkapnya.
Keaktifan Duwi dalam organisasi itu bertujuan untuk mengasah soft skill.
Sebab, ia sadar bahwa ilmu yang didapat di ruang kelas saja tidak cukup.
Kendati prodi yang dipilih telah mempertimbangkan kondisi dan kebutuhannya di masa yang akan datang.
Duwi sejak awal bermimpi akan bekerja di sebuah perusahaan besar.
Di perusahaan itu ia akan menggunakan kepiawaiannya dalam mengoperasikan komputer.
“Saya pikir itu tidak perlu mobilisasi yang tinggi sehingga saya bisa mengerjakannya dengan duduk,” ungkap pria yang kini menjalani program magister jurusan ilmu komputer tersebut.
Namun Duwi punya harapan karier di bidang lain, yakni dosen.
Untuk itu, program fast track membuka peluang tersebut.
”Saya tak bisa mengandalkan fisik, sehingga harus berjuang agar otak saya bisa diandalkan,” tutupnya. (*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana