Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dua Kali Patah Tulang karena Kecelakaan Balap, Hari Ini Farudila Adam Taufan Jadi Pebalap asal Malang yang Punya Sirkuit Sendiri

Mahmudan • Selasa, 20 Februari 2024 | 16:23 WIB
PEMBALAP: Farudila Adam Taufan melintasi garis finis di ajang Supermoto Nasional di Jakarta pada Desember 2023 lalu.
PEMBALAP: Farudila Adam Taufan melintasi garis finis di ajang Supermoto Nasional di Jakarta pada Desember 2023 lalu.

Farudila Adam Taufan mengukir prestasi di dunia balap. Setelah empat kali beruntun juara supermoto skala nasional, pria asal Ngantang, Kabupaten Malang lantas menembus internasional. Kini dia punya sirkuit pribadi.

GALIH R. PRASETYO

SIRKUIT di Karaeng Galesong, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang itu penuh kelokan. 

Dari total lintasan sepanjang sekitar 700 meter, hanya tiga ruas yang lurus. 

Itu pun panjang masing-masing tak sampai 60 meter. 

Itulah sirkuit supercross milik Farudila Adam Taufan. 

Pria 29 tahun asal Ngantang, Kabupaten Malang itu sudah langganan juara balap di berbagai kelas. 

Mulai Kelas motocross, grasstrack, sampai supermoto. 

Sirkuit pribadi miliknya lebih banyak menonjolkan step on, table top, tikungan tajam, sampai punggung naga.

Baca Juga: Tak Lagi Dikejar-kejar, Pelaku Balap Liar Dirangkul dan Diwadahi Lomba oleh Forpimda Kabupaten Malang

Sebagai informasi step on merupakan tempat melakukan lompatan kecil. 

Sedangkan table top adalah gundukan tanah yang tinggi, namun bagian atasnya datar. 

Pembalap yang berlatih di sirkuitnya harus mempunyai dua modal. 

Pertama, bernyali besar. 

Kemudian kedua, kendaraan yang digunakan minimal jenis special engine. 

”Kendaraan yang digunakan untuk menaklukkan sirkuit ini paling ideal adalah yang bertenaga,” ungkap pria yang biasa disapa Gus Farudila itu. 

Sirkuit yang mulai dikerjakan 2023 lalu didesain untuk mengasah skill. 

Tantangannya dibuat lebih sulit dibanding sirkuit lainnya. 

Harapannya, pembalap ”lulusan” sirkuit Karaeng Galesong tidak akan mengalami kesulitan saat menjajal sirkuit lain. 

”Patokan sirkuit ini ya harus bisa mengasah mental, skill, dan fisik pembalap,” papar alumni SMAN 1 Ngantang yang menghabiskan ratusan juta rupiah untuk membangun sirkuit itu. 

Keseriusannya membuat sirkuit tidak lepas dari pengalaman masa kecil. 

Ketika mengenyam bangku sekolah dasar (SD), Farudila kecil sudah biasa balapan. 

Namun kerap gonta ganti tempat untuk latihan. 

Itu karena kala itu belum banyak sirkuit balap motocross atau supermoto di Malang Raya. 

Umumnya dia berlatih di Jalibar, Kota Batu. 

Tapi ketika tidak bisa digunakan, dia pergi ke Blitar maupun Lumajang. 

Kondisi itu membuat tenaganya terkuras karena terpaksa bepergian untuk latihan. 

”Situasi itu membuat target performa sulit untuk tercapai,” kata pria yang terjun ke dunia balap sejak 2005 itu. 

Karena itulah, dia merasa tidak masalah menguras tabungan hasil balap untuk membangun sirkuit. 

Dengan memiliki sirkuit sendiri, ia yakin bisa lebih maksimal menempa diri. 

Selain itu, dia juga ingin mencetak atlet balap juara nasional. 

”Salah satu kunci sukses di olahraga ini adalah konsisten, kerja keras, dan disiplin,” ucapnya. 

Prinsip itulah yang membuat Farudila merasakan gelar juara di berbagai kelas. 

Diantaranya kelas motocross, grasstrack, sampai supermoto. 

Di nomor balap terakhir itu baru-baru ini Farudila mencatatkan empat gelar juara beruntun di kejuaraan nasional supermoto kelas free for all (FFA) 250. 

Perjalanan menjadi yang terbaik dimulai pada 2018, lalu berlanjut 2019. 

Dua tahun berikutnya off akibat adanya pandemi Covid-19. 

Setelah itu di Kejurnas Supermoto 2022 dan 2023, dia tancap gas menjadi juara pertama. 

Juara supermoto diraih dengan kerja keras. 

Selain harus berlatih nomaden, dia juga sempat dua kali mengalami cedera patah tulang tangan. 

Pertama pada 2014 saat masih aktif balapan di grasstrack. 

Kedua sekitar 2016 saat mulai menekuni dunia supermoto. 

”Penyebabnya saat itu karena jatuh saat balapan,” paparnya. 

Kondisi tersebut cukup berat untuknya. 

Anak ketiga dari tiga bersaudara itu terpaksa off latihan dalam waktu lama. 

Akibatnya, dia harus mulai dari nol lagi saat balapan. 

Mulai skill, fisik, sampai mentalitas. 

”Untuk orang-orang di sekitar terus support, sampai bisa bangkit lagi,” ucapnya. 

Kebangkitan diawali dengan penampilan luar biasa di ajang trial game di Stadion Kanjuruhan pada 2017 lalu. 

Saat itu dia membawa juara di kelas FFA 450 dan Trail 175 Open. 

Gelar lainnya adalah runner up di Trail 250 dan FFA 250. 

Setahun berselang dia sukses menjadi juara di level internasional, yakni Asia Supermoto 2018. 

Saat itu dia meraih gelar tersebut di wilayah Subang, Jawa Barat. 

”Ketika itu saya memanfaatkan jatah wildcard,” ucapnya. 

Merasakan gelar juara supermoto di level Asia, Farudila harus menunggu selama tiga tahun. 

Itu karena dua kejuaraan sebelumnya dia gagal naik podium. 

Selain itu perjuangan juga berat karena lawannya adalah pembalap tangguh penjuru Asia. 

Sedangkan terkait juara supermoto level nasional empat tahun beruntun, Farudila mengandalkan perjuangan maksimal. 

Mulai kemampuan, pengalaman, dan fondasi balapan yang selama ini telah dia bangun. 

”Saya berusaha tidak pernah puas. Setiap balapan, targetnya selalu nomor satu,” terangnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#sirkuit #kecelakaan hari ini #Balap #malang #Farudila Adam Taufan