Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Wahyu Widodo, Warga Malang yang Berpuasa di Leiden Belanda, Berbuka saat Keluarga di Indonesia Masih Sahur

Mahmudan • Rabu, 13 Maret 2024 | 18:15 WIB
MENUNTUT ILMU: Wahyu Widodo di depan gedung penerbitan buku tertua di Leiden, Belanda. Tahun ini merupakan tahun ketiga dia menjalankan puasa dimancanegara.
MENUNTUT ILMU: Wahyu Widodo di depan gedung penerbitan buku tertua di Leiden, Belanda. Tahun ini merupakan tahun ketiga dia menjalankan puasa dimancanegara.

ARAH jarum jam menunjukkan pukul 04.00 WIB dini hari, tapi Wahyu Widodo sudah berbuka puasa.

Maklum, waktu di Belanda sudah pukul 22.10.

”Ada selisih waktu enam jam antara Indonesia dengan Belanda,” ujar Wahyu melalui panggilan suara WhatsApp.

Wahyu merupakan warga Malang yang sedang merampungkan program S3 di Universiteit Leiden, Belanda.

Tahun ini adalah tahun ketiga ia menjalani puasa di negeri kincir angin tersebut.

Nuansa Ramadan di Kota Leiden tak seperti di Indonesia, termasuk Malang. 

Di sana tak ada warung atau rumah makan yang dipasang tirai.

Semua restoran buka dan melayani pembeli seperti biasa.

Belanda memang negara sekuler yang tidak mengadopsi satu tatanan nilai religiusitas tertentu untuk mengatur pranata sosialnya.

”Saya baru saja menelepon keluarga di Kota Malang. Untuk membangunkan sahur,” kata dia.

Aktivitas membangunkan sahur itu rutin dilakukan setelah dia menyantap menu buka puasa.

Itu dilakukan pada Ramadan tahun-tahun sebelumnya.

”Saya sudah selesai menjalani ibadah puasa hari pertama. Sementara keluarga di Indonesia baru akan memulainya,” ungkap ayah dari tiga anak itu.

Meski Ramadan, perkuliahan berjalan seperti biasa.

Di Belanda tidak ada penyusutan jam perkuliahan maupun jam bekerja.

Berbeda dengan Indonesia yang kerap memberlakukan durasi khusus setiap Ramadan.

Namun itu menjadi pelajaran bagi Wahyu.

Ia menilai kegiatan ibadah di Belanda benar-benar menekankan pada kesadaran diri sendiri.

Tanpa dukungan lingkungan sosial. Untuk mengetahui patokan berbuka, sahur dan imsyak, ia mengandalkan jadwal dari Islamic Centrum Imam Malik di Leiden.

Jadwal itu dikeluarkan lengkap dengan waktu salat lima.

Tantangan lainnya menjalani puasa di Belanda adalah cuaca.

Tahun ini Ramadan di Belanda jatuh pada akhir musim dingin.

Namun tak lama lagi musim dingin akan berganti musim semi. Suhu udara di sana masih berkisar 10 derajat Celsius. Fluktuasi suhu udara sangat cepat berubah.

Saat malam tiba, suhu bisa tiba-tiba turun menjadi 4 hingga 2 derajat Celsius.

“Angin dan badai hampir setiap hari terjadi di sini. Maklum negeri kincir angin ya,” ucapnya.

Kendati begitu, akhir-akhir musim dingin saat ini matahari sudah mulai sering muncul.

Lebih sering jika dibandingkan dengan bulan Desember sampai Februari lalu. Kondisi perubahan cuaca itu pula yang membuat waktu salat menjadi tidak tentu.

”Kalau besok (hari ini, 12/3) waktu magrib pukul 18.45. Sedangkan sahur pukul 05.11.” ucapnya.

Jarak magrib dan isya cukup lama. Itulah mengapa Wahyu jarang mengikuti salat tarawih berjamaah di masjid.

Sebab, waktunya terlampau larut malam. Bahkan, pada Ramadan sebelumnya ia pernah selesai tarawih jamaah hingga pukul 23.30.

Namun, Ramadan yang jatuh antara musim dingin dan musim semi masih relatif tak ekstrem.

Dosen program studi Bahasa Indonesia Universitas Brawijaya (UB) itu tak bisa membayangkan jika Ramadan jatuh pada musim panas.

Yakni kisaran Juni hingga Agustus.

Sebab, durasi puasa bisa sampai 19 jam.

Sementara durasi puasa saat ini masih tak jauh berbeda dengan di Indonesia.

Namun, durasi akan terus meningkat seiring perubahan musim berganti.

Kota Leiden termasuk kota yang tak banyak dihuni komunitas muslim dari Indonesia. Sebab, mereka lebih banyak tinggal di Amsterdam dan Den Haag.

Di Kota Leiden paling banyak dihuni oleh komunitas muslim dari Maroko dan Turki.

Di Kota Leiden juga ada tiga masjid besar yang dikelola dua komunitas muslim tersebut.

Dua masjid dikelola komunitas muslim Maroko.

Sedangkan satu masjid dikelola oleh komunitas muslim Turki.

Wahyu kerap bergabung dengan komunitas muslim Maroko.

Tak ada alasan khusus selain pertimbangan jarak dari tempat tinggalnya.

Ia sering memanfaatkan buka bersama yang disediakan gratis oleh komunitas tersebut di Islamic Centrum Imam Malik.

Ada satu hidangan berbuka yang khas dan paling dirindukan oleh pria kelahiran Ngawi tersebut.

Yakni sup harira dan teh Maroko.

Sup hariro merupakan sup tradisional Maroko yang kaya rempah.

Kuahnya berwarna cokelat kental dengan isian tomat, kentang, dan daging.

Selain itu, teh Maroko juga memiliki cita rasa yang khas.

Dia menilai, pelayanan terhadap jamaah muslim yang berbuka puasa sangat baik.

Pun di masjid-masjid lainnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#wahyu widodo #Ramadan #belanda #malang