Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pengalaman Arum Prasasti, warga Landungsari Malang Puasa di Skotlandia, Durasi Puasanya sampai 16 Jam

Mahmudan • Selasa, 19 Maret 2024 | 17:31 WIB
RINDU MASAKAN INDONESIA: Arum Prasasti di halaman University of Glasgow, Skotlandia. Tahun ini merupakan tahun kedua menjalani Ramadan di Britania Raya.
RINDU MASAKAN INDONESIA: Arum Prasasti di halaman University of Glasgow, Skotlandia. Tahun ini merupakan tahun kedua menjalani Ramadan di Britania Raya.

Skotlandia adalah negara dengan durasi puasa terlama nomor lima di dunia. Apa saja tantangan menjalani Ramadan di Skotlandia? Inilah kisah Arum Prasasti, warga Landungsari yang menempuh S3 di University of Glasgow, Skotlandia. DANANG PRIAMBODO

ARAH jarum jam menunjukkan pukul 13.30 WIB, tapi di Skotlandia masih pagi. 

Sekitar pukul 07.30. 

Arum Prasasti menceritakan suka dukanya menjalani puasa di mancanegara. 

”Puasa di sini (Skotlandia) berbeda. Semakin mendekati Lebaran, durasi puasanya semakin lama,” ujar Dosen Universitas Negeri Malang (UM) yang tengah menempuh pendidikan Doctor of Philosophy Management di University of Glasgow. 

Baca Juga: Pengalaman Puasa Warga Malang, Ayu Kusumastuti Di Kota Leeds Inggris, Salat Tarawih Bisa Dimulai Pukul 23.00

Pada Ramadan minggu pertama, durasi puasanya sekitar 14 jam. 

Kemudian pertengahan puasa menjadi 15 jam. 

Lalu pekan terakhir mendekati Idul Fitri, durasi puasa sampai 16 jam. 

”Jadi semakin mendekati Idul Fitri, waktu subuh semakin cepat dan waktu magrib semakin lama atau semakin mundur,” tutur perempuan 33 tahun itu. 

Dengan durasi puasa yang sampai 16 jam, Skotlandia menjadi negara nomor lima dengan puasa terlama di dunia. 

Urutan pertama adalah Greenland dengan durasi puasa 17 jam 52 menit. 

Kemudian disusul Islandia selama 17 jam 25 menit, Finlandia 17 jam 9 menit, dan posisi keempat adalah Swedia, yakni 16 jam 47 menit. 

Baginya, durasi puasa yang lama menjadi tantangan tersendiri. 

Maklum, ia biasa berpuasa di Indonesia hanya sekitar 13 jam. 

Meski begitu, Arum tidak terlalu kaget dengan kondisi tersebut.

Sebab tahun lalu sebelum pindah ke Skotlandia, Arum menunaikan ibadah puasa di Britania raya. 

Tepatnya di Inggris. 

”Awal-awal memang susah berpuasa selama 16 jam. Kadang 2 jam mendekati berbuka, badan sudah tidak berdaya,” katanya. 

Selain waktu yang lama, Arum juga sudah menjadi seorang ibu di luar negeri. 

Anaknya berumur 4 tahun. 

”Tahun ini tantangannya di keluarga, karena sudah ada anak juga. Jadi sekarang membagi waktu untuk keluarga,” kata warga Landungsari, Kabupaten Malang itu. 

Baca Juga: Dharu Smaradhana, Arek Malang Puasa di London Inggris : Tahun Ini Puasa Lebih Ringan

Arum harus menyiapkan sahur dan berbuka untuk keluarganya setiap hari. 

Tinggal di negara yang penduduknya minoritas muslim, ia tidak biasa asal memilih makanan. 

Harus memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi anaknya tersebut terjamin kehalalanya, terutama saat membeli daging. 

Untuk kebutuhan sayur mayur, Arum bisa membeli di supermarket. 

Tapi untuk makanan olahan dari daging, dia lebih berhati-hati. 

Biasanya membeli daging di toko yang berlabel halal, meski harganya lebih mahal. 

”Di sini tidak bisa belanja di satu tempat,” ujar perempuan yang menempuh S2 di University of Leicester, Inggris. 

Arum bersyukur puasa di Skotlandia jatuh pada bulan Maret sampai April. 

Suhu disana dingin. 

Sekitar 1 derajat Celcius. 

Hal tersebut sedikit meringankan bagi umat muslim yang berpuasa. 

Hal tak biasa lain yang dirasakan Arum adalah tidak pernah mendengar azan berkumandang. 

Meski di sekitar tempat tinggalnya banyak masjid, ia tidak mendengar azan. 

Itu karena pemerintah Skotlandia melarang mengumandangkan adzan pakai speaker luar. 

”Hanya diperbolehkan pakai speaker dalam,” kata dia. 

Baca Juga: Puasa di Amerika Serasa di Gunung Bromo, Begini Pengalaman Alimin Adi Waluyo Arek Mbatu Malang

Untuk mengetahui jam berbuka dan sahur, mereka menginstal aplikasi. 

Selain itu, masjid di sana juga tidak ada papan nama, sehingga pendatang akan kesulitan untuk mencari masjid. 

Apalagi tidak sedikit yang desain bangunannya menyerupai gereja. 

”Di dekat rumah saya ada masjid. Tapi kalau mau mencari masjid lain biasanya harus pakai Google maps karena tidak ada papan namanya,” imbuh alumni S1 Management Universitas Brawijaya itu.

Meski begitu, toleransi di sana cukup tinggi. 

Tak jarang ia ditanya teman kuliahnya dari berbagai negara. 

“Apakah Arum puasa?,” kata Arum menirukan teman-temannya yang non muslim. 

Ketika menjawab sedang berpuasa, biasanya temannya memberikan makanan untuk berbuka puasa. 

Selain itu, di masjid kampus juga menyediakan makanan berbuka berpuasa. 

Sementara tarawihnya tidak ada perbedaan dengan Indonesia. 

”Disini salat tarawihnya 23 rakaat dan bacaannya panjang-panjang,” ungkap Arum. 

Hidup di negara orang juga membuat Arum rindu masakan Indonesia. 

Untuk mengobati rasa kangen dengan makanan Indonesia, biasanya ia bertukar makanan dengan diaspora lain di sana. 

Di antaranya bakso, es buah, batagor, kue kering, hingga rawon. 

”Sebenarnya di masjid ada makanan untuk buka puasa. Tapi kebanyakan makanan timur seperti nasi biryani,” ungkapnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Skotlandia #Arum Prasasti #Puasa