SYIFA DZAHABIYYAH
Di SELA mengawasi pelatihan Adidas Runner Running Science di Senayan Jakarta kemarin (9/5), Matias Ibo menceritakan perjalanannya menjadi fisioterapi tim sepak bola nasional.
Pria 46 tahun itu dipercaya oleh tim nasional (timnas) karena keahlian dan pengalamannya di bidang fisioterapi.
Sejak kecil, Matias sudah akrab dengan dunia sepak bola.
Meski terlahir dari keluarga blasteran Swiss-Indonesia, Matias lahir dan besar di Bumi Arema.
Jenjang pendidikan masa remaja juga ditempuh di Malang raya.
Hari-hari Matias kecil dihabiskan dengan bermain sepak bola bersama teman-temanya di lapangan desa.
”Kebetulan ayah seorang arsitek dan mendapatkan project di Kota Batu. Ketika SMP dan SMA, saya beserta ibu tinggal di Malang Raya, sementara ayah ditugaskan ke beberapa daerah," kenang pria kelahiran 1978 itu.
”Bagi saya, Kota Batu dan Malang sangat berkesan. Selain karena kenangan semasa kecil, kulinernya juga enak,” tambah pria yang suka pangsit dan es moka dekat SMA Dempo tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Katolik St. Albertus (Dempo), Matias pergi ke Inggris.
Di sana dia bergabung dengan club sepak bola amatir.
Meski tergolong amatir, club tersebut memiliki seorang fisioterapis yang selalu menemani coach ketika melatih.
"Saya akhirnya dekat dengan coach maupun fisioterapis tersebut. Dari sana, saya melihat peluang lain untuk bekerja di bidang kesehatan namun masih berkesinambungan dengan olahraga," ucapnya.
Setelah itu dia terbang ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan di Utrecht University.
Dia sengaja mendalami bidang fisioterapi olahraga agar bisa menjadi fisioterapis.
”Mulanya ingin menjajal satu tahun dulu. Kalau menyenangkan ya dilanjutkan, tapi kalau tidak ya beralih ke jalur lain,” kata Matias yang mengaku nyaman hingga sekarang.
Ada perbedaan mencolok fisioterapis di Indonesia dengan Belanda yang dirasakan Matias.
Jika di Indonesia akan diajarkan secara umum terlebih dahulu.
Setelahnya baru mengambil skill spesifik di S2.
Namun di Belanda, mahasiswa langsung penjurusan secara spesifik sejak S1.
"Hal terberat dalam belajar fisioterapi adalah mendiagnosis secara tepat. Banyak otot dan tulang serta kesinambungannya satu sama lain yang dapat menjadi sebab dari cedera," kata dia.
Setelah merampungkan S1, Matias juga melanjutkan S2 di Utrecht University.
Kemudian dia bekerja di salah satu praktik fisioterapis di negeri kincir angin tersebut.
Masih pada bidang yang sama, Matias sering menangani orang-orang yang cedera akibat olahraga berat.
Juga menangani beberapa club bola untuk mengatur porsi latihan fisik.
"Saya bekerja di Belanda cukup lama. Mulai tahun 2000 sampai 2010,"ucapnya.
Pada pertengahan 2010 lalu, dia berlibur ke Kota Batu.
Karena berteman dekat dengan Timo Scheunemann, Matias kemudian diajak ke Jakarta untuk berlibur.
Di sana dia bertemu Alfred Riedl yang saat itu menjadi pelatih timnas Indonesia.
Dia berbincang mengenai pelatihan atlet dengan metode fisioterapi.
"Setelah percakapan tersebut, ternyata Alfred cocok. Lalu saya diajak masuk Timnas Indonesia. Saya berada di Timnas kurang lebih lima setengah tahun," ungkapnya.
Selama di Timnas, Matias membantu para atlet Senior, U-23, U-18, dan U-19, baik dalam latihan maupun bertanding.
Beragam cedera juga telah ditandatanganinya.
"Namun untuk cedera berat biasanya setelah mendapatkan pertolongan dari tim fisioterapi timnas, mereka di bawa ke club masing-masing untuk penanganan lebih jauh," katanya.
Matias berhenti dari Timnas pada 2016 silam.
Saat ini dia menjadi coach di Komunitas Lari Adidas Runner Jakarta.
Komunitas tersebut bergerak untuk mempersiapkan atlet-atlet lari.
Dia juga menjadi brand ambassador Adidas.
"Sampai di tahap ini, banyak tantangan yang saya coba. Termasuk mencoba bidang fisioterapi. Oleh karena itu, bagi kawula muda, jangan takut untuk mencoba. Karena kita tak akan tahu bisa atau tidak jika tidak mencoba suatu hal," tutupnya.(*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana