Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjalanan Arief Boediono Menjadi Embriolog di Tanah Air Pelopori Metode Baru, Jadi Headline di Surat Kabar Jepang

Bayu Mulya Putra • Jumat, 19 Juli 2024 | 21:19 WIB
KONSISTEN: Ruang laboratorium sudah diakrabi Arief Boediono sejak 1980-an.
KONSISTEN: Ruang laboratorium sudah diakrabi Arief Boediono sejak 1980-an.

Sebelum dikenal di Indonesia pada 2002, Arief Boediono sudah mendalami program bayi tabung di Jepang. 

Itu dimulai sejak 1997. 

Sebelumnya, dia aktif mengembangkan embrio pada sapi wagyu. 

NABILA AMELIA

Arief Boediono banyak menghabiskan waktunya di laboratorium. 

Dia kerap berkutat dengan pengembangan embrio, atau organisme yang hidup 

pada tahap awal perkembangan manusia atau hewan.

Pekan lalu, Arief bersama tim Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan pertemuan untuk membahas perkembangan penyelamatan Badak Sumatera di Serawak, Malaysia. 

Senin lalu (15/7), Arief juga menyusun embrio kuda. 

Selain badak dan kuda, dia aktif mengembangkan aplikasi embrio transfer untuk sapi Wagyu di Solok, Sumatera Barat. 

Di sela-sela kesibukan mengembangkan embrio hewan, Arief juga memiliki kompetensi lain.

Yakni human embryologyatau ilmu pengembangan embrio manusia. 

Kompetensi itu didapat setelah dia belajar Bioteknologi Teknologi Reproduksi Modern di Fukuoka, Jepang.

Arief tak mengira bila langkahnya menggeluti embrio bakal berjalan jauh. Sebab, selepas lulus dari SMA Negeri 8 Kota Malang pada 1982, lelaki 

yang besar di Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing itu berpikir untuk merantau.

Pilihannya kemudian jatuh ke Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Tidak ada alasan khusus dia berkuliah di sana. Arief 

hanya ingin mencari pengalaman baru di luar Kota Malang. 

Serta belajar mengatur hidupnya sendiri. 

”Saya ingin keluar dari zona nyaman,” cerita dia.

Arief bisa saja meneruskan jejak ayahnya, almarhum Mochamad Soelchan, yang menjadi dokter tentara. 

Namun, lelaki berkacamata itu tidak memilihnya. 

Setelah menempuh pendidikan di IPB, Arief berkesempatan melanjutkan studi magister dan doktor. 

Dia berkuliah di United Graduate School of Veterinary Sciences, Yamaguchi University, Jepang selama 1991 sampai 1996. 

Saat pertama berkuliah di negeri sakura, Arief diminta menjadi asisten laboratorium embriologi. 

Di sana, dia meneliti embrio sapi wagyu. 

Agar bisa dikembangkan, setiap pekan Arief rutin pergi ke rumah potong hewan (RPH) untuk mencari ovarium atau tempat penyimpanan sel telur pada sapi. 

Sekali datang, Arief bisa memperoleh 30 ovarium. 

Isinya sekitar 300 sel telur, yang bisa dikembangkan menjadi 50 embrio dalam seminggu. 

”Ya awalnya para peternak di sana heran melihat saya mulungin ovarium. Tapi saya jelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti,” kenangnya. 

Itu karena setelah disembelih, ovarium sapi dipandang sebagai benda yang tidak berharga. 

Ukurannya hanya sekitar lima sentimeter dengan berat tak sampai 100 gram. 

Namun, di tangan peneliti seperti Arief, ovarium bisa dikembangkan lagi menjadi pedet atau anakan sapi. 

Untuk mengembangkan ovarium sapi Wagyu, Arief menggunakan metode in vitro. 

Yakni metode yang dilakukan di luar makhluk hidup seperti melalui tabung 

reaksi. 

”Jadi saya ambil sel telur dari ovarium untuk dipertemukan dengan sperma. Lalu dibekukan dan dimasukkan ke induk sapi titipan,” terangnya.

Hasilnya, induk sapi melahirkan pedet. 

Setelah mampu mengembangkan embrio untuk satu pedet, Arief mendapat tantangan baru. 

Dia diminta mengembangkan satu embrio menjadi dua bahkan lebih. 

”Batin saya, orang-orang ini kok tidak pernah puas. Tapi ya itu spirit orang Jepang,” ucapnya kemudian terkekeh.

Sebagai langkah awal, Arief mencoba membelah embrio. 

Ternyata dia bisa mendapat dua pedet yang sama persis. 

Metode pengembangan embrio terus dilakukan Arief hingga dia menemukan metode partogenesis. 

Yakni mengembangkan embrio tanpa sperma pejantan. 

Cukup dengan bahan kimia seperti etanol dan sitokalasin. 

Penelitian yang dilakukan Arief sempat membuat gempar. 

Sebab, sapi merupakan mamalia tingkat tinggi, partogenesis kemungkinan bisa diterapkan pada manusia.

Karena keberhasilan partogenesis, surat kabar nasional di Jepang yakni Yomiuri Shimbun sempat memberitakannya. 

Surat kabar tersebut membuat headline dengan judul: Berbahagialah Wanita 

Karier, Bisa Memiliki Anak tanpa Suami.

Namun, Arief diminta menghentikan penelitian dengan metode partogenesis. 

Pada semester pertama, sapi yang menjadi objek penelitiannya diaborsi. 

”Ya memang banyak pro dan kontra pada saat itu,” ungkapnya.

Pada tahun 1997, Arief mulai mempelajari pengembangan embrio pada manusia. 

Dia juga diminta untuk membantu program bayi tabung di klinik fertilitas di Jepang. 

Pengalaman pertama membantu program bayi tabung cukup berkesan bagi Arief. 

Dia ingat, salah satu suster memanggilnya untuk menggendong seorang bayi. 

Rupanya, bayi itu bayi yang dibantu Arief lewat program bayi tabung. 

Saat menggendong si bayi, Arief terharu. 

”Karena kalau di laboratorium kan saya tidak bertemu pasien langsung. Saya juga cepat-cepat cari kamera untuk foto bersama,” ucapnya.

Nama lelaki berusia 60 tahun itu pun semakin dikenal. 

Dalam sebuah pertemuan tahunan di Amerika, dia menjadi satu-satunya peneliti dalam tim dari Jepang. 

Karena itu, saat bertemu sesama peneliti Indonesia, Arief langsung ditawari 

untuk mengembangkan program bayi tabung.

Gayung pun bersambut. 

Pada 2002, bayi tabung mulai dikenal di Indonesia sampai sekarang. 

Kini, embriolog di Indonesia kini sudah bertambah menjadi 150 orang. 

Keberadaan embriolog dan klinik fertilitas itu cukup membantu. 

Dalam program bayi tabung, Arief sekarang terlibat sebagai science director di klinik fertilitas, Morula Indonesia. 

Bedanya, sekarang Arief bisa bertemu dengan pasien secara langsung untuk memberi pemaparan soal embriologi.

Salah satu cerita yang diingat Arief saat ada pasangan yang memiliki tiga embrio. 

Dua embrio kemudian ditransfer agar pasangan tersebut bisa memiliki anak. Namun yang berhasil menjadi anak hanya satu. 

”Lalu saat anaknya sudah beranjak dewasa, keduanya ingin melakukan transfer embrio yang tersisa,” sebutnya. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#embriolog #menjadi #perjalanan #Arief Boediono