Lima Bulan Berlatih, Kibarkan Merah Putih di KJRI dan Federation Square
GERIMIS masih mengguyur Kota Melbourne, Australia, pada Sabtu pagi (17/8).
Padahal waktu sudah mendekati pukul 09.00.
Orang-orang yang berada di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne pun tetap sabar menunggu hujan reda.
Apalagi, upacara pengibaran bendera dalam rangka peringatan HUT Ke-79 RI sudah siap dilakukan.
Di halaman KJRI Melbourne, Sabriza Tauramoza juga sudah siap dengan nampan dengan alas kain berwarna kuning.
Begitu pula 11 orang lain yang menggunakan pakaian dinas upacara (PDU) serba putih.
Mereka mengambil sikap istirahat di tempat.
Tetap tegak sembari menunggu instruksi.
Baca Juga: Beri Contoh, Guru SD Mudel Kota Malang Pimpin Upacara HUT RI
Beruntung gerimis tidak berubah menjadi hujan deras.
Sehingga upacara peringatan HUT Ke -79 RI bisa dimulai.
Upacara itu dipimpin oleh Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania, Kuncoro Giri Waseso.
Upacara berjalan lancar sampai sang saka merah putih berkibar di langit Melbourne.
Selepas upacara, Sabriza tidak bisa menyembunyikan rasa lega.
Sebab pengibaran bendera itu menjadi momen pertama baginya.
Selama ini dia belum pernah menyaksikan pengibaran bendera merah putih secara langsung.
”Tidak hanya saya. Kebanyakan dari kami dulu bersekolah di sekolah internasional yang tidak melakukan pengibaran bendera,” kata mahasiswi jurusan Psychological Science di Deakin University itu.
Selain di KJRI Melbourne, Sabriza juga berkesempatan mengibarkan bendera di Federation Square.
Tempat itu bisa dibilang merupakan ”alun-alun” Kota Melbourne.
Lokasinya tidak jauh dari KJRI.
Hanya sekitar 12 menit atau 5,9 kilometer.
Pengibaran bendera di Federation Square dilaksanakan pukul 16.00.
Kegiatan itu disaksikan lebih banyak orang.
Tidak hanya sesama warga negara Indonesia, tapi juga orang-orang dari negara lain. Federation Square sudah lama menjadi tuan rumah berbagai kegiatan unik.
Baca Juga: Keunikan dan Makna Mendalam di Balik Upacara Kasada, Perayaan Spiritual di Gunung Bromo
Mulai pameran seni, kelas taichi, tempat menonton film, pusat teknologi terkini, hing- ga kegiatan budaya dari berbagai negara.
Setiap tanggal 17 Agustus, Federation Square juga kerap digunakan orang Indonesia untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih.
”Upacara pengibaran bendera di Federation Square terasa berbeda. Kalau di KJRI, kami lebih percaya diri karena sudah latihan berkali-kali di sana dan hafal medannya,” ungkap dia.
Tidak hanya proses pengibaran bendera, Sabriza bersama rekan-rekannya juga menampilkan formasi paskibraka.
Yakni formasi buka dan formasi tutup.
Penampilan mereka di dua lokasi yang berbeda itu berjalan lancar berkat latihan selama lima bulan, sejak April sampai Agustus.
”Yang menjadi tantangan untuk kami adalah saling kompromi. Karena kami memiliki jadwal kuliah yang berbeda-beda,” cerita dia.
Sebelum berlatih, calon anggota pasukan pengibar bendera terlebih dulu diseleksi pada Februari lalu.
Sabriza memutuskan mendaftar seminggu setelah tiba di Melbourne.
Kemudian mereka menjalani tahapan seleksi.
Salah satunya tes fisik yang meliputi push-up, sit-up, dan plank.
Dari sebanyak 30 orang, yang lolos seleksi hanya 12 orang.
Jumlah tersebut hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Namun, dalam perjalanannya memang ada pasukan yang tidak genap 12 orang.
Misalnya, ada yang saat upacara maju dengan formasi delapan orang atau 10 orang.
”Kadang ada yang mengundurkan diri di tengah jalan karena kesulitan mengatur waktu. Pernah juga ada formasi berisi 15 orang, tapi jarang sekali,” sebut alumnus National Leader School tersebut.
Sabriza sendiri hanya kuliah empat hari dalam seminggu.
Waktunya pun pendek.
Setiap Senin, dia hanya berkuliah mulai pukul 09.00 sampai 15.00.
Sementara pada Selasa, Rabu, dan Kamis, waktu kuliah berlangsung pukul 11.00 sampai 13.00.
Anggota pasukan pengibar bendera lain ada yang mengambil program magister.
Kebanyakan kuliah pada malam hari.
”Jujur, saat awal berlatih bersama, kami struggle menyesuaikan waktu. Seiring berjalannya waktu, kami lebih terbuka dan saling merangkul,” imbuhnya.
Pada bulan pertama, latihan hanya berlangsung dua kali dalam seminggu.
Selanjutnya menjelang Agustus, latihan menjadi lebih intens.
Jumlahnya ditambah dua kali, sehingga dalam seminggu mereka berlatih empat kali.
Mereka dilatih langsung oleh angkatan paskibraka sebelumnya.
Baca Juga: Upacara HUT RI Ke-78, UNMER Malang Serahkan Penghargaan Kepada Civitas Akademika Berprestasi
Jumlah pelatihnyasampai enam orang.
Setiap pelatih mengajarkan tingkat kedisiplinan dan memiliki peran yang berbeda-beda.
Ada berbagai materi paskibraka yang diajarkan pelatih selama latihan.
Mulai aba-aba, gerakan PBB (peraturan baris-berbaris) di tempat, gerakan PBB meninggalkan tempat, periksa kerapian, dan lainnya.
”Saat hari pelaksanaan, kami bangun pukul 04.00. Sebagian sampai sudah mandi malam hari. Lalu paginya kami siap-siap,” terang dara berusia 19 tahun tersebut.
Melihat Sabriza bisa tampil dengan sangat bagus, sang mama, Arie Wuryandari Hutomo yang menyaksikan secara langsung merasa bangga.
”Kebetulan, mama saya bekerja di Melbourne. Jadi bisa melihat saya mengibarkan bendera. Mama bilang kalau penampilan kami bagus sekali,” ungkapnya.
Demikian pula dengan papa Sabriza, Arief Prijatna.
Meski menyaksikan penampilan Sabriza secara daring, Arief tetap menyampaikan apresiasinya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana