Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kepala SMK di Malang, Terbitkan Biografi Enam Presiden RI, Satu Masih Menunggu

Bayu Mulya Putra • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 01:00 WIB

PRODUKTIF: Jonar menunjukkan buku biografi tentang Presiden RI Joko Widodo. Biografi tentang lima presiden lainnya juga sudah ditulis.
PRODUKTIF: Jonar menunjukkan buku biografi tentang Presiden RI Joko Widodo. Biografi tentang lima presiden lainnya juga sudah ditulis.

Berangkat dari keluarga petani di Sumatera Utara, Jonar sempat merantau ke Jakarta sebagai kuli bangunan.

Kerja keras dan tekad bulat mengantarkannya menuju pendidikan tinggi.

Kini dia dikenal sebagai kepala sekolah, dosen, dan penulis produktif.

SUDAH ada 60 buku karya Jonar Situmorang yang dicetak penerbit mayor.

Lalu, ada 30 buku lainnya yang kini masih dalam proses dan masa tunggu untuk diterbitkan.

Termasuk satu buku biografi Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Ya, di antaranya puluhan bukubukunya, ada tujuh buku biografi dari presiden RI pertama sampai ketujuh.

Di antara ketujuh biografi itu, hanya biografi SBY yang masih dalam proses penerbitan.

Sementara yang lainnya sudah beredar di toko-toko buku.

Baca Juga: Tulis Biografi Kiai Kampung, Unisma Pecahkan Rekor Muri

Pria yang menjabat sebagai Kepala SMK Kristen Elim, Sukun itu mengawali kegiatan menulis sejak 2004.

Keinginan menerbitkan buku dimulai saat dia datang ke pameran buku dan penerbit.

Saat itu Jonar iseng-iseng bertanya apakah ada kesempatan bagi penulis pemula untuk menerbitkan buku.

“Saat itu ada pihak penerbit yang menjawab bisa,” ucapnya.

Buku pertama yang ia tawarkan ke penerbit berjudul Filsafat dalam Terang Iman Kristen.

Buku itu sebenarnya berasal dari bahan ajar yang dipolesnya.

Perjalanan menerbitkan buku pertamanya itu tak mudah.

Jonar harus melalui serangkaian revisi hingga lima kali.

Itu memakan waktu sekitar tiga tahun hingga akhirnya bisa terbit.

Tantangan menerbitkan buku pertamanya juga tak berhenti di sana.

Sebab, saat itu pria yang juga seorang pendeta tersebut masih menggunakan mesin ketik manual.

Selain itu, dia juga harus menggunakan jasa pos untuk mengirimkan setiap revisi tulisan ke penerbit.

“Saat itu penerbitnya ada di Yogyakarta. Sehingga, memang prosesnya lama,” imbuh pria yang tinggal di Perumahan Araya itu.

Setelah buku pertamanya terbit, dia punya dorongan lebih kuat untuk terus menulis dan menerbitkan buku.

Polanya masih sama.

Baca Juga: Sosok Atlet Bola Voli Pantai Kebanggaan PBVSI Kota Malang, Dua Kali Dipasangkan, Dua Kali Raih Juara Pertama

Dimulai dengan penyusunan bahan ajar yang kemudian dialih wahanakan menjadi buku.

Sebagai guru sekaligus dosen teologi, Jonar lebih banyak menulis buku tentang filsafat dan ketuhanan.

Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai menulis buku umum yakni biografi presiden.

Awalnya, biografi presiden RI pertama hingga ketujuh itu ditulis dalam satu buku setebal 1.600-an halaman.

 Namun, saat diajukan ke penerbit selalu ditolak.

Sebanyak 7 kali naskah itu selalu ditolak.

Mungkin karena terlalu tebal.

Namun, dia tak patah arang.

Akhirnya Jonar memutuskan untuk memecah biografi tersebut menjadi tujuh bagian.

Sehingga, ada tujuh buku biografi untuk setiap presiden RI yang pernah menjabat.

Proses penulisan biografi itu punya tantangan berkali-kali lipat dibanding penulisan buku yang berasal dari bahan ajar.

Sebab, Jonar harus melakukan riset dan wawancara mendalam ke sejumlah tokoh.

Saat menulis biografi Bung Karno, dia pelesiran ke Blitar.

Mulai dari mengunjungi rumah sang proklamator hingga mengunjungi makamnya.

Pria kelahiran 16 April 1971 itu juga melakukan wawancara dengan sejumlah tokoh yang hidup pada masa Bung Karno.

Baca Juga: Pastikan Usung Abah Anton, PKB Kota Malang Mencari Sosok Pendamping

“Beruntung saya bertemu dengan orang-orang yang ingatan dan kemampuan komunikasinya masih baik,” ujarnya.

Itu juga yang dia lakukan saat menulis biografi presiden RI lainnya.

Perlu waktu dua tahun untuk merampungkan biografi tersebut.

 Mulai 2016 hingga 2018.

Jonar kini bisa dibilang sebagai penulis produktif.

 Sebab, tiada hari yang dia lewatkan tanpa menulis.

Dia bisa menulis kapanpun dan dimanapun. Baik di rumah maupun tempat kerja.

 Kini menulis sudah menjadi kewajiban baginya.

Sehingga, jika ada satu hari yang terlewat tanpa menulis, dia akan anggap itu sebagai hutang.

Dalam jangka pendek, pria yang juga menjadi dosen di Sekolah Tinggi AlKitab (STA) Jember itu menarget untuk menulis satu halaman setiap harinya.

Sementara untuk jangka panjang, dia tengah mengejar target 100 judul buku untuk diterbitkan.

 “Ini berarti kurang sedikit untuk mencapai 100 judul buku itu,” imbuhnya.

Target satu halaman setiap hari itu hanya standar minimal sekali baginya.

Baca Juga: Naomi Ackie akan Perankan Film Biografi Whitney Houston

Sebab, setiap kali menulis, Jonar seringkali lupa waktu.

Sehingga, dalam sehari dia bisa menulis lima sampai tujuh halaman.

Ke depan Jonar juga berencana untuk menuliskan biografi presiden terpilih Prabowo Subianto.

Jonar tak pernah membayangkan bisa memiliki banyak judul buku seperti saat ini.

 Sebab, dia tak pernah mengira bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Apalagi orang tuanya yang hanya seorang petani di Sumatera Utara.

Ayahnya hanya lulusan SMP dan ibunya sekolah hanya sampai kelas 2 SD.

Saat sekolah, Jonar juga sudah membantu orang tuanya dengan bekerja di sawah.

Termasuk juga adik-adiknya.

“Karena kami Sembilan bersaudara jadi pasukan kami paling banyak kalau di sawah,” ucapnya jenaka.

Setelah lulus SMA Jonar sempat bertani dengan orang tua selama dua tahun.

Saat itu, benaknya mulai diusik dengan impian yang besar.

 Itulah mengapa dia memutuskan merantau ke Jakarta pada 1993.

Dia menjadi kuli bangunan selama enam bulan di Jakarta.

Baca Juga: Duta Pariwisata Inspiratif Jatim asal Malang, Otodidak Belajar Catwalk via Youtube

Saat itu dia juga mulai aktif di gereja. Sampai ada salah seorang pendeta yang menginspirasinya.

 Hingga dia memutuskan untuk berkuliah di STA Jember jurusan ilmu teologi.

Proses pendidikannya pun tak mulus.

Sebab, dia terpaksa beberapa kali mengambil cuti lantaran impitan biaya.

Jonar saat itu hanya bisa mengandalkan uang dari hasil praktik setiap semester.

Kadang uang yang dia punya cukup untuk membiayai kuliahnya.

Namun, lebih sering kurang.

Sampai masa studi S1-nya baru rampung 1998 silam.

Itu artinya Jonar menyelesaikan program sarjananya selama 7 tahun. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Karya #inspiratif #Biografi #Jonar Situmorang #malang #presiden #Kepala SMK