Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjalanan Agus Susanto Rehabilitasi Pecandu Narkoba di Kota Batu : Ajari Silat, Bantengan, dan Bikin Alat Musik Tradisional

Bayu Mulya Putra • Selasa, 3 September 2024 | 23:00 WIB
PEDULI: Agus Suyanto sudah mendirikan Sanggar Panca Budhi Barata sejak 2008 lalu. Mulai 2019 dia ikut merehabilitasi pecandu narkoba.
PEDULI: Agus Suyanto sudah mendirikan Sanggar Panca Budhi Barata sejak 2008 lalu. Mulai 2019 dia ikut merehabilitasi pecandu narkoba.

Dalam kurun waktu lima tahun, sudah ada 40 orang yang menjalani rehabilitasi narkoba di Sanggar Panca Budhi Barata.

Pendiri sanggar itu, Agus Susanto, turut bekerja sama dengan BNN dan Polres Batu.

PADA suatu malam di tahun 2019, puluhan anggota sanggar Panca Budhi Barata berkumpul di rumah Agus Susanto, yang terletak di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Mereka berkumpul untuk mempersiapkan acara bantengan.

 Di tengah pertemuan itu, enam anggota polisi berpakaian preman mendatangi rumah Agus.

Para polisi tersebut bertanya kepada Agus tentang keberadaan salah satu anggotanya.

Kebetulan anggota yang dimaksud juga mengikuti rapat.

Tanpa basa-basi, salah satu anggota sanggarnya digelandang ke Polres Batu.

 Dia harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait dugaan keterlibatan dalam peredaran narkoba.

Pengalaman tersebut cukup membekas dalam benak Agus.

 Dia tak mengira salah satu anggotanya ditangkap atas dugaan peredaran narkoba.

Dari sana, ayah 6 anak itu mulai mempelajari tentang perilaku dan ciri fisik pecandu narkoba.

Dia belajar ke BNN Kota Batu dan Polres Batu.

Dengan bekal yang cukup, dia bekerja sama dengan BNN, Polres, dan perangkat desa untuk merehabilitasi para pecandu narkoba di sanggarnya.

Dalam proses rehabilitasi itu, fokus para pecandu narkoba dialihkan ke kegiatan kesenian.

”Saya punya anak seumuran mereka (para pecandu). Karena itu saya tak tega melihat mereka salah jalan,” kata pria kelahiran 1971 itu.

Ada beberapa hal yang diajarkan di sanggar Panca Budhi Barata. Pertama dan yang utama yakni belajar seni bantengan dan pencak silat.

Kemudian, membuat alat musik tradisional untuk bantengan, Seperti kendang, gamelan, dan lainnya.

Selanjutnya, yakni mengikuti event-event bantengan di Malang Raya.

Selama lima tahun menangani para pecandu, Agus mengetahui beberapa ciri fisik yang akan terlihat dalam diri seseorang yang menggunakan narkoba.

Mulai dari gestur, sorot mata, kulit tubuh, hingga rambut.

Para pelaku yang sedang direhabilitasi tidak bisa berbohong jika dia kembali memakai narkoba karena ciri-cirinya akan tampak.

Hingga kini, Agus masih aktif untuk melakukan rehabilitasi bagi pengguna narkoba di sanggarnya.

Total, dalam kurun waktu lima tahun, dia telah menangani 40 pecandu narkoba.

Ada yang datang secara mandiri.

Ada juga yang diantar orang tuanya.

 ”Tahun ini ada dua orang yang sedang menjalani rehabilitasi. Keduanya dipastikan telah berhenti menggunakan narkoba,” kata dia.

Ada beberapa kesulitan yang dialami Agus dalam mengawasi para pecandu. Biasanya anak-anak mantan pengguna narkob akan baik dan aktif saat di sanggar.

Namun, saat keluar menemui teman lamanya, biasanya mereka diajak lagi untuk menggunakan narkoba.

”Karena itu, selain mengalihkan fokus para pecandu ke aktivitas seni, hubungan dengan teman-teman pecandu juga harus diputus,” ucap pria berumur 53 tahun itu.

Biasanya, Agus akan meminta bantuan kepada keluarga atau wali dari pecandu untuk mengawasi keseharian di luar sanggar.

Kini, mantan pecandu narkoba yang telah sembuh juga turut membantunya untuk melakukan pengawasan kepada orangorang yang sedang rehab.

 ”Total tersisa 16 orang mantan pengguna yang masih aktif di sanggar hingga kini,” ujarnya.

Tak hanya pelaku narkoba, Agus juga menampung anakanak buta aksara yang ada di Desa Torongrejo.

Anakanak tersebut putus sekolah karena kurangnya biaya.

Di sanggarnya, anak-anak tersebut belajar bantengan.

Juga belajar membuat alat musik, serta belajar membaca tulis.

 Hasilnya, empat anak buta aksara sudah bisa membaca dan menulis.

 ”Saya ingin sanggar ini menjadi tempat bertumbuhnya anak-anak. Agar mereka dapat menyalurkan bakatnya dan terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif,” imbuh dia.

 Sanggar Panca Budhi Barata sendiri mulai didirikan pada 2008.

Mereka rutin berlatih bantengan dan pencak silat setiap hari Rabu dan Kamis.

Dalam satu tahun, ada tujuh bulan yang biasanya penuh dengan order pertunjukan.

Anggota sanggar biasa mendapat fee dari pertunjukan dan pembuatan alat kesenian bantengan. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#rehab #polres #Kota Batu #seni #bnn #narkoba #bantengan