Ada dua produk yang bisa dihasilkan Sih Aji dari mengolah limbah kelapa.
Yakni minyak kelapa dan bungkil kopra.
Dalam sehari ada 4 ton limbah yang diolahnya.
INDAH MEI YUNITA
AROMA kelapa tercium saat memasuki halaman rumah Sih Aji di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung.
Di bagian belakang kediamannya, terdapat hamparan kulit kelapa yang sedang dijemur.
Rencananya, di sana akan dibangun gudang penyimpanan atau pengolahan kulit kelapa.
Terdapat tiga mesin di sana.
Itu berguna untuk memisahkan minyak kelapa dan ampasnya.
Ampas tersebut biasa disebut bungkil kopra.
Itu lah yang akan dijadikan sebagai bahan pakan ternak.
Terdapat dua pegawainya yang sedang mengoperasikan mesin tersebut.
Berawal dari menjadi distributor minyak jelantah, Aji mulai mencoba memproduksi minyak olahan.
Sebelum beralih memproduksi olahan kulit kelapa, dia mencoba mengolah dua bahan baku lainnya.
Seperti kemiri yang kualitasnya rendah dan sisa ikan.
Dia sempat menghasilkan minyak kemiri, namun pemasarannya cukup sulit
Ketika dia mengganti dengan mengolah ikan, hanya bisa menjual tepung ikan yang kandungan proteinnya cukup tinggi.
Sedangkan minyak ikan juga sulit dipasarkan.
Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mencoba mengolah limbah kelapa pada 2020 lalu.
”Kulit kelapa diperoleh dari sisa-sisa di pasar serta pabrik santan kara dan makanan ringan,” ujar laki-laki berusia 44 tahun itu.
Dalam satu hari, dia bisa mengolah 4 ton kulit kelapa.
Awalnya, bahan dijemur hingga kering. Kemudian, dimasukkan ke dalam mesin untuk dipisahkan antara minyak dan bungkil kopranya.
”Dari 4 ton bahan itu menghasilkan 2 ton minyak kelapa. Terdiri dari 1,8 ton bungkil kopra dan 2 kuintal limbah yang dimanfaatkan untuk pembakaran boiler,” lanjutnya.
Dengan demikian, dalam satu hari dia bisa memproduksi sekitar 1,8 ton bungkil kopra.
Jika ditotal, dalam satu bulan produksinya mencapai sekitar 25 sampai 40 ton.
Namun itu tergantung dengan ketersediaan tenaga kerja.
Semakin banyak tenaga kerja, produksinya pun semakin banyak.
Sayangnya, minyak kelapa yang diproduksi belum bisa dikonsumsi langsung.
Jika dipaksakan, makanan yang diolah tersebut bisa menimbulkan aroma kelapa.
Sehingga, memerlukan pengolahan satu kali lagi untuk dapat digunakan sebagai minyak goreng.
Karena itu, minyak-minyak yang diproduksi Aji dipasarkan ke pabrik kosmetik atau sabun di Surabaya.
Ke depan, dia berencana menambah mesin supaya bisa memproduksi minyak goreng sendiri.
Itu berbeda dengan bungkil kopra, yang bisa langsung dijadikan pakan ternak.
Mulai dari pakan untuk sapi, kambing, hingga ikan.
Sebab, bungkil kopra memiliki kandungan protein yang cukup tinggi.
Sekitar 20 sampai 21 persen.
Sedangkan, bekatul padi atau dedak yang biasanya digunakan sebagai pakan ayam atau angsa memiliki protein hanya 8 sampai 9 persen.
”Kebutuhan utama ternak itu protein. Semakin banyak kandungan proteinnya, pertumbuhannya semakin baik,” ucap alumni SMK Negeri 1 Singosari itu.
Karena itu, permintaan bungkil untuk pasar lokal saat ini semakin banyak.
Sebab, masyarakat semakin memahami kandungan protein di dalam bungkil.
Termasuk warga Desa Senggreng yang banyak membudidayakan ikan mujaer.
Saking banyaknya permintaan, produksinya belum mampu memenuhi seluruh permintaan.
Pada 2023 lalu, produk bungkil kopranya sempat dikirim ke Tiongkok sekitar 21 ton atau 1 kontainer.
Harga bungkil untuk ekspor waktu itu sekitar Rp 3.400 per kilogram.
Itu lebih tinggi dibanding harga di pasar lokal sekitar Rp 2.800 per kilogram.
Dengan harga tersebut, Aji mulai sering mengirim produknya ke luar negeri.
Jika ditotal, sudah ada sekitar 120 ton bungkil yang terkirim melalui PT maupun CV.
Akan tetapi, pada 2024 ini, harga bungkil di pasar lokal maupun mancanegara hampir sama.
Yakni Rp 3.600 perkilogram untuk ekspor dan Rp 3.400 per kilogram untuk lokal.
Sehingga, jika ditambah dengan ongkos pengiriman, maka harga di pasar lokal lebih bagus.
Karena itu, Aji memilih untuk fokus di pemasaran lokal.
"Kalau harga di pasar ekspor sudah bagus, kami akan ekspor lagi,” ucap bapak dua anak itu.
Untuk pemasaran di dalam negeri, Aji memiliki berbagai pelanggan tetap.
Seperti peternakan sapi perah yang cukup besar di Kabupaten Blitar.
Juga pembudidaya ikan mujaer di Kabupaten Malang. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana