Anak Desa Harus Dapat Berdaya untuk Desa
PERJUANGAN Puguh yang memilih pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang setelah lulus dari Universitas Udayana, Bali pada 2011.
Dia sempat menemui berbagai kendala.
”Asumsi orang desa saat itu kalau nggak jadi pegawai nggak keren,” tutur Puguh.
Ia juga sempat bingung akan membuka usaha apa karena tidak banyak sumber daya di Wajak.
Namun dengan dukungan keluarga dan istrinya, Puguh mulai membuka toko obat.
Saat itu, Puguh terinspirasi dari sosok temannya yang merupakan sarjana teknik memilih membuka apotek.
Puguh yang merupakan dokter dan pernah belajar terkait farmasi pun mencoba bisnis tersebut.
”Saat itu saya setiap hari harus pulang pergi Wajak-Kota Malang untuk kulak obat, sehari bisa sampai 5 kali,” kenang Puguh.
Karena saat itu tidak ada distributor yang mau mengantarkan obat ke Wajak dengan alasan lokasinya yang jauh.
Namun dengan toko obat tersebut, ternyata banyak masyarakat yang terbantu mendapatkan obat tanpa perlu pergi jauh.
Seiring berkembangnya waktu dan respons masyarakat yang sangat baik, Puguh dan istrinya mengembangkan Rumah Sakit Umum Wajak Husada pada 2016.
Ia menyebut, pelayanan kepada masyarakat yang selalu diutamakan menjadi nilai plus yang selalu dipegang.
Hingga saat ini RSU Wajak Husada memiliki pelayanan yang lengkap dengan 30-an dokter spesialis.
Saat ini masyarakat Wajak tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.
Bahkan pasien yang berobat tidak hanya dari Wajak, tetapi juga dari luar Malang.
Selain RSU Wajak Husada juga sudah berdiri tujuh klinik dan lima apotek di Jatim, bahkan hingga Madura.
Nama Wajak tetap dipakai sebagai nama usaha-usahanya tersebut.
Pada 31 Agustus lalu Puguh baru saja dilantik sebagai Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.
Dengan berbagai capain dan manfaat yang ia tebar kepada masayarakat sekitar, Puguh merasa masih harus memberikan manfaat dalam cakupan lebih luas.
”Karena agar dapat memberikan kontribusi yang lebih luas jadi harus masuk pada sistem pemerintahan,” ungkap Puguh.
Karena sebelumnya, kegiatan sosial seperti pengobatan gratis hingga khitan gratis sudah rutin ia lakukan.
Namun Puguh melihat masih sangat bayak permasalahan di dalam masyarakat.
”Dan itu tidak dapat selesai hanya dengan membagikan satu bungkus nasi saja,” imbuh Puguh.
Ke depannya berbagai program akan terus dilakukan dengan tujuan utama kesejahteraan masyarakat luas.
Berada di titik saat ini membuatnya teringat masa TK dulu.
Ketika karnaval, ia mengenakan kostum dokter yang dijahitkan sendiri oleh ibunya.
”Saya masih ingat, dibuatkan stetoskop dari kawat timba lalu dilapisi selotip,” kenang Puguh.
Ternyata harapan ibunya kala itu benar-benar membuatnya berada di titik saat ini.
Lahir dari keluarga petani tidak menjadikan batasan untuk meraih kesuksesan.
Sehingga, ia mengajak seluruh anak muda yang ada di Indonesia terutama yang berasal dari desa, untuk dapat memanfaatkan sumber daya di desa, dan sukses dari dan untuk desa. (dur/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana