Berawal dari ketidaksukaannya terhadap bahasa Inggris, kini Avin justru mampu mencetak 33 ribu ahli bahasa Inggris. Pria asal Desa Randuagung, Kecamatan Singosari itu juga sudah menguliahkan 125 orang.
Avin Nadhir, 47, berkontribusi besar terhadap daerahnya. Pria asal Desa Randuagung, Kecamatan Singosari itu mendirikan berhasil mendirikan Indocita Foundation. Proyek utamanya membentuk Desa Inggris. Beroperasi sejak 2006 lalu, kini Avin mencetak 33.000 ahli bahasa Inggris. Selain itu, dia juga rutin menguliahkan pengajar Desa Inggris. Setidaknya ada 10-15 pengajar yang dia kuliahkan setiap tahunnya. Semua biaya ditanggung.
Kepada Jawa Pos Radar Kanjuruhan, dia menceritakan awal mula perjalanannya membangun Desa Inggris. Semua berawal dari kehidupan Avin remaja yang tidak menyukai bahasa Inggris. “Dulu saat SMA ada pelajaran bahasa Inggris, saya memilih tak ikut. Beralasan ada kegiatan,” ujar lulusan SMA Negeri Lawang itu.
Setelah menyandang gelar Sarjana Teknik Mesin Unisma, Avin berkeinginan melanjutkan studi ke Universitas Indonesia (UI). Di titik itulah mau tak mau Avin harus belajar bahasa Inggris guna menunjang belajar S2-nya. ”Belajar bahasa Inggris di Pare (Kediri) cuma sebentar,” katanya.
Mulai dari situ dia memahami pentingnya bahasa Inggris. Hatinya pun tergerak untuk membuat yayasan belajar bahasa Inggris gratis, terutama bagi anak-anak SMA yang tak mampu melanjutkan ke kuliah.
Kemudian pada 2006 dia mengawali cita-cita mulianya tersebut. Awalnya Avin merekrut anak-anak kampung Inggris, Pare. “Sepuluh orang saya ajak mengajar gratis ke sekolah-sekolah. Mulai dari SMP dan SMA,” jelas pria kelahiran 1977 itu.
Proses pembelajaran pun dibuat enjoy. Mereka bisa belajar di ruang tamu, teras rumah, hingga teras masjid. Seiring berjalannya waktu, beberapa pengajar mengundurkan diri. "Dari 10 orang tersebut hanya tersisa sat yang bertahan," ucap pria 47 tahun itu.
Kemudian mereka mulai merekrut lagi, karena permintaan sekolah sudah mulai banyak. Berjalannya waktu mereka memutuskan untuk mencetak pengajar bahasa Inggris sendiri. “Kita cetak sendiri dengan belajar di sini selama sembilan bulan,” tutur lulusan S3 Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang (UM) itu
Sempat merasakan sulitnya kuliah, mulai 2010 Avin menawarkan kuliah kepada santrinya. Hingga kini sudah 125 orang yang dikuliahkan secara gratis. “Rata-rata mengambil bahasa Inggris,” bebernya.
Ketika lulus mereka juga dibebaskan memilih bekerja di luar atau tetap membantu di Indocita bila belum dapat pekerjaan. Dengan pengajar yang silih berganti, saat ini ada sekitar 70 pengajar di yayasan tersebut. Berasal dari berbagai wilayah.
Total sudah ada ratusan sekolah yang menjadi mitra dari yayasan tersebut. Mulai dari dalam dan luar kota. Beberapa waktu lalu tim indocita pulang mengajar di Purwakarta, Jawa Tengah. Saat ini mereka juga menyediakan belajar bahasa Inggris gratis bagi warga sekitar. Pembelajaran yang diutamakan ialah speaking.
Ke depan, dia bercita-cita mempunyai gedung sekolah dan asrama yang lebih besar. Sehingga dapat mengakomodasi lebih banyak pemuda yang ingin belajar bahasa Inggris.(iza/dan)
Editor : Mahmudan