SEPINTAS tidak ada yang aneh dengan Jonathan Heber Bravo Tambunan.
Dia sama seperti anakanak pada umumnya.
Namun saat disapa, remaja yang akrab disapa Jojo itu tidak langsung menyahut.
Sebab, suara di sekelilingnya hanya terdengar seperti bising dari sepeda motor.
Jojo baru menoleh jika ada yang menepuk atau menampakkan diri di depannya.
Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak dia berusia satu tahun.
Saat itu, dokter menyatakan Jojo tidak bisa mendengar atau disabilitas rungu.
Dari hasil pemeriksaan, Jojo mengalami kesulitan pendengaran karena ibunya, Agustin Fitri Astutik, terjangkit virus rubella.
Virus yang lebih dikenal dengan campak jerman itu mampir ke tubuh Agustin saat usia kehamilannya dua bulan Kondisi tersebut ditandai dengan kulit kemerahan seperti biduran.
Padahal, Agustin jarang bersentuhan dengan hewan yang berpotensi membuatnya terjangkit virus.
Dia juga tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri.
Setelah itu, dokter meminta Agustin untuk ke laboratorium setiap dua pekan sekali.
Di laboratorium, kondisi darahnya dicek untuk memastikan jumlah virus.
”Sama dokter diberi semacam vitamin untuk mengurangi jumlah virus,” cerita Agustin saat ditemui di kediamannya, di Perumahan Garaya Permai, Sukun.
Dia harus bolakbalik ke laboratorium sampai masa kelahiran.
Dia juga rajin menjaga pola makan dan kebersihan. Semua upaya itu dilakukan bersama suaminya, Rintar Tambunan, agar kandungannya selamat.
Sempat dokter memprediksi Jojo meninggal dalam kandungan.
Sebab, saat terjangkit virus rubella, ibu akan mengalami panas tinggi yang membahayakan kandungan. Kalaupun selamat, Jojo bisa lahir dengan kondisi atau fungsi organ yang tidak lengkap.
Jojo akhirnya lahir pada 30 Maret 2007 lalu dalam kondisi prematur.
Saat itu, berat badannya hanya 2,4 kilogram, dan harus dirawat di inkubator selama beberapa waktu.
Setelah keluar dari inkubator, pertumbuhan Jojo terbilang normal.
Tidak ada masalah pada organorgan vital seperti jantung.
Sebelum satu tahun, dia juga sudah bisa berjalan.
Hanya saja, setiap diajak berbicara, Jojo kurang merespons.
Dia juga sulit diam dan doyan bergerak ke sana kemari.
Tidak hanya itu, Jojo kerap mencoret coret tembok rumahnya.
Asisten rumah tangga yang merawat Jojo sampai kewalahan.
Karena tingkahnya yang begitu aktif, Agustin pernah mengira Jojo menderita autis.
Ibu dua anak itu pun mencoba memberi Jojo alat mewarna dan kertas.
Perlahan, anaknya mulai tertarik dengan alat gambar yang diberikan itu.
Dia mulai fokus membuat berbagai gambar.
Saat usianya dua tahun, Jojo dimasukkan ke sanggar di Jalan WR Supratman, Kelurahan Rampal Claket, Kecamatan Klojen.
Di sana, Jojo tidak kesulitan beradaptasi dan semakin fokus menggambar.
Kebetulan, guru les menggambar Jojo yang bernama Rika memiliki pengalaman dalam menangani anak berkebutuhan khusus.
Namun, anaknya tetap tidak bisa merespons suara.
Karena khawatir, Agustin dan suaminya memeriksakan Jojo ke dokter.
Rupanya benar, Jojo menderita kesulitan pendengaran.
Karena positif mengalami disabilitas rungu, Jojo harus menjalani terapi rutin.
Pada satu tahun pertama, Jojo menjalani terapi di Surabaya.
Dia harus ke Surabaya setiap satu minggu sekali untuk menjalani audiovideo verbal therapy (AVT).
Melalui terapi AVT, dia dibantu memahami sejumlah kosakata.
Saat memasuki usia empat tahun, Jojo didaftarkan untuk masuk TK.
Dia disekolahkan di TK reguler bersama teman teman sebayanya.
”Karena aktivitasnya sudah mulai padat, saya pindahkan terapinya ke RSSA dan terapis di Kecamatan Lawang,” jelas Agustin.
Jojo juga sempat menggunakan alat bantu dengar saat berusia satu tahun lebih delapan bulan.
Meski sudah mendapat terapi dan alat bantu dengar, Jojo masih kesulitan mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah reguler.
Padahal, temanteman maupun guruguru di sekolahnya sangat baik.
Mereka memahami kondisinya.
Kesulitan dalam mengikuti pembelajaran diketahui saat Jojo memasuki SD.
Itu setelah Agustin melihat jawaban jawaban ujian anaknya.
Setiap pertanyaan selalu dijawab Jojo jauh dari esensi pertanyaan.
Dari sana, Agustin akhirnya memindahkan putranya ke SLB.
Di SLB, Jojo bertemu dengan temanteman sesama disabilitas rungu.
Dia jadi semakin aktif dalam bersekolah.
Bahkan, guru-guru di sekolah terkejut saat mengetahui Jojo memiliki kemampuan menggambar.
Karena kemampuannya itu, Jojo sering diminta mewakili sekolah setiap ada lomba menggambar, baik lomba untuk SLB maupun pelajar umum.
Kemampuan Jojo dalam menggambar tidak lepas dari peran Agustin.
Sejak masuk ke sanggar, dia mendorong Jojo untuk mengikuti berbagai lomba.
Itu berlangsung sampai sekarang.
Sekarang Jojo duduk di kelas XI SMA.
Dia tetap bersekolah di SLB.
Sederet prestasi sudah disabet Jojo.
Seperti Juara 1 Lomba Sayembara Desain Disabilitas, Juara 1 tingkat Provinsi Lomba Cipta Komik Strip di FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) 2023, Juara 2 Lomba Desain Grafis di FLS2N 2024, dan banyak lainnya.
”Jojo juga mengikuti magang di CV Caraka untuk membuat desain,” ungkap Agustin.
Karya Jojo juga sempat dibentuk menjadi merchandise.
Berupa gantungan kunci dan kaus oleh Komunitas Omah Gembira.
Karena kemampuan Jojo dalam menggambar, banyak orang tua yang merasa kagum dan ingin anaknya terampil.
Itu memberikan Agustin inspirasi untuk membuka sanggar menggambar di rumahnya.
Sekarang, sanggar itu sudah memiliki 20 murid dari TK sampai SMP.
Tak hanya membuka sanggar, saat ini Agustin sedang membantu Jojo untuk mempersiapkan brand fashion dari karya-karyanya.
”Karena dia kan sudah semakin besar, jadi harus mandiri,” tandasnya. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana