Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Konsistensi Prof Sukir Maryanto Teliti Gejala Bencana Vulkanologi, Pasang Teknologi Deteksi Akurasi Tinggi di Arjuno dan Welirang

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 6 Januari 2025 | 20:20 WIB
MAGDAS: Prof Sukir Maryanto menunjukkan alat pendeteksi bencana vulkanologi yang sudah dipasang di dekat Laboratorium Brawijaya Vulcano and Geothermal Research Center, Cangar, Desa Sumberbrantas.
MAGDAS: Prof Sukir Maryanto menunjukkan alat pendeteksi bencana vulkanologi yang sudah dipasang di dekat Laboratorium Brawijaya Vulcano and Geothermal Research Center, Cangar, Desa Sumberbrantas.

Dampak bencana vulkanologi sangat berbahaya bagi manusia uang hidup di dekat gunung berapi.
Karena itulah, Prof Sukir Maryanto sangat serius memikirkan metode mitigasi melalui bidan keilmuan yang ia miliki.
Salah satunya dengan memasang alat deteksi potensi erupsi bernama Magnetic Data Acquisition System (Magdas).

RORI DINANDA BESTARI

SEBAGAI guru besar di bidang vulkanologi dan geothermal Prof Sukir terus mengabdikan ilmunya agar bisa bermanfaat bagi masyarakat. 

Salah satunya dengan menggabungkan stasiun seismik dengan teknologi Magnetic Data Acquisition System (Magdas) buatan Jepang. 

Seismik hanya mendeteksi gelombang di bumi sementara Magdas bisa sampai luar angkasa. 

Deteksi potensi bencana pun bisa lebih akurat. 

Perjalanan Sukir untuk sampai pada titik itu bukan hal mudah. 

Dia telah melakukan penelitian mengenai Gunung Arjuno-Welirang sejak 2013.

Tiga tahun setelahnya, Sukir mendirikan laboratorium di Desa Sumberbrantas. 

Kemudian pada 2022, Sukir mendirikan Stasiun Seismik di tempat yang sama. 

”Lokasinya sekitar lima kilometer dari puncak Gunung Arjuno Welirang secara horizontal,” papar dosen yang dikenal sebagai mantan penjual dawet itu. 

Oktober 2024 lalu, Sukir berangkat ke Fukuoka, Jepang, untuk mempresentasikan proyeknya selama satu bulan. 

Perjalanan itu ternyata tidak sia-sia. 

Dia berhasil menggandeng beberapa lembaga penelitian untuk memasang alat yang lebih canggih dalam mendeteksi erupsi gunung berapi. 

Alat mitigasi itu bekerja melalui gelombang elektromagnetik yang diberi nama Magdas. 

Kolaborasi internasional tersebut melibatkan International Research Center for Space and Planetary Environmental Science (iSPES) dari Kyushu University dari Jepang dan National Research Institute of Astronomy & Geophysics (NRIAG) dari Mesir. 

”Alat ini merupakan yang pertama dan satu-satunya yang terpasang di Pulau Jawa,” ungkap dia. 

Magdas diklaim dapat mendeteksi potensi erupsi Gunung Arjuno-Welirang. 

Alat itu sangat penting bagi Kota Batu, mengingat letusan Gunung Arjuno-Welirang akan sangat berdampak pada kota wisata tersebut. 

Berdasar pemetaan kawasan rawan bencana (KRB) oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, ada sembilan desa dan kelurahan di Kecamatan Bumiaji yang sangat potensial terdampak. 

KRB yang memiliki risiko tinggi adalah di Desa Sumberbrantas. 

Kawasan tersebut berpotensi terkena awan panas, aliran lava, hingga lontaran batu pijar. 

Sebab, wilayahnya cukup dekat dari Gunung Arjuno-Welirang. 

Untuk KRB kategori sedang berada di wilayah Desa Sumbergondo. 

Ketika terjadi erupsi Gunung Arjuno-Welirang, desa tersebut sangat berpotensi terkena hujan abu lebat, awan panas, dan aliran lava. 

Wilayah Kota Batu yang lain masuk pada kategori KRB ringan. 

Seperti Desa Bumiaji, Bulukerto, Tulungrejo, dan Giripurno. 

Dampak erupsi yang dirasakan wilayah tersebut bisa berupa hujan abu. 

“Meski bukan letusan besar, tetap harus waspada,” kata dosen di Universitas Brawijaya (UB) itu. 

Menurut Sukir, aktivitas gunung berapi juga berkaitan dengan aero climbed yang mampu mendeteksi cuaca di angkasa. 

Karena itu, pemasangan Magdas juga dapat memantau perubahan iklim. 

Itu lantaran keberadaan gelombang magnetik Magdas dapat mendeteksi adanya badai matahari. 

”Alat itu juga sangat sensitif terhadap anomali magnetik di luar angkasa,” lanjut pria yang tinggal di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu tersebut. 

Hingga kini sudah ada delapan Magdas di Indonesia. 

Satu diantaranya dikelola langsung oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

Magdas juga dapat memantau telekomunikasi dan teknologi satelit. 

”Karena mitigasi tak hanya dilakukan untuk potensi bencana, namun juga keberlanjutan kondisi iklim secara global,” imbuhnya. 

Berkat keberhasilan melakukan kerjasama internasional, saat ini Sukir kembali mendapat tawaran untuk pemasangan alat mitigasi baru pada Maret 2025 mendatang. 

Dia berencana memasang sensor magnetometer induksi bekerja sama Nagoya City University, Jepang. 

“Kami sedang persiapkan diri untuk itu, maka harapannya semakin banyak alat yang terpasang akan mampu me mitigasi bencana lebih optimal,” tandas pria berusia 53 tahun itu. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#gunung arjuno #welirang #vulkanologi